03 : Sexy Runaway!

1833 Words
Wanita itu hanya bisa pasrah dalam kukungan nafsunya. Gila! Dia tak pernah melakukan hal segila ini! Bercinta secara liar dengan pria yang baru ditemuinya di toilet resto, sementara suami dan putri kecilnya menunggunya di meja makan! Ini horor banget baginya! Horor yang dinikmatinya dengan gairah terpendamnya. Whitney adalah ibu rumah tangga yang kesepian karena suaminya terlalu sibuk bekerja. Hidupnya sehari-hari hanya berkutat untuk mengurus anak perempuan semata wayang mereka. Leticia. Jadi saat suaminya mengajak pergi, ia sudah membayangkan akan liburan keluarga yang menyenangkan. Kenyataannya? Suaminya sibuk bekerja meninggalkan dia seharian berduaan dengan Letty di hotel. Ini mah, sama saja dengan pindah tempat mengasuh. Whitney memendam ketidakpuasan dalam hidupnya yang membosankan. Itulah yang tertangkap oleh mata tajam Lux alias Rodrigo alias Igo, si gigolo elit. Saat pandangan mereka bertemu, Whitney menatapnya penuh minat meski dibalut oleh etika kesopanan. Tapi Igo dapat melihat gairah dan nafsu wanita itu terhadap dirinya. Sepertinya dia ini sasaran yang tepat! Igo pura-pura berjalan didekat meja mereka sekeluarga dan menyenggol pelan bahu si Nyonya. "I'm sorry," ucap Igo simpatik. Whitney terpaku. Dari dekat cowok ini terlihat lebih tampan, jantan, dan sensual. "Tak apa," balas Whitney, napasnya tercekat saat menyadari diam-diam pria menawan itu menyelipkan sesuatu di tangannya. Ia membuka kertas itu dikala suaminya asik menerima telpon rekan bisnisnya. . I know you interested to me. So do I.. Can we meet at restroom? . Whitney menahan napasnya. Apa ini ajakan perselingkuhan?! Pria itu gila! Apa ia tak melihat ada suami Whitney disini? Tapi mengapa gairah Whitney muncul seketika? Hanya bertemu saja, kan. Mereka tak akan mungkin berbuat apa-apa! Whitney mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan pria itu yang menatapnya penuh arti. Wajah Whitney merona merah saat ia mengangguk samar. Pria itu bangkit sambil menyunggingkan senyum misterius sebelum berjalan menuju restroom. Ya, Tuhan. Dia tampan sekali dan sangat indah. Whitney tak bisa menahan dirinya lagi. "Honey, aku ke restroom dulu. Mendadak perutku sakit," pamit Whitney pada suaminya. "Mommy, Letty ikut," rengek anaknya. "Letty sama Daddy, ya. Mom cuma sebentar. Lagipula tak mungkin Mom meninggalkan Letty sendirian didalam restroom." Untung anaknya tak memaksa ikut dan suaminya tak curiga. Whitney berjalan hingga sampai ke restroom. Ternyata tak ada siapapun disitu! Apa pria itu membohongi dirinya? Ada sekelumit kekecewaan yang menyelinap dalam hatinya. Grap! Mendadak ada tangan yang menarik tubuhnya masuk kedalam restroom. "Aku sudah tak sabar menunggumu, Manis," suara pria itu terdengar berat dan seksi. Whitney makin jatuh dalam pesonanya. Ceklek. Pria itu mengunci restroom. Dan entah mengapa Whitney tak takut sedikitpun. Ia justru penasaran. "Waktu kita tak lama. Sebelum suamimu curiga dan anakmu merengek," ucap pria itu sambil mendekati Whitney dengan gerakan seduktif. Bibirnya yang seksi langsung menyambar bibir Whitney hingga wanita itu membelalakkan matanya dikala kenikmatan ciuman itu memberondong dirinya. Dia mendesah kencang. Whitney tak bisa mengendalikan nafsunya, dia telah melupakan siapa dirinya. Whitney melayani ciuman panas itu semampunya. Mereka terus berpacu dalam permainan hasrat liar. Whitney tak sadar pakaiannya telah acak-acakan dikacaukan oleh tangan nakal pria asing yang menyentuhnya. Dia lupa segalanya, lupa jati dirinya sebelum ini, sebagai istri setia yang bermartabat, sebagai ibu teladan. Pria yang mendekapnya telah mengaburkan akal sehatnya! Bahkan ia tak sadar ketika pria itu menggendongnya dan mendudukkannya di meja wastafel restroom. Rupanya pria itu bersiap menyatukan dirinya. "Celana dalamku masih..." "Inikah yang kau maksud?" goda pria itu sensual. Whitney membulatkan matanya melihat celana dalamnya ada dalam genggaman pria itu. Kapan pria ini melepasnya? Apakah sekarang saatnya? Jantung Whitney berdebar menantinya. Mata Whitney membulat ketika pria itu melakukannya. Astaga, ini hal luar biasa yang pertama kali dirasakannya ... bahkan bersama suaminya dia tak pernah merasakan kepuasan seperti ini! Beberapa saat kemudian setelah ledakan gairah diantara mereka berdua usai, pria itu dengan gentle membantunya memakaikan celana dalamnya dan merapikan pakaiannya. Whitney terduduk lemas diatas wastafel. Pria itu menyerahkan tas tangannya sambil berkata, "thanks for everything you give to me. And sorry for something I stole from you." Whitney tersenyum geli. Pria ini memang telah mencuri hatinya dan kenikmatan tubuhnya. Pria itu mengecup keningnya sebelum meninggalkan dirinya. Dan Whitney merapikan makeupnya sebelum kembali ke meja keluarganya berada. "Kenapa Mommy lama sekali?!" gerutu putrinya menyambut kedatangan Whitney. "Maaf Sayang, Mommy sakit perut." Suaminya memandangnya enggan. "Apakah sudah baikan? Merepotkan sekali mengurus orang sakit didalam kapal!" Whitney tersenyum kecut, “sudah." "Mana tiketnya? Kita harus segera naik kapal!" tagih suaminya. Whitney membuka tas tangannya dan mencari tiket kapal mereka. Tak ada! Wajahnya memucat. Kini ia tahu alasan sebenarnya pria itu meminta maaf! b******n! Pria itu telah mencuri tiket kapalnya! Dan tak mungkin Whitney menceritakan yang sebenarnya pada suaminya. Terpaksa Whitney harus mengarang alasan yang lain. *** Igo berjalan sambil bersiul-siul dengan tas ransel tergantung di pundaknya. Pandangannya berhenti pada beberapa pos pemeriksaan tiket kapal. Tatapan elangnya mencari sesuatu. Ah itu, dia! Dengan tenang Igo mengambil antrian paling pojok kiri. "Hei, Sexy man. Gimana kabarmu? Apa kau sudah menemukan dompetmu yang dicopet orang?" sapa si petugas wanita centil. "Belum. Aku sudah mengurusnya ke kepolisian. Tapi kini aku perlu pergi untuk mengurus bisnisku," sahut Igo simpatik sambil menyerahkan tiketnya. Diam-diam ia meremas dan mengelus lembut tangan petugas wanita itu. Petugas wanita itu tercekat. Masih terbayang olehnya, kenikmatan yang diberikan pria ini tadi pagi. "Tuan... " dia melirik nama dalam tiket dan membacanya, "Tuan Barkas Santiago. Bisa melihat kartu pengenal Anda? " Wajah Igo berubah sendu. "Kau tau alasan mengapa aku tak bisa memberikannya kan?" Petugas itu menghela napas panjang, "baik. Masuklah!" "Thanks, My Dear." Igo pun melenggang kangkung dengan mulus. Sexy runaway-nya sudah dirancangnya dengan licik. Igo ingin mengubur jejaknya dengan pergi kemanapun kakinya melangkah. *** Gwen berdesak-desakan dengan penumpang lainnya yang menaiki kapal. Ia sudah rindu dengan peternakannya, dan terutama ia sudah rindu dengan ketiga monsternya. Meski misinya ke kota belum berhasil seratus persen, Gwen cukup puas. Nyonya Shasa berjanji akan mengunjungi peternakannya untuk meninjau apa dia bisa ikut berinvestasi. Jadi, ada harapan peternakannya bisa diselamatkan. Tiba-tiba tatapan Gwen terpaku pada sosok gagah yang berjalan didepannya. Itu si gigolo narsis, kan? Ah, mungkin dia salah lihat! Gwen menghibur dirinya sendiri. Dia tak ingin saat pulang nanti, ada aibnya yang ikutan balik ke desa! Ya, gigolo itu adalah aib bagi Gwen. Bagaimana ia bisa menyerahkan dirinya bulat-bulat pada gigolo kurang ajar itu?! Meski saat itu Gwen sedang mabuk, tapi tetap saja kelakuannya tak dapat dibenarkan sama sekali! Mudah-mudahan bukan dia! Doa Gwen dalam hatinya. Di desanya, Gwen terkenal sebagai single parent tiga anak yang tangguh mengurus peternakannya sendiri. Dan dia dihormati karena sikapnya yang lurus dan amat menjaga martabatnya. Gwen khawatir imagenya bisa hancur gegara kehadiran gigolo itu di desanya! Tapi tak mungkin! Buat apa juga tuh gigolo pergi ke desa terpencil. Dia kan lebih berpotensi bila berada di kota besar. Gwen agak lega dengan pemikiran logisnya itu. *** Napas Igo tercekat saat mengenali pembunuh yang menginginkan nyawanya. Sial! Buat apa b******n itu ada di kapal? Kerja intelnya sangat luar biasa hingga bisa tahu Igo disini. Igo harus menyembunyikan dirinya! Kebetulan dekat dengannya ada tas yang terbuka, sekilas melihatnya ... ada baju pastur didalam tas itu. Mrndadak Igo memiliki ide gila. Dia menyambar jubah pastur itu dan membawanya masuk ke dalam toilet yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Igo segera memakai jubah pastur yang dicurinya. Saat keluar dari toilet, sialnya ia berhadapan langsung dengan si pembunuh. Igo sontak menundukkan wajahnya dalam-dalam. "Sore, Pater," sapa pembunuh itu. Igo mengangguk dan buru-buru meninggalkan pembunuh itu. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, si pembunuh itu berteriak kencang. "Tunggu! Biarkan aku melihat wajahmu, Pater!" Mampus! Igo tahu kedoknya telah terbuka. Ia berlari secepat mungkin. Pembunuh itu segera mengejarnya. Igo sempat merobohkan beberapa drum minyak untuk menghalangi pembunuh itu. Itu membuatnya memiliki waktu untuk mencari tempat persembunyian. Igo membuka salah satu kamar di kapal yang lupa dikunci penghuninya. Dia bersembunyi diantara sela lemari dan tembok kamar. Rupanya sang penghuni kamar sedang mandi. Mata Igo terbelalak nyaris tak percaya saat melihat siapa orang yang keluar dari dalam kamar mandi di kamar itu. Wanita sombong itu lagi! "Ah, apa aku lagi-lagi lupa mengunci kamar?" keluh Gwen. Ceklek. Gwen mengunci pintu kamarnya. Igo menatap tanpa kedip saat perlahan Gwen melepas bajunya satu persatu. Jantungnya berdebar liar. Aneh, dia sudah biasa menelanjangi dan melihat cewek telanjang. Mengapa melihat Gwen menelanjangi dirinya sendiri, ia jadi tegang? Lagipula, ia sudah pernah melihat Gwen telanjang saat mereka bercinta malam itu. Tapi sepertinya Igo kecanduan melihat tubuh dan kecantikan gadis itu. Igo mendesah kecewa, ternyata Gwen masih tetap memakai bra dan celana dalamnya. Kenapa ia tidak tidur telanjang bulat saja? Gwen naik ke ranjangnya dan menyelimuti dirinya. Beberapa saat kemudian Igo keluar dari tempat persembunyiannya setelah yakin Gwen udah tertidur. Ia mendekati Gwen dan memandang wajahnya yang terlelap. Sangat menggemaskan! Tanpa bisa menahan hasratnya, Igo mengecup lembut bibir Gwen. Gadis itu masih tertidur. Bahkan ia tersenyum lembut seakan sedang bermimpi indah. Hal itu membuat keberanian Igo terbit. Ia menyingkap selimut Gwen. Igo jadi leluasa memandang tubuh indah gadis itu, lalu ia menyentuhnya lembut di bagian d**a. Gwen diam saja. Igo makin kurang ajar. Dia mendekatkan wajahnya ke d**a Gwen dan menjilatinya. Tak sadar, Gwen melenguh. Apalagi saat Igo menyesap dadanya hingga meninggalkan bekas merah disitu. Gwen mendesah dan bergerak gelisah dalam tidurnya. Enough Igo! Gadis ini bisa terbangun. Igo memperingatkan dirinya sendiri. Ia bergegas keluar dari kamarnya sebelum akal sehatnya menguap. Dari luar kamar Gwen, Igo mengeluarkan senjata andalannya. Sebilah kawat tipis nanun kokoh seperti jepit rambut. Ia memakai alat itu untuk mengunci kamar Gwen dari luar. Igo masih punya hati nurani untuk tak membiarkan ada orang masuk saat gadis itu tidur pakai dalaman aja. Igo berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba pandangannya menangkap sosok mencurigakan di dek belakang kapal yang sepi. Bukannya itu si Pembunuh? Siapa yang didekatinya dengan cara mengendap-ngendap seperti itu? Igo menatap ngeri saat melihat si pembunuh mendorong sosok yang memakai jubah pastur sepertinya ke laut. Sosok malang itu melayang terjun bebas kebawah dan langsung ditelan oleh kegelapan air laut dibawahnya! Igo menyadari satu hal. Si pembunuh mengira sosok itu adalah dirinya! Sosok itu tadi berdiri membelakangi dirinya dengan bertumpu pada pagar dek kapal. Pembunuh itu melihat dari belakang saja. Dia tak melihat wajah sebenarnya orang yang didorongnya. Tapi tak lama dia bisa mengetahui kesalahan yang dibuatnya bila suatu saat bertemu Igo di kapal. Igo berpikir cepat. Ini kesempatan terbaiknya untuk melenyapkan musuhnya! Si pembunuh masih melongok kebawah untuk memastikan korbannya tak muncul lagi ke permukaan . Igo perlahan mendekati pembunuh itu dan dengan cepat mendorongnya kebawah. Pembunuh itu meluncur kebawah tanpa daya. Saat ia menoleh keatas, matanya membelalak shock mengetahui siapa yang mendorongnya. "Bubay, Killer!" kata Igo dingin. *** Kapal itu berlabuh tepat waktu. Para penumpang pun mulai berdesak-desakan keluar dari kapal. Igo sengaja menunggu suasana sepi barulah ia turun dari kapal. Ia tak ingin wanita sombong itu, si Gwen, berjumpa dengannya dan mengenali penyamarannya. Yah, ia harus tetap bersembunyi hingga keadaan aman. Hingga pihak yang memburunya yakin ia sudah tiada. Igo turun tetap memakai jubah pasturnya. Sesampainya di tepi dermaga, seorang pria paruh baya menyapanya dengan hormat. "Pater Hilarius?" Igo tersenyum penuh kasih. "Iya Bapak. Saya Pater Hilarius." Dan kehidupan baru Igo, si Lux gigolo elit baru aja dimulai! Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD