"Sebenarnya, kita ini apa Lin?" tanya Julian ragu, dia takut kehilangan Aline sebagai sahabatnya, tapi dia juga menginginkan Aline disisinya. Cinta memang terkadang egois.
"Maksudmu?" tanya Aline bingung. Sepertinya Julian masih setengah sadar. Dia tidak sepenuhnya terbuka matanya mengucapkan kalimat itu. Aline memang pernah merasakan bahwa lelaki itu memiliki rasa dengannya, tapi Aline memilih untuk diam dan tak menanyakan kebenarannya. Karena bagi Aline dekat begini saja sudah cukup dan dia sangat bersyukur.
"Ah, tak apa aku hanya ...,"
Handphone Aline berdering dan dia segera bangkit dari tidurnya dan mengangkatnya, tertera jelas nama Dimitri di layar handphone Aline.
"Selamat pagi Pak," ucap Aline sopan.
"Pagi? Kamu tidak punya jam?" ucap Dimitri sengit.
"O-oh maaf pak, Se-selamat siang."
"Email kamu aktif atau mati sebenarnya?" tanya Dimitri ketus.
"Aktif Pak," ucap Aline.
Belum sempat Aline bertanya lagi, telepon Dimitri putus. Aline menghentakkan kakinya kesal dan Julian hanya tertawa kecil melihat Aline.
"Kenapa?" tanya Julian ketika Aline kembali merebahkan diri di kasurnya.
"Pak Dimitri! Menyebalkan!"
"Apa kamu mau aku memecatnya?" tanya Julian. Yah, memang Julian CEO perusahaan yang bebas menentukan dan memecat karyawan sesuka hatinya. Dia pun jarang ke kantor dan memilih mengerjakan semuanya di apartemennya. Tapi Aline tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan Julian meski dia dekat dengannya.
“Tidak, untuk apa?”
Tak lama Aline mendapatkan notifikasi dari emailnya, berisi pesan dari Dimitri, dengan cepat dia membukanya dan matanya seketika berbinar, ternyata dia diterima bekerja di perusahaan Julian.
“Yaampun! Pak Dimitri memang penuh misteri!” pekik Aline.
Julian segera bangkit dan mengintip layar hanphone Aline, disana muncul email pemberitahuan jika Aline diterima di perusahaan itu.
“Wah selamat Aline!”
Gadis cantik itu segera memeluk Julian erat dan lompat-lompat, dia sangat senang bisa bekerja dengan Julian. Walau sebenarnya Julian lah yang membantunya untuk masuk di perusahaan dia, rasanya Julian ingin terus di dekat Aline. Julian memberikan pelukan hangat serta kecupan di kening.
“Jul, aku belum mandi, apa tidak bau asem?” tanya Aline kepada Julian yang memeluknya erat.
“Sedikit, tapi baunya membuatku nyaman,” ucap Julian lalu membelai pipi Aline. Seketika pipi Aline merah merona dan malu. Dia lalu melepaskan pelukan Julian dan berlari menuju kamar mandi. Melihat reaksi Aline, Julian tertawa kecil. Dia lalu menelpon Dimitri untuk berterimakasih. Hubungan mereka adalah saudara sepupu. Julian sangat menyukai cara kerja Dimitri, dia selalu bisa bekerja profesional dan terkadang menolak permintaan Julian yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia pekerjaan. Istri Dimitri telah meninggal beberapa tahun lalu sebelum anaknya lahir, semenjak kehilangan istrinya dia berubah menjadi pribadi yang lebih tegas.
“Halo? Kak Dimitri?” ucap Julian menyapa sepupunya. Mereka dulu kecil sangat sering bermain bersama dan melakukan hal yang menyenangkan. Apalagi sejak SD mereka selalu berangkat sekolah bersama, hanya saja beda umur mereka dua tahun, jadi Julian masih kelas satu, Dimitri kelas tiga. Mereka seperti adik kakak. Keduanya sama tampan dan mempesona.
“Oh Halo Jul, tumben sekali telepon, ada apa?” Dimitri masih asik menyisir rambut anak perempuannya, hari ini hari libur kerja, tentu saja anaknya meronta meminta liburan dengan ayahnya.
“Aku hanya ingin berterimakasih Dim,” ucap Julian. Dia bisa mendengar suara anak Julian dari seberang sana. Terdengar anaknya yang mengomel karena ayahnya melepas kucir rambutnya.
“Terimakasih? Untuk apa?” tanya Dimitri.
“Terimakasih karena menerima Aline,” ucap Julian tertawa kecil, menyebut nama ‘Aline’ saja sudah membuat hatinya berdebar tak karuan. Seperti jantungnya tersengat aliran listrik yang membuatnya geli seketika.
“Dia memang pantas mendapatkan posisi itu Jul, selamat ya untuk Aline,” ucap Dimitri. Dari segi CV dan wawancara singkat kemarin Dimitri dapat melihat jelas pribadi Aline yang sangat berbeda dari pribadi perempuan lainnya, apalagi pertemuan di kolam renang yang tidak disengaja waktu itu. Aline termasuk orang yang berani menceramahi Dimitri meski dia adalah atasannya. Belum pernah dia menemukan sosok seperti Aline, kebanyakan orang malah segan kepada Dimitri bahkan ada yang menjilatnya atau memberi suap untuk diterima di perusahaan.
“Oh begitukah? Baiklah, hanya itu yang mau aku sampaikan, terimakasih ya untuk semuanya. Kalau begitu aku tutup telponnya, selamat berlibur dengan anakmu,” ucap Julian.
“Sama-sama Julian, kapan kamu akan menikah? Kita bisa jalan-jalan bersama.”
“Soal itu masih nanti sajalah Kak, aku malas sekali memikirkan menikah,” ucap Julian tertawa lalu mengucapkan salam dan menutup telponnya.
Aline keluar dari kamar mandi, dia sudah rapi dan cantik, polesan tipis bedak dan lipstik menambah kesan manis di wajahnya. Aline lalu melemparkan handuk bersih kepada Julian dan menyuruhnya mandi.
“Tidak mau memandikan aku?” goda Julian mengedipkan matanya.
Aline memukul pelan Julian dan tertawa, “Kalau aku memandikanmu bisa-bisa kita di dalam kamar mandi sampai malam.” Mendengar itu Julian malah merinding sendiri, senjata makan tuan, niatnya menggoda malah dia yang tergoda. Dia buru-buru masuk kamar mandi dan menguncinya, menetralkan detak jantungnya.
Aline menuju dapur dan membuka kulkas, rupanya masih kosong dan belum ada apa-apa. Dia memilih berjalan ke supermarket dan membeli beberapa sayuran dan buah, tidak lupa juga roti dan daging. Entah kenapa dia ingin belanja banyak. Rasanya tinggal bersama Julian adalah hal yang menyenangkan dan tidak membuatnya kesepian.
Aline menuju dapur dan mulai memotong sayuran dan buah, dia sangat pintar memasak sup dan makanan rumahan, tinggal sendiri membuat dia terlatih memasak apapun, meski biasanya pelayannya yang memasak, tapi jika mereka pulang kampung seperti ini, dia sendiri yang memasaknya. Aroma wangi ayam goreng serta sup menyeruak di seluruh ruangan, Julian lalu turun tergesa-gesa. Dia masih shirtless setelah mandi, air pun masih melekat di tubuhnya.
“Woow, aku jadi sangat lapar,” ucap Julian. Aline membalikkan tubuhnya menoleh menatap Julian, dia begitu terkesima akan tonjolan otot Julian yang sangat menawan. Dia begitu tampan dan mempesona. Membuat Aline kesulitan menelan ludah.
“Eh, awas gosong!” ucap Julian. Aline lalu tersadar dan membalik ayam gorengnya, untung saja belum gosong menghitam. Masih sedikit kecoklatan.
“Kamu pakai baju sana!” ucap Aline. Tonjolan otot Julian pasti ada karena dia rajin melakukan gym dan memakan makanan sehat, apalagi Julian memiliki usaha gym di dekat rumahnya.
Julian hanya terkekeh tersenyum menggoda Aline, lalu maju mendekati Aline.
“Mau kamu pegang tidak?” goda Julian berbisik dengan Aline. Jujur saja Aline sangat malu dan wajahnya memerah mendengarkan Julian.
“TIDAK! SANA PERGI!” teriak Aline kesal. Julian berlari menuju kamar sebelum Aline mengamuk.
Dengan berusaha sekuat tenaga Aline mengatur napas dan debaran jantungnya, selama ini dia menganggap Julian hanyalah sahabat tapi makin kesini dia melihat Julian makin menginginkan Julian menjadi pendamping hidupnya, entah kenapa dia malah ingin memeluk Julian erat. Apalagi Julian adalah lelaki baik dan bertanggung jawab, Aline menjadi gusar, tetap menjadikannya sahabat atau malah menjadi kekasih?