Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan keadaan Nisa baik fisik maupun psikis berangsur-angsur semakin membaik. Sejak mengalami kejadian itu, Nisa selalu ketakutan dan histeris jika melihat mobil berwarna hitam dan ikat pinggang celana pria yang pangkalnya terdapat besi persegi. Pernah tanpa sengaja, Nisa melihat ikat pinggang milik Pak Dadang yang menggantung tak jauh dari ruangan kotor tempat mencuci pakaian. Nisa yang sedang berjalan ke sana untuk mencuci pakaian, seketika berteriak histeris dan menangis terisak di sudut ruangan menekuk tubuhnya sambil memohon ampun. Nisa mengalami trauma karena kejadian yang dialaminya. Sejak saat itu, Pak Dadang tak lagi menggunakan ikat pinggang dalam bentuk dan bahan apapun termasuk putra sulungnya.
Keluarga besar Pak Dadang dan warga sekitar tak mempermasalahkan kehadiran Nisa yang tanpa identitas jelas di daerahnya tersebut dan justru menerima Nisa dengan tangan terbuka dan tak pernah membahas kejadian yang menimpanya serta menganggap hal tersebut tak pernah terjadi. Tak sedikit pun mereka mengungkit atau berguncing tentang latar belakangnya, apalagi mencibir hina karena menajdi korban pemerkosaan tragis.
Selain itu, dibalik wajahnya yang memang sangat cantik dengan kulit putih susa dengan rona merah alami di bagian pipinya, Nisa memang dikenal warga sebagai gadis yang baik, rajin dan supel. Nisa tak pernah sungkan menyapa dan membantu orang yang ditemuinya jika membutuhkan bantuannya.
Pak Dadang adalah seorang lurah di Desa Sukatenang dan sudah menjabat selama tiga periode. Walau sudah menjabat lama, Pak Dadang dan keluarganya hidup sederhana serta sangat memperhatikan kesejahteraan warganya. Karena hal itu, Pak Dadang sangat disegani dan dihormati karena mencontohkan hal-hal positif kepada warganya juga dermawan. Sebelum menjabat menjadi kepala desa, keluarganya memang sudah kaya sejak dulu karena memiliki perkebunan teh yang sangat luas di beberapa tempat serta perkebunan palawija yang tumbuh sangat subur nan melimpah. Hal itu tak membuat Pak Dadang menjadi besar kepala dan gila hormat, dia tetap rendah hati dan menyayangi terhadap sesama. Buktinya nyata adalah keberadaan Nisa, si gadis malang yang kini dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri dan mendapatkan kasih sayang melimpah dari seluruh anggota keluarga.
Waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi, seorang gadis berambut panjang yang dicepol ke atas dengan dress berwarna biru langit terlihat memasuki rumah membawa sekeranjang sayuran di tangan kanannya. Dia adalah Nisa yang baru saja pulang dari pasar memberi kebutuhan memasak hari ini bersama Bik Iyem, pembantu yang sejak lama mengabdi di keluarga itu. Mereka melangkahkan kakinya cepat menuju ke dapur yang berada di sisi paling belakang rumah besar tersebut, dan tampak Buk Neneng sedang memotong sayuran segar yang diambilnya dari kebun di belakang rumah hasilnya menanam bersama Nisa selama ini.
“Buk!” seru Nisa yang menghampiri Buk Neneng sambil tersenyum riang.
“Ah! Sudah pulang rupanya?” jawab Buk Neneng melihat kedatangan putri cantiknya yang kian hari semakin cantik nan mempesona.
“Iya, untung tadi cepat-cepat ke pasar. Kalau telat, ayamnya pasti sudah habis. Iyakan, Bik?” tutur Nisa jelas sambil meletakkan plastik hitam berisi 2 ekor ayam yang sudah dipotong kemudian dituang ke wadah besar untuk segera dicuci.
Bik Iyem yang mengekori Nisa hanya mengulas senyum mendengar celoteh Nisa panjang lebar termasuk Buk Neneng.
“Kalau sampai kehabisan, bisa-bisa Nisa gagal bikin ayam goreng kesukaan Kak Pian,” lanjutnya lagi yang kini sedang menyalakan keran air.
“Oya, tadi Kak Pian telephone loh, kalau sejam lagi akan sampai,” tutur Buk Neneng yang memang belum lama mendapat telephone dari Sopian.
“Hah? Sejam lagi, Buk? Aggghhhh … Nisa harus cepat-cepat kalau begitu masaknya,” sahut Nisa yang mendadak panik karena dikejar waktu.
‘Pranggggggg’
Bunyi panci berbahan aluminium jatuh karena Nisa yang tergesa-gesa mengambilnya.
“Pelan-pelan, Nak!” pinta Buk Neneng melihat panci yang tergolek tak berdaya di lantai.
“Hehehe … maaf.”
Sopian Fraginanto adalah putra tunggal Pak Dadang yang sebentar lagi akan lulus kuliah di Jakarta. Hari ini, dia akan pulang ke rumah karena sidangnya baru saja selesai kemarin dan tinggal menunggu hari wisuda. Tepat seminggu setelah Nisa ditemukan, Sopian pulang ke rumah dan terkejut mendapati seorang gadis cantik namun penuh luka sedang duduk termenung di ruang keluarga. Sopian menatapnya iba dan hatinya bergemuruh hebat menahan kesal ketika kedua orangtuanya menceritakan siapa Nisa dan hal apa yang telah menimpanya. Menatap Nisa yang masih terlihat muda dan tentu lebih muda darinya, membuat Sopian teringat akan adiknya yang telah meninggal, jika masih hidup pasti seusia Nisa, dan tumbuh menjadi gadis yang cantik. Desiran hangat menyapa hati Sopian dan membuatnya langsung jatuh hati pula dengan Nisa yang kini dianggapnya sebagai pengganti adik kecilnya yang telah meninggal tersebut. Hati Sopian pun menaruh benci kepada orang yang menyakiti Nisa dan ingin mencari keberadaanya untuk membuat perhitungan. Layaknya seorang kakak, Sopian selalu membawakan oleh-oleh saat pulang ke rumah. Boleh dikatakan, Nisa mendapatkan 100 % kebahagiaan dan kasih sayang dari keluarga angkatnya itu.
Di sela kesibukkan tiga orang wanita beda generasi yang sedang asik memasak di dapur, terdengar suara mobil dari pekarangan rumah. Dengan senyum mengembang, Nisa beranjak meninggalkan dapur dan melangkah ke depan rumah. Seorang pria tinggi juga tegap, dengan jeans hitam beserta kaos putih membalut tubuh atletisnya berjalan ke arah Nisa dengan senyuman lebar.
“Kak!”
“Assalamu’alaikum,” ucap Sopian.
“Walaikum Salam,” sahut Nisa dan Buk Neneng yang baru datang menyusul.
Nisa langsung mencium tangan Sopian lalu merangkul tangannya sedang Sopian langsung mencium tangan kanan ibunya.
“Capek?” tanya Buk Neneng.
“Sedikit, Buk,” sahut Sopian.
“Nisa sudah bikin es kopyor loh buat Kak Pian, enak loh!” beo Nisa dengan raut bahagia.
“Oya?”
“Iya dong! bikinnya ajah pake cinta,” jawab Nisa yang dibalas kekehan Sopian.
“Hahaha … iya iya. Cepet ambilin kalau gitu. Kakak haus banget nih!” seru Sopian sambil mengelus lehernya pertanda haus yang disambut Nisa dengan langkah seribu menuju dapur.
“Anak itu bener-bener deh!” gumam Buk Neneng geleng-geleng.
Sopian hanya tersenyum dan hal itu sudah biasa karena memang itulah sifat Nisa. Sopian melenggang masuk ke rumah kemudian duduk di ruang keluarga bersama ibunya.
“Bapak dimana, Buk?” tanya Sopian setelah menyadari tak ada tanda-tanda keberadaan Pak Dadang.
“Bapak sedang di kebun karena hari ini sedang ada panenm tapi sebentar lagi akan pulang katanyam” sahut Buk Neneng.
“Hmmm .... ”
Tak berapa lama, Nisa pun datang membawa es kopyor penuh cinta buatannya special untuk sang Kakak.
“Nih, Kak!” ucap Nisa sambil menyerahkannya ke Sopian yang mendongak kaget.
“Gede amat gelasnya, dek!”
“Biar kenyang, ‘kan capek dari jauh bawa mobil,” sahut Nisa benar kalau bicara.
Sopian pun langsung meminumnya karena memang dia sangat haus.
“Gimana?” tanya Nisa.
“Enak … manis kaya lihat cewek seksihhh!”
“Apaan sih, Kak Pian!”
“Hahahaha ....”
Mereka pun berbincang sambil sesekali terdengar gelak tawa yang mengisi rumah tersebut. Bahagia bukan?
“Dek! Kamu ingin kuliah gak?” tanya Sopian tiba-tiba.
Nisa yang ditanya mendadak menatap Sopian dengan wajah seolah tak mengerti.
“Hah?”
~Bersambung
07 April 2020/10.12