MAP 23

1774 Words

Di dalam mansion anggrek yang tidak jauh dari mansion Asya. “saya rasa sebaiknya kita melapor pada Tuan Besar Hagar” “NO!! Jangan katakan apapun pada orangtuaku” “tapi Nona..” “biarkan aku mencerna dulu semua ini.. Jangan lakukan apapun sampai aku memerintahmu! Beri aku waktu Bastian..” Amira melangkah perlahan menuju salah satu kamar di mansion itu. Pandangan matanya kosong dan berembun tebal. Duduk bersandar di punggung ranjang memeluk ke dua kakinya. “apa ini nyata?" "No, ini pasti hanya mimpi gila ku. HAHAHAHA” Amira tertawa dan menangis di waktu yang sama. Amira berusaha menyangkal semua yang baru saja dia dengar dan lihat dari laptop yang terhubung dengan kamera penyadap di dalam mansion Asya. Begitu sakit dadanya saat ini. Amira merasa hidupnya benar-benar hancur. Impiannya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD