"Apa yang akan kau lakukan pada Elena?" Lucian menyilangkan kedua tangan di d**a, ia tidak mengira Reegan benar benar membawa gadis itu kembali ke kehidupannya.
"Bukan urusanmu." Jawaban Reegan membuat Lucian berubah suram.
Reegan melirik sekilas, sedikit membungkukkan badan mengambil segelas wiski di atas meja. "Kau kasian padanya?."
"Gadis itu tidak bersalah, untuk apa kau membalaskan dendam pada gadis yang tidak tahu apa apa."
Reegan menyecap wiski, melirik Lucian sekilas. Ia meletakkan gelas di atas meja.
"Dia tidak aku penjara, bahkan gadis itu aku letakkan di kamar pribadiku."
"Sahabatnya sudah melaporkannya ke pihak berwajib, dan sekarang gadis itu sedang dicari."
Reegan tertawa, ia berdiri sekilas menatap Lucian lalu berjalan mendekati jendela. Ia berdiri menatap keluar dari kaca jendel dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya, lalu menoleh kebelakang menatap Lucian. "Gadis itu sangat penting buatku." Reegan balik badan menyenderkan tubuhnya di jendela menatap Lucian.
"Reegan kau masih ingat?" Lucian menelan ludahnya. "Elena bukan wanita yang dulu pernah menghancurkan proyek dan keluargamu."
Ucapan Lucian membuat Reegan geram. Ia balik badan menatap keluar jendela. "Kau tidak perlu mengingatkanku akan peristiwa itu, dan kau tidak perlu mendikteku." Reegan balik badan lalu berjalan ke arah pintu. Ia menghentikan langkahnya di depan pintu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya." Reegan membuka pintu, ia langsung keluar.
Lucian menghela nafas panjang, lalu mengembuskannya perlahan ia tersenyum sinis, tangannya terulur mengambil gelas wiski di atas meja, lalu memainkannya sesaat sebelum menyecapnya. "Kalau kau bersikeras, aku akan jadi batu sandunganmu Reegan." Lucian tertawa kecil ia menyecap wiski. lalu ia letakkan kembali di atas meja.
Siapapun tidak bisa menghalangi keinginannya, meski Reegan sendiri maka ia akan melawannya, tidak boleh satu pun yang melukai Elena kecuali dirinya sendiri.
****
Elena bangun dari tidurnya, perlahan ia membuka mata untuk menyesuaikan dengan pencahayaan. Ia duduk di tepi tempat tidur menatap sekitar kamar. Elena sadar ia berada di kamar yang sama ketika ia di culik dua bulan yang lalu. Selama ini ia sudah mempersiapkan masa depannya dengan beberapa rencana yang sudah ia susun. Selain bekerja Elena juga akan mengikuti kursus bahasa inggris dan komputer supaya ia mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia berfikir bahwa orang orang itu sudah melupakannya tapi ternyata dugaannya salah. Elena bertekad untuk melawan kali ini ia tidak ingin lagi diperbudak rasa takut.
Ceklek suara pintu dibuka, Elena menoleh ke arah pintu. Melihat seorang wanita paruh baya mengenakan seragam asisten rumah tangga, wanita itu membawakan Elena gaun berwarna merah tua." Nona, tuan Reegan menunggu anda dibawah dalam lima belas menit, nona di minta menemaninya makan malam." Lalu wanita itu meletakkan gaun itu diatas tempat tidur.
"Terima kasih." Elena menatap gaun itu, lalu beralih menatap wanita itu yang tengah memperhatikannya dan tersenyum pada nya, setelah itu dia balik badan meninggalkan Elena. "Memang siapa dia, berani berani mengatur." Elena berdiri melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia berniat untuk berendam untuk melepaskan kepenatan fikirannya.
***
Entah sudah berapa lama Elena berendam didalam bak mandi raksasa, iaa belum memutuskan untuk beranjak dalam bak mandi itu meskipun badannya sudah merasakan dingin dan jarinya mengkerut. Ia memejamkan matanya menghela nafas dalam dalam, ia lakukan berkali kali hingga ia merasakan rilek. Elena merasakan ketenangan fikiran juga kedamaian hingga satu tangan menyentuh dagunya membuyarkan ketenangannya. Elena melebarkan mata, menarik kedua tangan ia silangkan didada ia tarik kedua lutut untuk menutupi tubuhnya, matanya melotot dan menatap Reegan yang sedang berjongkok di depan bak mandi dan memainkan air dengan jarinya. "Reegan." Elena berusaha menerka apa yang sedang pria itu fikirkan.
Reegan mengangkat dagu Elena "Kau terlalu lama buat aku menunggu.'Reegan berdiri dan membungkukkan badannya mengangkat tubuh Elena lalu menggendongnya keluar kamar mandi, ia hempaskan tubuh Siene di atas kasur.
" Reegan !." Elena berteriak menatap tajam Reegan. Ia membuang muka saat Reegan naik ke atas kasur dan mencengkram kedua lengan nya. Ia dekatkan wajahnya di wajah Elena yang memalingkan muka.
"Kau milikku Elena ,hingga aku bosan padamu." Reegan bangkit berdiri,pria itu menatap Elena yang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Senang bermain main dengan mu Elena."
Reegan hendak melangkahkan kakinya. "Kau pria tidak tahu malu! apa salahku padamu!" pekik Elena
Reegan terdiam sesaat dan balik badan dan kembali mendekati Elena lalu naik ke atas kasur. "Karena kau telah menghancurkan hidupku." Reegan menatap kedua bola mata Elena,kedua tangannya mencengkram kasur.
"Apa?."
Reegan mengangguk tersenyum sinis," kau kembali mengingatkanku akan kejadian itu." Reegan langsung mencium wajah Elena liar. Reegan menghentikannya saat gadis dihadapannya menarik rambut Reegan kebelakang.
"Hentikan Reegan!."
"Kau sudah mulai berani rupanya." Reegan tertawa kecil.
"Cukup, aku tidak tahu apa masalahmu denganku, tapi aku bukan orang yang kau maksud." Elena mendorong tubuh Reegan dengan kuat hingga tubuh Reegan terguling kesamping. Reegan langsung memeluk tubuh Elema kuat.hingga bulu kuduk Elena. meremang ketakutan.
"Jangan coba coba untuk melarikan diri, hidup dan matimu ada ditanganku." Reegan mencium pipi Elena sekilas lalu ia bangkit dan turun dari atas kasur,sesaat ia menatap Elena lalu beranjak pergi meninggalkan kamar.
Elena bangun dan turun dari atas kasur tubuhnya masih dia tutupi dengan selimut, lalu ia masuk ke kamar mandi untuk mengambil pakaiannya.
Elena melipat kembali selimutnya dan menyimpannya di atas kursi yang tak jauh dari tempat tidur. Suara ketukan membuatnya terkejut, ia bernafas dengan lega ketika menyadari bukan Reegan yang mengetuk pintu.
Pria itu masuk kedalam kamar Elena mengerutkan dahi karena melihat sikap Lucian yang mencurigakan menarik tangan Elena membawanya ke dekat jendela. "Kau kenapa?."
"Dengar, kau turun dari jendela, dan aku akan menunggumu di bawah." Lucian membuka jendela, jarinya menunjuk pada sebuah tangga yang tersandar di bawah jendela.
Mata Elena menatap arah telunjuk Lucian ia mendapati sebuah tangga. "Tapi_?.Kata kata Elena tertahan.
" Kita tidak ada waktu, simpan pertanyaanmu nanti. Sekarang Reegan tidak ada dirumah.." Elena mengangguk menatap Lucian, ada rasa ragu hadir di hatinya. Elena pernah melihat Lucian membunuh seorang wanita dan dia juga hampir menabraknya.Tapi sikapnya terkadang berubah baik.
"Ayo cepat." Elena mengerjapkan mata, menoleh ke belakang menyadari Lucian telah meninggalkan kamar.
Elena memainkan ujung kemejanya gelisah. "Ap dia bisa dipercaya?" ucapnya pelan, lalu ia memutuskan mengikuti petunjuk Lucian. Ia balik badan menuju tempat tidur mengambil tasnya lalu kembali menuju jendela kamar Elena mengangkat satu kakinya dan mulai berusaha menuruni tangga dengan sangat hati hati. Jantungnya berdebar debar perlahan ia sampai di bawah.
Entah berapa lama Elena tertegun mencari cari keberadaan Lucian. Suara anjing penjaga terdengar sangat keras ditelinga Elena. Ia menelan ludahnya susah, berfikir bahwa Lucian telah menipunya. Dia tidak mungkin bisa kabur, setiap jengkal rumah ini banyak penjaga.
"Hei.." Elena erjengkit kaget saat tangan Lucian menariknya ke belakan rumah dengan mengendap endap.
"Kita lewat sini," ucapnya lalu Lucian membawa Elena melalui jalan rahasia di belakang rumah Reegan hingga ada di ujung jalan.
Elena mengatur nafasnya dan jantungnya yang berdetak tak beraturan. "Cepat kau pergi dari sini." Lucian menarik tangan Elena menuju tepi jalan raya. Lucian menghentikan langkahnya.
"Kau pulang sendiri,karena aku harus kembali." Lucian langsung balik badan meninggalkan Elena di tepi jalan raya. Ia mengernyitkan dahi menoleh ke belakang menatap punggung Lucian yang menghilang di ujung jalan.
Lalu Elena balik badan dan memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Elena melangkahkan satu kaki kanannya untuk menyeberang jalan. Namun dari arah kanan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi tanpa Elena duga menghantam tubuh Elena hingga terpental jauh dan berguling guling di aspal. Tubuh Elena terhenti tepat di depan mobil yang berhenti mendadak. Hampir saja mobil itu menggilas tubuh Siene jika tidak berhenti dengan tepat.
Sementara mobil yang sengaja menabrak Elena kabur dari lokasi.
Seorang pria keluar dari pintu mobil dan menatap lama tubuh Elena, ia ragu untuk memutuskan untuk menolongnya atau meninggalkannya. Akhirnya pria itu memutuskan untuk membantu Elena.Ia membalikkan tubuh Elena yang telungkup di bawah dengan bersimbah darah. Pria itu terkesiap memperhatikan wajah Elena
"Elena? kau_?" detik berikutnya pria itu memeluk tubuh Elena yang berada di ambang batas kesadaran. "Elena.!." Arga memeluk tubuh Elena erat. Lalu ia mendengar suara suara mobil polisi yang berpatroli tengah mendekat, dan berhenti tepat di belakang mobil Arga. Dua orang anggota polisi datang membantu Arga.
Tak lama ambulan datang Arga mengangkat tubuh Elena ke dalam ambulan dan membawanya ke rumah sakit terdekat. "Elena..bertahanlah sayang," ucap Arga lirih meremas jari jemari Elena.