pertemuan

1198 Words
Seorang gadis bertubuh mungil sedang berjalan menyusuri sungai di sebuah kota kecil, ia lalu duduk di tepi sungai. Sesekali tangannya mengambil kerikil di sampingnya lalu melemparkan ke sungai itu hingga berkali kali. Ia menghela nafas panjang lalu menatap matahari yang mulai tenggelam meninggalkan semburat oranye. Ia tengah mencoba menikmati hidupnya yang baru di sebuah kota kecil tanpa ada satu orang pun mengenalnya. Namun raut wajahnya berubah murung ketika mengingat satu nama. "Arga.." ucap nya pelan menundukkan kepala, "Apakah kau baik baik saja?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Elena. Sejauh mana ia mencoba menjalani hidupnya yang baru. Namun rasa sayangnya terhadap Arga tidak membuatnya bahagia jauh darinya. Elena menghela nafas panjang, lalu ia hembuskan perlahan, setelah lama ia termenung Elena memutuskan untuk pulang ke kontrakan kecil dimana ia tinggal. "Besok aku harus bekerja, sebaiknya aku tidur lebih awal.." gumamnya pelan, ia berdiri melangkahkan kakinya menyusuri tepian sungai. Langkah Elena terhenti di ujung tepi sungai menatap ke jalan melihat empat pria memakai pakaian rapi dengan setelan jas hitam. Elena memiliki trauma ketika melihat orang orang seperti itu. Sesaat dia tertegun dan berniat memutar arah ke jalan lain untuk menghindari kerumunan pria itu. Elena bernafas lega ketika kakinya sampai didepan rumah, lalu ia mengambil kunci dari saku celananya dan membuka pintu masuk kedalam lalu ia mengunci rapat rapat pintu rumah. Elena duduk diatas kasur kecil, ia mengambil tas yang tergeletak di atas kasur. "Aku penasaran, apa isi kotak yang pernah Risma berikan padaku?" gumam Elena. Perlahan ia membuka kotak itu, dan ternyata hanya berisikan kalung liontin biasa saja. "Tidak ada yang menarik," ucap Elena perlahan membuka belahan liontin yang terbuat dari perak biasa. "Kertas?" Elena menemukan secarik kertas di dalam liontin itu. Perlahan ia membuka kertas yang terlipat rapi menjadi lipatan kecil. "Angka?" ucap Elena. "Hanya enam angka, tapi enam angka ini tidak hanya di inginkan mereka..ternyata ini bukan masalah uang curian Alex saja. Tapi mereka menginginkan kode ini." "Bagaimana keadaanmu Ris, aku minta maaf tidak bisa berbuat banyak untukembantumu.." ucap Elena sedih. Ia beranjak berdiri menuju kamar mandi dan membuang kertas yang berisikan kode "Ini seperti lelucon. Enam angka itu hampir sama dengan tanggal kelahiranku..jadi buat apa aku simpan." Elena kembali duduk di kasur Ia merebahkan tubuhnya. "Hidupku ini aneh, benar benar aneh.Masalah datang silih berganti tanpa aku tahu apa sebabnya," gumam Elena pelan dengan tatapan melihat ke langit langit ruangan kamarnya. Dunia ini tak lebih dari mimpi panjang yang penuh dengan ketidak pastian. Sebuah dunia di mana hanya ada lorong kegelapan seperti sebuah labirin yang mana hanya pengulangan tanpa jeda.Yang akhirnya kita tersesat di jalan yang di anggap benar, mungkin kita harus menyalakan lentera sendiri agar tidak tersesat di dunia yang sangat aneh dan meragukan. Elena menghela nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu ia mencoba untuk memejamkan mata berharap besok kehidupan akan lebih bermurah hati kepadanya, meski dia sendiri tidak yakin. Pagi pagi sekali Elena sudah bangun dan membereskan semua pekerjaannya dirumah. Lalu ia mengambil ponselnya yang tergeletak di tempat tidur dan memasukkannya ke dalam saku celananya bergegas keluar menuju Kafe. Sudah lebih dari satu bulan Elena bekerja di Kafe itu. **** Waktu terus berlalu, Elena bekerja dengan tenang hingga waktunya cafe tutup. Elena bergegas keluar cafe setelah semua tugas tugasnya selesai ia kerjakan. Elena berdiri di tepi jalan raya menunggu angkutan umum, sesekali ia melambaikan tangannya saat teman kerjanya menyapa. Elena kembali menatap ke aeah kanan memperhatikan kalau kalau ada angkuta umum datang. "Bukankah itu orang orang yang kemarin sore? apa ini kebetulan? atau mereka sedang mencariku? Elena melebarkan matanya sembari mendekap mulutnya. Perlahan Elena berputar arah dan bergegas pergi meninggalkan area cafe. Elena terus berjalan setengah berlari menjauh dari ke empat pria itu. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah Mall. Elena berhenti merasakan perutnya lapar. Ia mengedarkan pandangannya menatap sekitar. " Sebaiknya aku makan bubur ayam dulu." Elena berjalana mendekati tukang bubur di pinggir jalan. "Bubur nya satu pak." Penjual bubur itu mengangguk. Lalu Elena duduk di kursi belakang meja panjang, ia duduk dengan tenang memperhatikan orang lalu lalang dan juga kendaraan. Tak lama kemudian penjual bubur itu menghampiri Elena meletakkan mangkuk bubur di atas meja. "Silahkan neng." "Terima kasih pak..." ucapnya tersenyum, lalu ia mengambil sendok dan menuangkan sambal di buburnya. "Nona Elena." Elena tengadahkan wajah menatap orang yang menyapanya. "Iya?' "Mari ikut saya non.." ucapnya melepas kaca mata hitam. "Kalian siapa? tanya Elena menatap empat pria itu gugup. "Nona ikut saja dengan saya..." ucapnya lagi. "Baiklah, sebentar saya bayar dulu," ucap Elena ia berdiri lalu menghampiri si penjual bubur. Ia merogoh saku celananya mengambil uang. "Berapa pak?" tanya Elena sambil menoleh ke belakang menatap empat pria itu yang tengah menatapnya ditempat semula. "Sepuluh ribu neng," jawab penjual bubur. Eleba menyerahkan uang itu pada penjual bubur, detik berikutnya ia berlari sekencangnya membuat penjual bubur menatapnya bingung. Elena berlari ke tempat di mana ada keramaian dan berhenti di depan sebuah Mall yang tadi ia lalui. Elena menoleh ke belakang melihat empat pria itu masih mengejarnya. Ia masuk ke dalam Mall, dan berfikir kalau di depan orang banyak mereka tidak akan berani menculiknya. Sesampainya di dalam Mall, Elena merapikan pakaian dan membenarkan ikatan rambut yang terlihat berantakan. Kemudian ia berjalan dengan santai dan sesekali menoleh ke belakang. Elena membulatkan matanya terkejut melihat empat pria itu masih mengikutinya dari belakang. Dengan tergesa gesa ia mempercepat langkahnya dengan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan. Hingga ia menabrak seorang wanita cantik tengah memegang ice cream. Elena hampir saja terjatuh lalu ia menatap wanita yang tengah menatap pakaiannya terkena tumpahan ice cream di bajunya. "Kalau jalan lihat lihat dong!" seru wanita itu menatap marah. "Ma,maaf mbak saya tidak sengaja.." jawab Elena menatap wanita dihadapannya dengan gusar, ia menoleh kebelakang melihat empat pria itu tengah mendekat. Ia langsung berlari meninggalkan wanita yang tengah memakinya. "Hei mau kemana kau! Elena terus berlari memutar arah kembali menuju pintu keluar, di depan pintu ia kembali menabrak seorang pria dan hampir saja terjatuh namun kedua tangannya mencengkram erat pakaian pria itu, sementara matanya terus menatap ke belakang. "Elena?" ucap pria itu menatap Elena yang melepaskan tangannya dari pakaian pria itu dan terus berlari ke halaman Mall. "Elena! Pria itu balik badan hendak mengejar Elena namun langkahnya terhenti dan menoleh mengerutkan dahinya menatap empat pria yang menabrak lengannya. "Ada apa dengan Elena?" Pria itu ikut mengejar mengikuti empat pria itu dari belakang. Elena tidak menyadari ada seorang pria lain yang tengah menyusulnya. "Sial ! kenapa aku harus mengalami hal seperti ini." Elena berhenti di sebuah halte, ia mengatur nafas dan jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Ia duduk di bangku panjang menatap langit yang mulai terlihat gelap. Elena melirik jam tangan yang menunjukkan pulul 18:45. Lalu ia memperhatikan sekitar untuk memastikan dia tidak ada yang mengikutinya. Ia memegang perutnya yang berbunyi, dan terasa sakit. Ia mendesah kesakitan lalu Elena berdiri dengan sedikit membungkukkan badan satu tangannya memegang perut menahan sakit.Lalu ia menyeberang jalan dan naik ke sebuah angkutan umum menuju rumahnya. Sementara pria yang di tabrak Elena tengah memikirkan dirinya. "Aku yakin itu Elena." Pria itu menatap sekitar, tapi Eleba idak ditemukan. Ia telah kehilangan jejaknya di antara kerumunan orang. Pria itu menatap empat pria yang tadi mengejar Elena "Mereka kenapa mengejar Elena?" gumam pria itu pelan dan memperhatikan ke empat pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD