Bee menghela napas dengan sedikit menyesal, dia mengingat setiap detail kelakukan bersama Deon beberapa hari terakhir. Langkah berani yang sangat menggelisahkan, bahkan sampai melewati batas. Bagaimana dirinya mampu menciptakan khilaf tanpa berpikir panjang? Lagi-lagi gadis itu mengutuk diri, menyalahkan tingkah busuknya bersama pria dengan mengatasnamakan sebagai perasaan mulia yang dijunjung tinggi oleh sebagian manusia. Jika saja mampu mengulang waktu dan menghapus kesalahan lalu, tentu dia akan melakukannya. Bee sadar, bukan begitu cara mencintai. Apalagi sampai membutakan diri demi menemukan pembenaran atas sikap yang diterapkan pada Deon. Gadis itu kembali menghela napas, kali ini terdengar lebih berat karena penuh beban. “Aku harus kuat, dilarang cengeng.” Bee bergumam sembari men

