40

1182 Words

Menyaksikan keangkuhan, keputusan serta kesombongannya aku hanya bisa menghela nafas sambil memunguti barang-barang yang dia bawa. Kudorong pintu butik lalu masuk dan berniat membawanya ke ruang belakang. "Kenapa itu tadi?" tanya Irma saat aku melewati dirinya. "Mantan suami, dia datang mengantarkan s**u dan perlengkapan anak." "Oh, tapi kenapa kalian terlihat bertengkar?" "Tidak juga," balasku setengah enggan bercerita. "Tunggu dulu." Irma memegang lenganku sampai menatap mata ini. "Ya?" "Kalau kau sudah baik-baik saja kau bisa cerita padaku," ucapnya dengan tatapan tulus. "Uhm, dia hanya bilang ingin berhenti memberi nafkah untuk Ambar." "Kalau begitu Iya kan saja aku yakin kau pasti bisa menghidupi anakmu Dan memberinya kehidupan lebih layak, dibandingkan mengharapkan uang dar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD