"Baik, mari kita coba." Senyum Ibu berbinar bahagia melihatku yang akhirnya mau setuju dengan usulan beliau yang ingin agar aku mulai membuka hati dan berkenalan dengan orang-orang baru. Tadinya aku menolak mentah-mentah semua ide tersebut karena masih merasa trauma dan memikirkan masa lalu yang pernah gagal, hingga membuat hati ini ketakutan untuk membuka hubungan baru. "Memang harusnya begitu Nak, umurmu masih 27 tahun, kamu masih cantik dan seharusnya berada di puncak kebahagiaanmu, ayo lakukan sesuatu akan membuat dirimu senang dan bahagia." "Tentu, kupikir aku harus menikah karena dengan demikian beberapa orang tidak akan pernah mencemburui diri ini lagi." "Ya, terutama indra dan Intan." * Hari Minggu yang sudah ditetapkan untuk pertemuan keluargaku berkunjung ke keluarga Radi

