PART. 2 CALON PACAR

964 Words
Yudhis menatap mobil yang berhenti di depan pagar rumah Mitha. Dari jendela kamarnya ia bisa melihat jelas ke sana. Tampak seorang pria turun dari dalam mobil, lalu pria berseragam putih abu-abu itu mengelilingi separuh mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk seseorang yang ke luar dari sana "Mitha" gumam Yudhis, spontan Yudhis berlari ke luar dari kamarnya, dan secepat ia bisa untuk sampai di dekat Mitha. "Mitha!" Kedua orang di hadapannya menoleh ke arahnya. "Abang" Mitha tampak terkejut dan memgerutkan keningnya. "Abang tidak ke kantor?" Tanya Mitha heran. "Aku sudah pulang, siapa?" Yudhis menunjuk pria yang bersama Mitha. "Ooh, kenalkan Bang, ini Toni, teman sekelas Mitha." "Kenapa tidak dijemput Pak Yayat?" "Pak Yayat mendadak sakit" "Kenapa tidak minta jemput Pak Gito?" "Papi lagi ada kerjaan di lapangan, Pak Gito nganterin Papi" "Pak Cipto?" "Pak Cipto istrinya melahirkan" Yudhis menghembuskan napasnya. "Ayo masuk, sudah sore, sebaiknya kamu cepat pulang, nanti orang tuamu cemas. Harusnya seumur kamu belum boleh bawa mobil sendiri. Sudah punya SIM?" "Sudah Bang" Toni menganggukan kepalanya. "Hmmm bagus, cepatlah pulang" "Baik Bang, aku pulang ya Mitha. Permisi Bang" "Hmmm" Yudhis menganggukan kepalanya. Mitha melambaikan tangan dan memberikan senyum termanisnya untuk Toni. "Dia masih terlalu muda untuk jadi Abangmu" ujar Yudhis sambil mengikuti langkah Mitha masuk ke halaman rumah. Pintu rumah dibukakan oleh Bik Denok, asisten rumah tangga Pram yang paling senior. "Assalamuallaikum" Mitha mencium punggung tangan Bik Denok yang ikut merawatnya sejak lahir. "Walaikum salam, Papi dan Mami belum pulang, Mitha" "Mitha sudah tahu, Nek" "Abang hensem mau dring wat?" Tanya Bik Denok pada Yudhis. "Tidak usah Nek, terimakasih" "Nenek tinggal ke dalam, iyess?" "Iyess" Yudhis dan Mitha menganggukan kepala mereka. Setelah Bik Denok pergi. "Dengarkan apa yang Abang bilang tadi Mitha, Toni terlalu muda untuk jadi Abangmu" "Ehmm Abang, siapa bilang dia mau Mitha jadikan Abang nyu? Dia itu calon boypren Mitha" Mitha mengucapkannya dengan nada berbisik, tapi cukup membuat Yudhis menolehkan kepalanya dengan kening berkerut dalam. "Mitha masih kecil, belum boleh pacaran!" Ucapnya tegas. "Ehmm, Abang. Jas lap mankey, Abang. Masa teu boleh? Teman cewek Mitha semuanya sudah punya boypren, masa Mitha teu bolah punya juga" "Teu, teu, teu boleh" Yudhis menggelengkan kepalanya. "Boleh, iyess" Mitha merangkul lengan Yudhis dengan manja, wajahnya mendongak dan memperlihatkan wajah memelasnya. "Duduk sini, dengarkan Abang bicara" Yudhis membawa Mitha duduk di sofa ruang tamu. "Mitha itu masih kecil, masih terlalu polos dan lugu. Abang tidak mau Mitha terjerumus pada pergaulan yang salah. Abang sayang Mitha, bagi Abang, Mitha sudah seperti adik Abang sendiri" "Tapi Mitha perlu pengganti Abang, sebentar lagikan Abang mau merid, terus nanti..." "Tidak dalam waktu dekat ini, Mitha sayang" "Tapi nanti pasti akan terjadikan?" "Hhhhhh," Yudhis hanya menjawab dengan dengusannya. Alea belum mau melepas masa lajangnya, sedang Yudhis sendiri sudah merasa sangat siap untuk berumah tangga. Bunda Ajengnya sudah terlalu sering menanyakan kapan ia akan menikah. Kondisi kesehatan Bundanya itu memang tidak terlalu bagus, karena itulah Bundanya yang merupakan istri pertama ayahnya, atau ibu tirinya, sangat ingin ia segera menikah dan memberinya cucu. Padahal Yuri, saudara kembarnya, yang menikah dengan sepupu Mitha, sudah memberi 3 orang cucu bagi Daddy, Mommy, dan Bundanya. Yudhis bangkit dari duduknya. "Abang mau ke mana?" "Abang pulang dulu" "Abang marah?" "Abang tidak akan marah kalau Mitha mau menuruti perkataan Abang. Mitha belum cukup dewasa untuk punya pacar!" "Ummm, tapi Mitha ingin punya pacar, yang bisa diajak jalan-jalan di mall, nonton, makan-makan, ehmm pegangan tangan, ehmm peluk..." "Mitha, itu yang Abang takutkan. Awalnya cuma jalan di mall, lalu nonton, lalu pegangan tangan, pelukan, terus ciuman, selanjutnya pasti akan lebih dari itu!" "Lebih dari itu teh naon, Abang? Mitha belum pernah ciuman, kata teman Mitha, ciuman itu enak, susah dijabarkan dengan kata-kata rasanya. Boleh teu, Mitha minta ajarin Abang ciuman, jadi nanti kalau Mitha dicium Toni.." "Mitha! Mitha tidak boleh ciuman sebelum menikah" "Teman cewek dan cowok Mitha, sudah pernah ciuman meski belum menikah. Abang pasti juga sudah pernah ciuman dengan Mbak Alea, padahal belum menikah" "Haah, itu berbeda Mitha, Abang laki-laki!" "Mbak Alea perempuan, kenapa boleh ciuman sama Abang. Mitha juga perempuan, masa teu boleh ciuman sama Toni pacar Mitha" "Ya Allah!" Yudhis yang sudah berdiri menghempaskan kembali pantatnya di atas sofa. Mitha ikut kembali duduk di sebelahnya. "Kepala Abang pusing, biar Mitha pijitin, iyess" "Tidak usah, Abang mau pulang!" Yudhis kembali bangkit dari duduknya. Mitha meraih tangan Yudhis. "Don't marah sama Mitha atuh, Abang" Mitha juga berdiri dari duduknya, lalu melingkarkan kedua tangannya di tubuh Yudhis, dan menyandarkan kepala mungilnya di d**a Yudhis. "Don't marah, iyess?" Kepala Mitha mendongak, ditatapnya wajah Yudhis yang tampak dingin. "Jangan marah" air mata Mitha menetes di pipinya. Yudhis memejankan matanya, lalu menghembuskan napasnya. "Abang memang tidak punya hak mengatur Mitha. Hanya Mami dan Papi yang boleh menasehati Mitha. Tapi Abang sayang sama Mitha, Abang tidak ingin Mitha terluka, bahkan andai bisa Abang ingin menjaga agar satu helai rambut Mitha tidak boleh jatuh dari atas kepala Mitha. Abang harap Mitha mengerti akan maksud baik Abang. Abang tidak bermaksud mengekang kebebasan Mitha dalam bergaul, Abang hanya cemas Mitha terjerumus pada pergaulan yang salah. Abang harap Mitha bisa mengerti akan hal itu. Sebaiknya sekarang Mitha mandi, Mitha bau matahari, tahu!" Yudhis mengusap kepala Mitha lembut. Mitha mendongakan kepalanya, Yudhis menghapus air mata yang membasahi wajah Mitha. "Jangan menangis ya, Abang tidak marah, Abang hanya terlalu sayang sama Mitha. Mitha sayang Abang juga, teu?" "Heum, sayang" Mitha menganggukan kepalanya berulang kali. Yudhis tersenyum karenanya. "Abang pulang ya, langsung mandi, iyess?" "Iyess, Abang." "Bagus, itu baru namanya adik kesayangan Bang Yudhis. Mana senyumnya sayang?" "Ehmm" Mitha memberikan senyum termanisnya untuk Yudhis. "Cantik" Yudhis mencubit kedua pipi Mitha. Wajah Mitha memerah, pipi Yudhis balas dicubitnya juga. "Ganteng" ujarnya sembari tertawa. "Adiknya cantik, Abangnya harus ganteng dong" "Kalau Abang menikah, Mitha akan kesepian" Mitha kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yudhis. Yudhis hanya diam tidak berusaha menjawab ucapan Mitha, hanya kedua tangannya yang mendekap tubuh Mitha erat. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD