Katherine melangkah ke kamar rawat dengan pundak merosot, seolah-olah kesedihan menambatkan beban di setiap langkahnya. Cahaya siang yang menyusup melalui kisi jendela jatuh samar-samar di pipinya, memperlihatkan wajah yang letih dan mata yang sembap. Di ranjang, Alan sedang disuapi bubur hangat oleh seorang perawat lanjut usia. Suapan itu terhenti ketika ia menangkap bayangan putrinya. Sesaat, pandangan pria tua itu bertabrakan dengan milik Katherine. Cukup lama untuk membaca kemurungan yang tak sanggup ia tutupi, namun terlalu singkat untuk menghentikan aliran air mata yang diam-diam merembes di ujung mata putrinya. Tak ingin mengganggu, Katherine memutar tubuh dan merosot ke sofa di sudut ruangan. Sandaran empuk itu seketika menjadi bahu bisu bagi kesedihannya. Begitu punggungnya

