Hujan tiba-tiba saja mengguyur dengan begitu deras, seolah langit tengah melampiaskan amarahnya. Katherine berlari tergesa menuju sebuah halte bus yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Malam telah larut, dan dia baru tersadar bahwa waktu telah melesat begitu cepat, terbuang percuma oleh duka yang terus menggerogoti pikirannya. Rambutnya kini basah kuyup, menempel pada wajah dan leher. Bajunya pun basah, menempel ketat pada tubuh mungilnya, memerangkap udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Dia memeluk dirinya sendiri, menggosok lengan dengan telapak tangan, berusaha mengusir dingin yang tak hanya berasal dari hujan, tetapi juga dari dalam hatinya. Ia berdiri di ujung halte, menatap hujan yang turun tanpa ampun. Dalam benaknya, berkecamuk pertanyaan. Haruskah dia menuju rumah Pau

