Bab 42. Pagi Yang Hangat

1060 Words

Katherine dan Alex sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Paul membiarkan mereka. Ia tidak melarang putranya membantu wanita itu. Bahkan, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Sebaliknya, pikirannya justru melayang jauh. Ia tidak bisa melupakan air mata Katherine. Air mata yang selama ini selalu ia abaikan. Selama ini, ia berusaha keras menyingkirkan rasa ingin tahu yang sesekali muncul di hatinya tentang Katherine. Ia membuang jauh perasaan itu agar tidak semakin kecewa, tidak semakin membenci. Namun kini, setelah melihat air mata itu jatuh, hati dan pikirannya terusik. Sejak mereka pulang dari restoran tadi malam, Katherine tampak murung dan menyimpan kesedihan. Ada sesuatu yang membebaninya dan Paul tahu itu. Tapi, bukankah seharusnya ia tak peduli? Paul mengumpat. D

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD