Alex duduk di sisi ranjang dengan tubuh kaku dan mata gelisah. Ruangan itu temaram, hanya disinari lampu meja yang redup. Paul sedang sibuk menyiapkan sesuatu di meja kecil di sudut kamar, sementara putranya menatap ke arah pintu dengan tatapan cemas seolah pintu itu bisa terbuka kapan saja dan memperlihatkan sosok yang begitu ia takuti, ibunya. Lemari gelap itu terbayang di benaknya. Dinginnya, pengapnya, dan suara derit yang selalu menakutkan. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan ketakutan. “Daddy,” suaranya nyaris tak terdengar, “Apakah Daddy akan menginap malam ini?” Paul menghentikan kegiatannya dan menoleh. “Tidak. Daddy harus pulang. Kenapa?” Alex menunduk. “Tidak apa-apa. Alex hanya ingin bersama Daddy saja.” Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya, meski getar dalam

