Langit mulai cerah sepenuhnya, tapi hati Paul sama sekali tak merasa terang. Sudah hampir satu jam sejak ia menghubungi Katherine, tapi tak ada respons. Bahkan satu pesan pun tidak dibalas. Ponselnya terus ia genggam, berharap nama Katherine muncul di layar. Tapi hening. Putranya sudah pergi ke sekolah. Dia sengaja berada di rumah karena dia pikir Katherine akan datang. Dia memandangi jam dinding, lalu memutuskan untuk pergi menemuinya secara langsung. Paul mengenakan jas hitam kasual dan melangkah keluar dari rumah dengan langkah cepat. Amarah yang selama ini tertahan mulai merayap keluar dari celah-celah kesabaran yang hancur. Dia tidak marah karena Katherine absen membuat sarapan. Tapi karena dia tidak mengatakan apa pun, kenapa dia tidak datang Katherine mengabaikan janji yang tel

