Arfan menghilang tepat di hari pernikahnya namun kini Arfan menyesal dan ingin kembali lagi pada Shayrin."Arfan?"tanya mama Liliana saat membuka pintu merasa tak percaya anaknya kembali.
"Iya mah. Maafin Arfan kemarin udah ngecewain mamah."Arfan bersimpuh di kaki mamahnya meminta maaf.
"Udah gak papa, yang udah terjadi ya sudah mungkin takdir. Ayo masuk nak."
"Arfan kamu pulang nak."Papah Ben memeluk Arfan.
"Iya pah, maafin Arfan."Arfan juga bersimpuh di kaki papahnya.
"Sudah gak papa. Nanti Zefran juga ke sini sama Shayrin."ucap papah ben.
"Shayrin."Arfan menyesal meninggalkan shayrin.
"Iya shayrin. Dia nikah dengan zefran,"balas mama liliana.
"Saya ngerasa bersalah dengan mereka berdua pah, mah. Arfan seperti seorang pengecut kabur begitu aja,"ujar Arfan sedih.
"Sudah gak papa nanti kamu jelasin ke mereka,"balas papah ben.
"Mamah. Papah....!!"seru Zefran datang bersama Shayrin.
"Ih malu-maluin banget sih."Shayrin mencubit pinggang Zefran.
"Sakit kak Shay."Zefran mengusap pinggangnya.
"Masuk aja Zef langsung ke ruang makan."Mama Liliana sedikit berteriak dari ruang makan.
Zefran dan Shayrin tak tau ada Arfan di dalam."Ayo masuk."Zefran menunjukan jalannya ke Shayrin.
Sesampai di ruang makan, Zefran melihat Arfan."Kak Arfan."Zefran langsung memeluk kakaknya.
Shayrin terkejut mendengar nama Arfan di sebut, Shayrin ingin sekali pergi dari sana karena malas bertemu dengan Arfan.
"Adik gue yang paling manja."Arfan memblas pelukan Zefran.
“Gue udah gak manja kak. Gue tiap hari bangun pagi."
"Ayo semua duduk kita makan dulu habis itu baru ngobrol."Perintah papah ben. Semua pun duduk.
Papah Ben di tengah sebelah kiri mama Liliana dan Arfan sebelah kanan Zefran dan Shayrin.
Shayrin dan Arfan saling curi pandang satu sama lain apalagi mereka duduk berhadapan.Zefran sebenarnya tau cuma diam aja, pura-pura gak lihat.
"Zef ayo nambah."Mama Liliana mengambilkan Zefran nasi lagi.
"Kurang mah, yang banyak sekalian,"ucap Zefran menumpahkan kekesalan yang tak beralasan itu dengan makan.
"Jangan banyak-banyak tar sakit perut."Larang papah Ben.
"Sama sayur Zef, kamu gak pernah makan sayur."Mamah Liliana menyodorkan sayur ke Zefran.
"Gak mah, kaya kambing,"tolak Zefran.
"Dasar kamu. Udah habisin."Papah Ben tertawa.
Setelah makan malam selesai semua berkumpul di ruang keluarga. Papah dan mamah tau kalo Arfan butuh bicara, jadi sebegai orang tua papah Ben dan mamah Liliana pamit ke dalam lebih awal."Tante sama om, masuk dulu ya Rin."
"Iya,"jawab Shayrin sopan.
"Pah Zefran ikut mau ngobrolin meeting tadi."Zefran mengikuti kedua orang tuanya.
"Zef mau kemana?"ucap Shayrin cangung dan bingung, jika di tinggal berdua dengan Arfan.
"Bentar doang mau ngobrol sama papah hasil meeting tadi,"balas Zefran.
Dengan terpaksa Shayrin duduk lagi.
Arfan dari tadi hanya diam mencuri-curi pandang saja pada Shayrin yang terlihat makin cantik.
"Rin,"ucap Arfan saat semua sudah pergi. Shayrin hanya diam tak menjawab."Gue minta maaf."Arfan mendekat ke Shayrin.
"Apa dengan maaf loe semua bakal baik lagi?"
"Gue tau. Gue menyesal."Arfan menunduk sedih.
"Sesal loe udah gak ada artinya. Gue udah nikah sama adik loe,"geram Shayrin.
"Maaf, maaf, maaf."Arfan bersujud di depan Shayrin.
Zefran mau turun ke ruang keluarga menemui Shayrin takut lama nanti marah-marah tapi Zefran melihat Arfan sedang bersimpuh di depan Shayrin. Akhirnya Zefran hanya berdiri saja di tangga melihat Arfan dan Shayrin.
"Sudah cukup, semua udah terlambat."Shayrin menangis.
"Tidak kita mulai dari awal lagi,"ucap Arfan.
"Bagaimana dengan Zefran?"
"Gue yakin Zefran bakal ngerti. Dia gak bakal marah, lagian di antara kalian juga gak ada cinta kan?"ujar Arfan.
"Iya, gue dan Zefran hanya terpaksa untuk bersama,"balas Shyarin.
"Kita jalani kaya dulu lagi. Zefran dan yang lain gak perlu tau dulu. Jika ada waktu yang tepat baru kita bilang kalo kita masih saling mencintai."Arfan memeluk Shayrin.
Shayrin juga memeluk Arfan erat, mereka berdua pacaran sudah lima tahun.
Jadi tidak mudah untuk saling melupakan.
Zefran mendengar dan melihat itu semua merasa hatinya seperti tertusuk seribu jarum.
Zefran memilih kembali ke kamar orang tuanya."Ada apa nak?"tanya mamah Liliana.
"Kaos Zefran yang gambar mobil warna hitam di taruh mana mah?"tanya Zefran pura-pura.
"Ya di kamarmu lah."
"Ya udah, mau Zefran pake." Zefran ke kamarnya langsung masuk dan menutup pintunya.Tak terasa setetes air mata Zefran terjatuh."Gue kenapa jadi cengeng. Kak shay kan emang milik kak Arfan."Zefran menghapus air matanya. Kemudian ia memilih mandi untuk menyegarkan otaknya.
"Zef...Shayrin minta pulang."Mamah Liliana mengetuk pintu kamar mandi.
"Bentar mah,"tak lama Zefran pun keluar dengan kaos oblong dan jeans pendek gaya abg. Kemarin sudah mulai mau pake kemeja dan jeans panjang bergaya dewasa namun sekarang kembali ke gaya semula.
"Lama banget mandinya,"gerutu Shayrin.
"Biyar wangi terus tidurnya pules,"balas Zefran.
"Ya sudah ayo pulang."Shayrin menarik lengan Zefran.
"Pah,mah, kak Arfan, Zefran pulang dulu,"pamit Zefran.
"Hati-hati," ucap semuanya sambil melambaikan tangan.
Di mobil Zefran menyalakan musik lagu melow."Loe lagi galau?"cibir Shayrin.
"Gak juga. Gue pengin lagu slow aja,"balas Zefran sambil fokus nyetir.
*****
Zefran beberapa hari jadi pendiam. Di omelin juga diem, biasanya selalu aja jawab.
Membuat Shayrin heran."Loe sakit yah?"tanya Shayrin memegang kening Zefran.
"Gak."
"Terus kenapa loe diem mulu atau loe marah sama gue?"
"Gak juga."Zefran masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.
"Apa Zeferan tau yah, tentang gue dan Arfan,"gumam Shayrin.
"Harusnya gue gak marah. Itu hak mereka, gue yang hadir di tengah-tengah mereka,"ucap Zefran pada dirinya sendiri.Mulai besok Zefran akan bersikap seperti biasa lagi.
"Pagi kak shay."Sapa Zefran saat Shayrin sedang memasak.
"Udah sehat loe?"tanya Shayrin lega, karna Zefran sudah seperti biasa lagi.
"Udah,"jawab Zefran sambil membuat s**u.
"Itu kan udah di bikinin."Shayrin menunjukan s**u yang ada di atas meja.
"Segitu kurang, gelasnya kecil. Besok kalo buat pake gelas ini."Zefran mengangkat gelasnya.
"Jumbo banget."
"Ya kan porsi buat yang lagi masa pertumbuhan."
"Serah loe dah, ini sarapannya."Shayrin menatanya di meja.
"Iya makasih."Zefran makan sambil minum s**u.
"Gue berangkat duluan."Shayrin buru-buru.
"Gak sarapan?"tanya Zefran.
"Nanti di jalan.Shayrin langsung pergi.
Zefran mengintip lewat jendela, ternyata berangkat di jemput Arfan.
"Katanya gak ingin ada pelakor di antara kita, lah itu pebinor,"cibir Zefran.
Dengan lesu Zefran berangkat ke sekolah."Kusut amat,"sindir Dika.
"Kusut lah, puyeng pala gue,"balas Zefran.
"Puyeng mikira apa loe."Dika duduk di meja.
"Bini gue masih suka sama kakak gue."Zefran bersandar pada kursi.
"Lah loe tau dari mana?"
"Gue denger dan liat sendiri."
"Dan loe diem aja?"
"Iya lah, gue pura-pura aja gak tau."
"Bego loe, kak Shayrin kan udah jadi bini loe jadi dia hak loe,"seru Dika gemas.
"Mau gimana lagi, gue kan pihak ke tiga di antara mereka."
"Tapi kak Arfan kan udah ninggalin kak Shayrin jadi kak Arfan udah gak punya hak lagi,"ujar Dika.
"Nyatanya kak Shay masih cinta sama kak Arfan,"ucap Zefran.
"Terus gimana sama loe?"
"Entah lah. Gue sendiri belum yakin dengan perasaan gue,"balas Zefran.
"Ya sudah tapi kalo gue jadi loe, gue gak mau lepasin bini gue. Ogah gue jadi duda muda, nikah di paksa masa habis manis sepah di buang. Iya kalo manis, lah loe anyep terus,"ucap Dika.
Zefran hanya diam saja tidak menanggapiucapn Dika namun diamnya Zefran sedang berfikir.
*****
Di tempat lain Shayrin dan Arfan bermesraan layakna sepasang kekasih pada umumnya."Sayang nanti habis belanja kita nonton yuk."Ajak Arfan.
"Ok deh."Shayrin sambil tersenyum.Shayrin mungkin lupa kalo sudah ada Zefran suami sahnya,malah asik bernostalgia dengan mantan kekasihnya.
Zefran melihat jam tanganya, harusnya Shayrin sudah pulang sejak jam lima sore tapi ini hampir jam setengah dua belas malam Shayrin belum pulang."Gini nih, kalo orang pacaran. Gak tau waktu,"kesal Zefran.
Zefran duduk di jendela kamarnya, melihat ke arah luar menunggu Shayrin pulang. Sampai mengantuk Shayrin belum juga pulang. Zefran akan menelfon Shayrin tapi suara mobil terdengar. Ia meliahat Arfan keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Shayrin, kemudian mengecup kening Shayrin. Zefran yang sedang memegang handphone pun memfotonya.
"Makasih buat hari ini."Shayrin tersenyum senang. Arfan balas tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil.
"Tega amat, main belakang,"gumam Zefran memegang dadanya.
Pagi ini Shayrin jam setengah enam sudah selesai masak, pakaian udah rapih, wangi, rambut di gerai make up lebih tebel dari biasanya dan memakai sepatu hak tinggi, pakaian pun sexy.
Zefran melihat perubahan penampilan Shayrin dari atas sampai bawah."Baju baru nih?"tanya Zefran.
"Ya dong kemarin habis shopping,"jawab Shayrin senyum-senyum gak jelas sambil chattingan.
Zefran hari ini libur jadi masih make celana kolor sama kaos oblong."Loe kusut banget, gak sekolah?"tanya Shayrin.
"Libur dua hari. Paling tar siang kerja."
Suasana hening kembali, Shayrin sibuk dengan ponselnya.
Setelah selesai sarapan. Zefran ke depan nyiram tanaman dan motongin rumput."Itu di taman belakang aja sana bersih-bersihnya."Perintah Shayrin.
"Yang depan dulu lah, yang di liat kan yang depan,"jawab Zefran sengaja.Ia tau kalo Shayrin pasti di jemput Arfan.Shayrin terlihat gelisah.
"Jujurlah sayang aku tak mengapa...
Biar semua jelas tak berbeda...
Jika nanti aku yang harus pergi...
Ku terima walau sakit hati..." Zefran bernyanyi sambil bersiul lagunya repvblik sandiwara cinta.
Shayrin melihat ke arah Zefran yang sedang beres-beres motongin rumput musikan sambil nyanyi. Shayrin sebenarnya merasa tersindir. Tapi Shayrin gak yakin kalo Zefran lagi nyindir soalnya muka Zefran biasa aja, gak ada expresi apa pun.
"Belum berangkat kak?"tanya Zefran yang melihat Shayrin bengong.
"Ehmm iya gue mau berangkat,"balas Shayrin kaget.
"Ya sana tar telat, udah setengah tujuh."
"Nunggu taksi."
"Mobilnya rusak?"tanya Zefran lagi tanpa melihat Shayrin.
"Enggak, lagi pengin naik taksi aja."Bohong Shayrin sambil berlalu pergi.
Zefran hanya tersenyum. Senyum Zefran mengandung dua arti, senyum untuk jawaban Zefran pada Shayrin atau senyum untuk kebodohannya sebagai suami yang di tipu dan di selingkuhi oleh istrinya sendiri.
*****
Teman-teman Shayrin melihat kalo Shayrin di antar oleh Arfan."Rin, loe sama Arfan?"tanya Amel dan Maysha saat Shayrin datang.
"Iya. Gue jalan sama Arfan lagi,"jawab Shayrin senang.
"Terus bagaimana dengan Zefran?"tanya Maysha.
"Entahlah, itu urusan nanti. Lagian Zefran juga biasa aja, dia mungkin anggep gue kakak doang."
"Loe tega ya Rin. Gak takut karma loe. Mau gimana pun, Zefran suami sah loe."Amel geram dengan kelakuan Shayrin.
"Cinta gak bisa di paksa. Gue cintanya sama Arfan, bukan Zefran."
"Loe bakal nyesel Rin, Zefran anak baik-baik dan loe selingkuhin dia demi orang yang udah ninggalin loe di hari pernikahan loe,"ujar Maysha di anggukin oleh Amel.
"Udah deh, Zefran juga nikah sama gue terpaksa. Dia masih sangat kecil. Mana tau tentang apa yang wanita mau,"ucap Shayrin.
"Usia gak jamin Rin. Justru loe yang ke kanak-kanakan di butain oleh cinta,"kesal Amel.
"Udah lah, loe bedua gak usah bawel, ini urusan gue, cepat atau lambat gue sama Zefran juga bakal bercerai."
"Serah loe dah,"jawab Amel dan Maysha kesal dengan kekeras kepalaan Shayrin.
Arfan sangat mencintai Shayrin. Dia bodoh meninggalkan Shayrin dulu dan akhirnya menyeret paksa Zefran di tengah-tengah mereka berdua."Apa pun caranya, gue harus dapetin Shayrin lagi. Shayrin harusnya jadi istri gue, sial....!! Betapa bodohnya gue."ucap Arfan dalam hati.
Zefran sendiri memilih bungkam tak ingin bicara apa pun. Jika nanti Shayrin minta cerai, Zefran sudah menyiapkan dirinya untuk melepaskan Shayrin.
*****
Zefran di kantor bertemu dengan Arfan.
Mereka berdua hanya bertukar senyum. Arfan tidak merasa berdosa sama sekali sudah menjalani hubungan dengan istri adiknya sendiri.
Arfan memang pacar Shayrin tapi Arfan sendiri yang ninggalin Shayrin dan kini datang lagi jadi perusak rumah tangga adiknya sendiri. Sedangkan Shayrin kesal dengan kedua sahabatnya di ceramahin sepanjang hari karena selingkuh dengan Arfan.
Shayrin pulang lebih awal, kebetulan Zefran juga pulang."Haus kak sekalian buatin jus."Perintah Zefran melepas dasinya.
"Males bikin sendiri, gue juga baru pulang,"tolak Shayrin.
"Ya udah makan di luar yuk, selama kita nikah belum pernah jalan bareng,"ajak Zefran.
"Gue cape mau istirahat."
"Ok gue keluar sendiri aja."Zefran ke kamarnya mandi lalu bergegas pergi lagi.
Zefran tau Shayrin gak cape tapi malas jalan dengannya. Selama menikah Zefran seperti orang asing setelah kedatangan Arfan kembali. Zefran berusaha untuk menahan diri menghargai Shayrin dan tak pernah menyentuh Shayrin walaupun Shayrin istri sahnya. Zefran gak akan pernah memaksa Shayrin dalah hal apa pun.