WF | Pura-pura Lupa

1555 Words
*** Bibir Sera tersenyum ketika tebakannya benar. "Kak Lili?" tanya Sera setelah melihat siapa yang datang mencarinya. Sera merasa heran sebab ia tidak terlalu mengenal perempuan ini. Mereka baru sekilas saling menyapa. Sera hanya tahu bahwa Lili adalah kakak perempuan Danar yang artinya adalah kakak ipar sahabat baiknya, Delia Faulie Hutama. Namun, kenapa Lili ada di sini? Sungguh kedekatan mereka belum pada tahap saling mencari. "Ada apa kak?" Sera penasaran kenapa kakak ipar sahabatnya ini tampak bahagia karena telah menemukannya. Lili tersenyum dengan tulus. "Uli meminta kakak mencarimu, sebentar lagi ratu kita melempar bouquet pengantinnya. Uli mau kamu juga ada di sana," jelas Lili. Sera terkekeh, Uli memang yang paling semangat menyuruhnya berada dibarisan itu. Baiklah.. Sera akan memenuhi keinginan sahabatnya mengingat hari ini adalah hari bahagia Uli.. "Ayo kak!" Lili menganggukan kepalanya dan menggandeng Sera. Banyak yang sudah masuk pada barisan demi merebut wedding bouquet yang akan dilempar oleh Uli. Sera melambaikan tangannya agar raja dan ratu sehari itu bisa mengetahui bahwa dirinya sudah memenuhi keinginan sang ratu. Dengan senyum rahasianya Uli membalas lambaian tangan Sera. Uli sudah sangat siap dengan apa yang akan ia lakukan. Hari ini dirinya adalah pemeran utama, jadi apapun yang akan dia lakukan harus dimaklumi. Uli sengaja melempar bouquet pada Sera setelah matanya menemukan Zion perlahan mendekat ke arah sahabatnya itu. Beberapa detik kemudian, bouquet melayang tepat di atas kepala Sera. Ia hanya diam, sementara yang lain saling mendorong demi mendapatkan bouquet itu. Namun, wedding bouquet justru jatuh tak jauh darinya. Ketika semua orang sibuk mendesah sebal karena bouquet pengantin tidak jatuh ke tangan mereka, Sera mendesah pasrah karena akhirnya bouquet itu akan jatuh ke tangannya. Sedangkan Zion, tampak sibuk mengagumi wajah Sera yang jauh lebih cantik dari biasanya. Matanya mengawasi ke mana pergerakan tangan Sera. Bibirnya membentuk senyum lega. "Sepertinya kita yang harus menikah setelah ini." Senyum leganya telah berubah menjadi menggoda. Tampak percaya diri menghiasi wajah Zion saat bouquet yang dilempar oleh pengantin mendarat pada kakinya. Bertepatan dengan Sera yang menunduk untuk mengambil bouquet itu. Sera mendongak. Wajahnya memerah. Kenapa ia lupa tentang Zion yang bisa saja berada di antara mereka. Sera mengabaikan perkataan Zion, ia mengalihkan tatapannya pada Uli yang sudah menampakan senyum puas di wajahnya. Sementara itu, dalam tatapan memujanya, Zion merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali mendekati Sera. Namun, tidak bagi Sera. Baginya tidak ada waktu yang tepat untuk pertemuan mereka. Seperti ia yang mengabaikan ucapan Zion, dirinya pun mengabaikan keberadaan lelaki itu. Sera menjauh dari Zion seolah tidak pernah mengenalnya. *** Wajah Sera masih ditekuk saat ia menemani Uli mengganti gaun pengantinnya. Kalau kalian pikir adegan selanjutnya setelah acara sore tadi adalah Uli digendong ala brydal style oleh Danar, maka kalian harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Atau jika kalian berharap ada adegan say hallo antara Zion dan Sera setelah Uli dengan sengaja melempar bouquetnya pada mereka berdua, maka kalian juga wajib menyingkirkan harapan itu. Karena Sera mengabaikan Zion seperti orang yang tak pernah saling mengenal setelah Zion mengatakan sesuatu yang mustahil baginya itu. Dengan bersikap bodoh amat Sera menyerahkan bouquet kepada Zion dan meninggalkan Zion begitu saja. Kini ia kembali dipaksa oleh Uli agar membantunya melepas gaun pengantin. Sebenarnya Uli melakukan ini agar Sera mengobrol dengannya masalah tadi sore. Tapi sejak tadi Sera menekuk wajahnya dengan garang. Uli tahu Sera pasti tersinggung karena ulahnya. "Ra??? Sera!!!" ujar Uli karena Sera hanya diam. "Apa??" balas Sera. Uli menampakan gigi putihnya. Akhirnya Sera bicara juga walaupun dengan kekesalan yang tidak main-main. "Astaga kamu masih marah?" tanya Uli. Sera memutar bola matanya dengan jengkel. "Nyebelin banget sih Ul, udah tau punya laki, ngapain minta tolong gue buat lepas semua perabotan lo!" sindirnya. Perabotan di sini adalah semua yang Uli kenakan dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Ini sangat merepotkan, tetapi Sera masih bisa mengatasinya andai Uli tidak mengerjainya dengan membiarkan Zion berada di sana. "Okay! Aku tahu kamu marah. Maaf," ucap Uli dengan tulus. Sungguh niatnya hanya ingin Sera dan Zion berbaikan tetapi mungkin waktunya belum tepat. Sera menghela napasnya. Sebenarnya ia tahu Uli bermaksud baik, tapi Sera benar-benar tidak ingin dilibatkan dengan Zion lagi. "Ya udah nggak apa-apa. Lain kali jangan gitu," balas Sera. "Tapi benar kamu nggak cinta lagi sama Zion, Ra?" tanya Uli hati-hati. Ia tahu persis beberapa bulan yang lalu yang membuat Sera pergi bukan hanya karena ayahnya sakit, tetapi juga karena berusaha memghindar dari Zion. "Nggak! Gue udah lupa!" balas Sera dengan suara yang meninggi. Senyum Uli terlihat dari sudut bibirnya di saat Sera sedang sibuk melepas ikatan rambutnya. Dari jawaban itu saja Uli tahu kalau Sera masih mencintai Zion. Hanya saja perasaan itu tertutup oleh rasa kecewa yang menggunung. Uli juga tidak tahu apa yang membuat Sera begitu kesal melihat Zion. Padahal menurutnya Zion itu juga mencintai Sera. Apa mungkin mereka ini masih ingin memainkan peran kucing-kucingan? Uli mengangguk pasti. Tebakannya pasti benar semua. Sera dan Zion hanya sedang memainkan trik tarik ulur. Namun, sampai kapan hal itu terjadi? Bisa-bisa Zion benar-benar pergi dan akhrinya Sera menderita sendiri. Uli menggeleng pelan, lalu mengangguk pasti. Zion tidak akan pergi karena lelaki itu sudah terlanjur jatuh cinta pada sahabatnya. "Ngapain senyum-senyum??" tanya Sera curiga karena sejak tadi Uli eskpresi Uli berubah-ubah. Kadang tampak sedih, lalu terakhir senyum-senyum sendiri. Sera melihat itu lewat bayangan di depannya. Cermin besar yang menampakan seluruh tubuh Uli membuat Sera dapat dengan jelas melihat eskpresi sahabatnya itu. "Uli jangan macem-macem ya!!" ancam Sera. Dia yakin Uli sedang merencanakan sesuatu untuknya. Apa lagi kali ini? Jika Uli bermaksud mempertemukannya lagi dengan Zion, maka Sera dengan senang hati segera meninggalkan tempat ini. Namun, ternyata tanpa rencana Uli pun, takdir mempertemukannya lagi dengan Zion. Usai membantu Uli, Sera meninggalkannya sendirian. Ia sudah mengirim pesan kepada Danar bahwa urusannya dengan Uli sudah selesai dan memberi selamat kepada Danar karena mulai malam ini tak perlu lagi takut kepergok olehnya seperti yang sudah-sudah. Dibelokan, Sera tidak sengaja menabarak seseorang yang tak lain adalah Zion karena terlalu asyik dengan handphonenya. Zion sedang tertawa saat Sera mendongakan kepalanya. Hal itu membuat Sera mendengkus kesal. Kenapa juga dirinya harus bertemu lagi dengan Zion? Dan kenapa juga Zion harus tertawa seperti itu saat melihatnya. Lebih dari kekesalannya, sejujurnya Sera takut Zion mendengar detak jantungnya yang menggila. "Maaf, bisa minggir?" tanya Sera tanpa ingin merepotkan diri menyebut nama Zion. "Nggak!" jawab Zion sambil mengedikan bahunya. Sekali lagi Sera berdecak. Ia ingin berbalik, tapi tangan Zion menahannya. Mendadak lagu pura-pura lupa memenuhi pendengaran Sera. Itu adalah dering handphonenya. Sialan, siapa yang menelponnya di saat yang seperti ini? Lagu tersebut baru ia setel beberapa saat yang lalu. Sera suka karena judulnya sesuai dengan apa yang saat ini dirinya rasakan. "Pura-pura lupa, ya?" sindir Zion. Sera meringis. Ia ketahuan. Namun, sampai kapanpun Sera tidak akan mengakui perasaannya pada Zion. Cukup sudah dulu Zion menghinanya. Ah, ya Sera! Jangan lupakan kalau Zion juga mencuri ciuman darimu. Meskipun pada akhirnya kamu juga menikmati ciuman itu. Benar-benar sialan! Sudah berapa kali Sera mengumpat sejak ia melihat Zion hari ini?? Sera harus menghindarinya agar bisa menyelamatkan jantung dan harga dirinya. "Lepaskan!" bentak Sera karena telapak tangan Zion masih saja melingkari pergelangan tangannya. Zion mengangkat sebelah alisnya. "Nggak akan!" balasnya. "Di lagu itu salah satu dari mereka memiliki pasangan, tapi di antara kita berdua masih sama-sama jomblo. Jadi aku pastikan aku akan selalu maksa masuk ke dalam hidup kamu, paham?" Sera menganga mendengar ucapan Zion. Jujur, ia tidak mengerti sama sekali. "Lepasin aku Zion!" ujar Sera. "Akhirnya kamu nggak pura-pura lupa lagi," balas Zion tanpa melepaskan Sera. Bisa kabur Sera ini kalau sampai Zion melepaskannya. Sera meronta. Perbuatannya yang secara tiba-tiba membuat Zion tidak siap. Ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga membuat mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisinya yang.. You knowlah, saling menindih. Sera berada tepat di di atas tubuh Zion dan Zion harus merelakan punggungnya mencium lantai yang keras. Mendadak ide muncul dalam benak Zion. Kenapa dirinya tidak memanfaatkan kesempatan ini saja? "Awww," ringisan Zion menyadarkan Sera dari keterkejutannya. Sera mendudukan dirinya secara cepat. Tanpa sengaja sikunya mengenai perus Zion. Lelaki itu kembali meringis untuk yang kedua kalinya. "Maaf, kamu nggak apa-apa?" tanya Sera. Tanpa ia duga suaranya akan berubah lembut seperti itu. Secara pribadi ia juga merasa malu mendengarnya. "Sakit semua," ucap Zion sengaja melirihkan suaranya agar Sera bersimpati. Sera merasa khawatir. Ia membantu Zion agar berdiri dan membawanya ke dalam kamar yang di khususkan untuknya. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Sera kebingungan. Zion yang melihat wajah kebingungan Sera menjadi gemas sendiri. Ia ingin merangkum wajah itu dengan kedua tangannya, tapi Zion yakin Sera akan kabur kalau ia melakukan itu. Bisa sia-siakan kepura-puraannya ini kalau sampai Sera melarikan diri lagi. Zion akan bermain cantik saja. Perlahan tapi pasti dirinya akan mendapatkan hati Sera lagi. Zion sangat percaya diri, gadis di sampingnya ini juga memiliki perasaan yang sama untuknya. "Zion aku harus bantu apa?" tanya Sera masih dengan rasa khawatirnya. Tidak tahan melihat tingkah Sera yang seperti itu, pada akhirnya Zion menangkup pipi Sera dengan kedua tangannya. Zion tahu Sera pasti terkejut. "Cukup jangan lagi berpura-pura lupa sama aku," ucap Zion sambil menatap ke dalam mata Sera. Sera tahu kalau dia tidak kembali menghindar maka setelah ini dirinya akan jatuh lebih dalam kepada Zion. Maka Sera menepis telapak tangan Zion dari pipinya. Tatapan matanya masih menunjukan rasa khawatir, tapi mulutnya berkata sangat pedas. "Kalau kamu sudah merasa baikan silakan keluar dari sini!" ujarnya sambil meninggalkan Zion sendirian. . . . Bersambung.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD