Perempuan itu kembali tersenyum lalu merogoh tas hitamnya. Entah apa yang akan diambilnya kini, hatiku berdebar hingga sedikit menciptakan ketakutan kembali. Mas Feri pun menolehku, tampak keheranan di wajahnya yang tampan. Dia mengangkat-angkat kedua alisnya sementara aku hanya angkat bahu. "Maaf ya, Mas, Rin. Ini untuk kalian, datang, ya?" Pinta Delima sembari menyerahkan selembar undangan pernikahan. k****a calon mempelainya, nama Delima dan Rizal tertera jelas di sana. "Kamu mau nikah, Mbak?" tanyaku dengan mata membulat karena kaget. Kulihat wajah Delima cukup berbinar lalu mengangguk pelan. "Iya, Rin. Aku mau nikah dengan Mas Rizal itu, kami sudah ta'aruf enam mingguan. Setelah istikharah, aku semakin yakin jika dia memang terbaik buatku," balas Delima lagi. "MasyaAllah. Alhamd

