Bimo masih belum berhenti dari pekerjaannya meski waktu sudah menunjukan pukul 18.00. Jemari Bimo masih terus mengetik dengan mata yang tak kunjung lepas dari layar monitor laptopnya. Namun kegiatannya itu langsung terhenti ketika mendengar suara pintu ruangannya terbuka. Clarina, Manager Brand Development, berjalan masuk ke ruangan dan menghampirinya.
"Ini laporan yang Bapak minta." Clarina menaruh beberapa lembar kertas ke atas meja.
Bimo mengambil lembaran kertas itu, lalu menaruhnya ke samping laptopnya. "Oke. Nanti saya periksa ya."
"Baik, Pak. Oh ya... lusa besok staff media sosial bakalan bergambung dengan kita. Ini sekedar informasi aja."
"Oke. Ini buat replacement Nia ya?"
"Betul. Nia yang resign bulan lalu, Pak."
"Penggantinya itu freshgraduate atau udah berpengalaman?"
"Freshgraduate, Pak. Budget kita gak cukup buat rekrut yang pengalaman. Karna pasti minta gajinya besar."
"Kalo skill-nya bagus, kenapa tidak? Soal gaji kan bisa di coba untuk negosiasi dulu."
"Kemampuan anak ini bagus juga kok, Pak. Saya udah liat portofolio dan hasil test design-nya. Dia juga lulusan Universitas Pelita Bangsa. Jadi saya rasa dia cukup oke buat jadi staff sosial media kita."
"Universitas Pelita Bangsa? Itu bukannya kampus mahal? Kok dia mau jadi staff kita."
"Awalnya saya juga bingung kenapa dia mau. Karna memang biasanya lulusan kampus itu pada ikut bisnis orang tuanya atau bikin usaha sendiri. Cuma setelah saya interview... dia emang mau merintis karir mulai dari staff dan belajar dari bawah. Dia tertarik buat gabung di perusahaan FMCG."
"Gak bakalan lama orang itu. Harusnya you cari dari kampus biasa aja, tapi skill-nya oke."
"Yah mari kita liat, Pak. Seberapa lama anak ini. Lagipula cukup menarik ada lulusan kampus itu kerja bersama kita. Siapa tau dia bisa memberikan kontribusi yang positif, walaupun mungkin cuma sebentar."
"Semoga..."
"Baiklah, Pak. Saya sekalian pamit pulang ya. Ini udah waktunya pulang dan saya juga memang sudah ada janji."
Bimo mengangguk. "Oke. Hati-hati di jalan."
"Thank you, Pak."
Setelah Clarina keluar dari ruangan, Bimo kembali menyibukan diri dengan laptopnya. Ia benar-benar fokus dengan pekerjaannya, tanpa menyentuh ponsel. Bahkan tanpa melirik ke arah jam.
Bimo baru melirik ke arah jam ketika pekerjaannya telah selesai. Waktu ternyata sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ia lalu mengambil ponsel-nya untuk memeriksa notifikasi yang masuk. Ternyata ada beberapa pesan dari Jeslin.
Bimo tidak membalas pesan itu. Namun ia langsung menekan icon panggilan. Kekasihnya itu pun tidak membuatnya menunggu lama. Panggilan telepon darinya ternyata dijawab dengan cepat.
"Tumben kamu langsung telepon aku," ucap Jeslin.
Bimo tersenyum. "Jadi gak seneng aku telepon?"
"Yah seneng sih. Cuma heran aja. Gak biasanya begini aja."
"Hahahaha. Dasar cewek. Gak ditelpon... ngambek. Giliran ditelpon malah heran. Suka bingung kadang-kadang maunya apa."
"Kamu masih di kantor?" tanya Jeslin, mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Masih di kantor nih. Baru kelar kerjaan."
"Malem banget. Kamu nyetir sendiri? Supir kamu masuk, kan?"
"Masuk, kok, Nanti disupirin pas pulangnya. Oh ya... besok kamu ada waktu?"
"Ada. Jangan bilang kamu mau ajak aku dinner?!"
Bimo tertawa mendengar nada tinggi histeris Jeslin. "Iya. Aku mau ajak kamu makan malam besok. Bisa gak?"
"Kamu kesambet atau gimana nih? Gila... tumben-tumbenan banget. Ngajakin makan tanpa aku perlu ciptain drama dulu." Jeslin tampak sangat terkejut.
"Anggep aja aku dapet hidayah. Hahahaha. Yaudah besok aku jemput di rumah ya."
"Kayaknya mending langsung ketemu di restorannya aja deh. Biar gak terlalu malam. Kamu baru jemput setelah pulang kerja kan?"
"Iya, sih. Yaudah. Besok aku kasih nama dan Alamat restonya ya. Kamu naik taksi aja. Biar pulangnya bisa ku anter."
"Oke."
"Sip. Aku tutup telponnya ya. Aku mau siap-siap buat pulang."
"Iya. Aku juga udah mau tidur. Bye, Sayang."
"Bye..."
Bimo langsung Bersiap untuk pulang selepas menutup panggilan telepon itu. Segera mengambil tas kantornya, lalu berjalan menuju Lokasi tempat mobilnya terparkir.
***
Bimo segera memasuki restoran seafood yang sudah ia pesan sebelumnya. Jeslin pasti sudah menunggu di dalam. Sebab gadis itu sudah mengabari jika telah tiba di restoran itu setengah jam sebelumnya. Bimo lantas langsung mencari keberadaan kekasihnya itu ketika sudah menyusuri area dalam restoran itu.
Ia tersenyum ketika melihat rupa Jeslin yang langsung mengangkat tangan ketika melihatnya. Gadis itu telah duduk di sudut restoran. Bimo langsung menghampiri dan duduk berhadapan dengan kekasihnya itu.
"Berasa lama ya nunggunya?" tanya Bimo.
Jeslin langsung mengangguk dengan cepat. "Enggak kok. Cuma setengah jam doang. Lagian aku emang datengnya lebih cepat juga."
"Iya. Maaf ya, Beb. Jalanan tadi ternyata macet banget. Gak kayak biasanya. Makanya aku jadi telat begini."
"Iyah. Gak papa. Kita langsung pesen makanan aja ya, Aku udah laper banget nih. Hahaha."
Bimo langsung meminta daftar menu makanan ke pelayan. Kemudian mereka memesan beberapa hidangan seafood. Jeslin menginginkan udang dan kerrang, sementara Bimo lebih memilih menu kepiting. Tak lupa mereka memesan jus jeruk sebagai minuman.
Setelah menunggu beberapa lama, pesanan mereka datang. Bimo dan Jeslin langsung menyantap hidangan makanan mereka dengan lahap.
"Untung kamu pilih resto ini. Rasanya udah lama banget aku gak makan seafood di resto ini," ucap Jeslin sambil menaruh beberapa udang ke atas piringnya.
"Kepitingnya juga enak banget! Capek kerja aku berasa ilang gara-gara makan ini." Bimo tampak sibuk memecahkan cangkang capit kepiting miliknya, lalu melahap dagingnya.
Jeslin mengangguk setuju, lalu menghabiskan sisa makanan yang ada di atas meja mereka. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka melenyapkan semua sisa makanan yang ada.
Ketika Bimo sedang meneguk jus jeruknya, ia menangkap raut kecemasan pada wajah Jeslin. "Kamu kenapa?"
"Eh...? Enggak kok. Emang kenapa?" tanya Jeslin balik.
"Aku liat tuh dari tadi kamu kayak gelisah gitu. Ada yang mau kamu sampein ke aku gak? Coba ngomong."
"Ehm... emang aku keliatan kayak gitu ya? Aku sih ngerasa biasa aja sih, yang."
"Serius? Gak ada yang kamu sembunyiin, kan?"
Jeslin terdiam beberapa saat. "Gak ada sih, Yang. Nanti kalo ada yang harus di omongin... aku bakalan ngomong kok."
"Yaudah. Yang penting kalo ada apa-apa diomongin aja. Aku gak suka kalo kamu sembunyiin sesuatu dari aku. Mending terbuka... jadi bisa kita selesaikan bareng-bareng."
Jeslin tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, Sayang. Makasih ya. Makasih juga udah luangin waktu buat malam ini."
"Iya. Sama-sama. Kita juga emang udah lama banget gak makan bareng. Aku bener-bener sibuk akhir ini."
"Terus kapan kita kayak gini lagi? Jangan bilang tiga bulan lagi?!"
Bimo tertawa. "Semoga gak selama itu sih. Cuma kalo ada space waktu kayak sekarang, pasti aku bakalan hubungi kamu."
"Baiklah. Aku memang harus terbiasa." Jeslin menghela nafas.
"Mau lanjut minum kopi? Ada coffee shop baru di sekitar sini."
Jeslin mengangguk antusias. "Ayo!"
"Aku bayar dulu ya. Baru abis itu kita jalan." Bimo langsung memanggil pelayan dan segera meminta tagihan yang harus dibayar.