Ruang-Ruang yang Tak Bernama

662 Words
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme aneh bagi Darren. Biasanya, setiap pagi terasa seperti hukuman — ia terbangun dengan jantung berdebar, tubuh berkeringat dingin, dan rasa kosong yang menggerogoti pikirannya. Tapi kini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan berarti Darren sembuh. Bukan berarti semua mimpi buruk menghilang. Tapi kehadiran Aruna... membuat kekosongan itu sedikit kurang sunyi. Pagi ini, Darren duduk di ruang tamu, menatap jendela yang basah sisa hujan semalam. Cangkir kopinya sudah dingin di meja. Pikiran-pikiran di kepalanya berkecamuk, seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar tenang. Di saat yang sama, pintu depan diketuk pelan. Darren menegang. Detak jantungnya memacu insting lamanya: kabur, bersembunyi, atau bertahan? Tapi suara itu datang lagi — ketukan pelan, tidak mengancam. Dan sesuatu dalam dirinya tahu... itu Aruna. Dengan langkah ragu, ia membuka pintu. Dan di sana, berdiri Aruna, membawa sebungkus plastik berisi sesuatu. "Halo," sapanya ringan, seolah hari ini bukan hari yang berat. Seolah dunia masih punya sesuatu untuk ditawarkan. Darren mengangguk canggung. "Masuklah," gumamnya. Aruna melangkah masuk, dan aroma familiar dari dirinya — wangi bunga liar dan hujan — memenuhi ruangan kecil itu. Ia mengangkat plastik di tangannya. "Aku bawa sarapan. Kupikir kamu mungkin lupa makan lagi." Darren mengernyit. "Aku... tidak lapar." Aruna terkekeh kecil, menaruh plastik itu di meja. "Yah, berjaga-jaga saja. Kamu bisa makan nanti," katanya, lalu duduk santai di sofa, membuat Darren bingung sendiri. Darren berdiri di ambang ruang tamu, tidak tahu harus melakukan apa. Sejak kecil, kehadiran orang lain selalu terasa seperti ancaman, bukan kenyamanan. Melihat kegugupannya, Aruna tersenyum kecil. "Aku tidak akan mengusikmu, Darren," katanya lembut. "Aku hanya ingin duduk di sini. Temani kamu... kalau kamu mengizinkan." Darren menelan ludah, merasa dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dia beri nama. Perlahan, ia bergerak, duduk di kursi seberang, menjaga jarak yang terasa aman. Beberapa menit berlalu tanpa kata. Hanya ada suara jam dinding berdetak lambat dan napas mereka yang berat. Darren memperhatikan Aruna dari sudut matanya. Gadis itu membuka buku kecil dari tasnya, mulai membaca. Tak ada paksaan. Tak ada perhatian berlebih. Hanya kehadiran. Dan untuk pertama kalinya, Darren merasa... mungkin, diam tidak selalu berarti kesepian. --- Beberapa jam kemudian, Darren memberanikan diri membuka suara. "Apa... yang kamu baca?" Aruna menoleh, senyumnya menghangat. "Buku puisi," jawabnya. "Kadang, puisi bisa berkata lebih banyak daripada seluruh novel." Darren mengangguk pelan, pura-pura mengerti. Aruna menutup bukunya, lalu menatap Darren dengan tatapan penuh pertimbangan. "Kamu mau aku bacakan satu?" tawarnya. Darren ragu. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang begitu lelah untuk terus menolak. Akhirnya, ia mengangguk pelan. Aruna membuka bukunya, mencari halaman tertentu, lalu membacakan dengan suara pelan dan dalam: "Di dunia yang tak bernama, aku mencari kamu Di antara puing dan debu luka, aku menemukan bayangmu Tak perlu kata, tak perlu suara Hanya detak jantung, dan keinginan untuk bertahan." Suara Aruna, lembut dan bergema di ruang kosong itu, seolah mengisi celah-celah retak dalam diri Darren. Ia menunduk, menahan napas, berjuang melawan dorongan aneh untuk menangis. Bukan karena puisi itu terlalu sedih — tapi karena ia merasa... dimengerti. Tak perlu penjelasan. Tak perlu alasan. Aruna menutup bukunya perlahan, lalu menatap Darren. "Aku tahu... mungkin kamu tidak siap cerita banyak," katanya. "Dan itu tidak apa-apa, Darren. Aku tidak akan memaksamu." Darren mengangkat kepalanya sedikit, menatap mata Aruna. Mata itu — tidak berusaha menghakimi, tidak mencoba menyelamatkan. Hanya... ada. Dan anehnya, itu jauh lebih menyelamatkan daripada semua 'pertolongan' kasar yang pernah ia alami seumur hidupnya. --- Sore mulai turun perlahan, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan. Aruna pamit tidak lama setelahnya, meninggalkan sisa makanan di atas meja, beserta sesuatu yang lebih berharga — rasa aman. Darren menatap punggung Aruna yang menjauh dari jendela. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bertanya-tanya: Bagaimana rasanya... jika aku berhenti mengurung diriku sendiri? Bagaimana jika aku memberi seseorang kesempatan untuk tetap tinggal? Pertanyaan itu sederhana. Tapi bagi Darren, itu berarti segalanya. Ia menutup matanya sebentar, membiarkan kehangatan samar itu meresap ke dalam tulang-tulangnya. Mungkin, pikir Darren, luka ini tidak harus kering sendirian. Mungkin... untuk sekali ini saja, ia bisa percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD