Langkah Kecil Menuju Cahaya

776 Words
Beberapa hari berlalu sejak "Jeda" tercipta dari potongan-potongan kain yang seharusnya dibuang. Boneka kecil itu kini menghuni sudut meja Darren, berdiri di antara tumpukan buku-buku yang sudah lama tak tersentuh. Awalnya, Darren sempat merasa konyol karena membiarkan benda sekecil itu tetap di sana. Tapi setiap kali ia hendak memindahkannya, ada perasaan aneh yang menahannya — seolah kehadiran Jeda mengingatkannya pada sesuatu yang mulai berubah, meski sangat perlahan. Sore itu, Aruna kembali dengan kebiasaan lamanya; dua ketukan pelan yang nyaris tak terdengar jika Darren tidak benar-benar menunggu. “Pintu terbuka,” serunya dari dalam. Aruna masuk dengan senyum yang terasa seperti hangat matahari setelah hujan panjang. “Aku bawa sesuatu hari ini.” Darren menatapnya dengan alis terangkat. “Kamu selalu bawa sesuatu.” Aruna tertawa kecil sambil mengangkat sebuah tas kecil dari kain kanvas. “Hari ini... bukan kain, bukan gambar.” Dia mengeluarkan beberapa buku tua, sampulnya sudah sedikit kusam. “Buku cerita.” Darren mengerutkan kening. “Untuk apa?” Aruna duduk di lantai seperti biasa, bersandar ke sofa. “Untuk didengarkan.” Darren memperhatikan Aruna membuka salah satu buku, membolak-balik halaman yang sudah menguning. “Dulu, ibuku sering membacakan cerita sebelum tidur,” kata Aruna sambil tersenyum kecil. “Sejak dia pergi, aku hampir lupa rasanya ditemani kata-kata yang tenang.” Darren terdiam, menatap Jeda di sudut meja sebelum akhirnya duduk di lantai, berseberangan dengan Aruna. “Aku nggak ingat kapan terakhir kali mendengar cerita,” gumamnya. “Bagus.” Aruna tersenyum. “Berarti kita mulai dari awal.” --- Suara Aruna mengalir pelan di ruangan itu, seperti sungai tenang yang menemukan jalannya sendiri. Kisah sederhana tentang seorang anak yang mencari rumah di tengah hutan, tersesat, lalu menemukan cahaya dari hal-hal paling kecil — suara angin, dedaunan, bahkan hujan. Darren mendengarkan diam-diam, matanya sesekali menatap halaman, sesekali memandang ke luar jendela yang mulai dihiasi langit senja. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Aruna seperti membuka ruang-ruang kecil dalam pikirannya yang sudah lama tertutup rapat. Ruang yang berisi kenangan samar tentang suara lembut yang pernah ia rindukan tapi hilang begitu saja. “Kamu suka?” tanya Aruna setelah selesai membaca beberapa halaman. Darren mengangguk pelan. “Ini... aneh. Tapi tenang.” “Kadang, hal-hal aneh justru yang paling kita butuhkan,” jawab Aruna sambil menutup buku dengan lembut. “Bagaimana dengan kamu? Kalau bisa memilih, kamu ingin pergi ke mana kalau tersesat?” Pertanyaan itu menggantung di udara beberapa saat. Darren berpikir lama sebelum menjawab. “Mungkin... tempat yang nggak ada siapa-siapa. Tapi juga nggak benar-benar sepi.” Aruna tersenyum, seolah mengerti maksudnya. “Tempat yang aman, ya?” Darren mengangguk. “Aku nggak tahu bentuknya seperti apa. Tapi mungkin... kayak sekarang.” Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa Darren sempat menahannya. Ia menyesap udara, berusaha menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Aruna tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya yang lembut memberi tahu Darren bahwa ia tidak perlu malu karena kejujuran kecil itu. --- Sore menjelang malam. Aruna menatap langit yang mulai berwarna jingga dari jendela. “Kamu mau ikut keluar sebentar?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana?” “Jalan-jalan kecil. Hanya sampai ujung jalan,” jelas Aruna. “Kalau kamu mau.” Darren menoleh ke jendela, memandangi langit yang perlahan kehilangan warna. Ia jarang keluar rumah, apalagi saat matahari hampir tenggelam. Dunia di luar sering kali terlalu bising, terlalu ramai, bahkan ketika jalanan sepi. Tapi kali ini... ada sesuatu yang mendorongnya. Beberapa menit kemudian, mereka berjalan berdampingan di trotoar kecil di depan rumah Darren. Langit mulai menggelap, tapi udara masih terasa hangat. Aruna berjalan pelan, memberi Darren ruang untuk menyesuaikan langkahnya. Tidak banyak orang di luar. Hanya beberapa pejalan kaki yang lewat, sibuk dengan dunianya masing-masing. “Ini aneh,” gumam Darren. “Apa yang aneh?” “Rasanya seperti... dunia nggak seburuk yang kupikirkan.” Aruna tersenyum tipis. “Kadang dunia memang buruk. Tapi... ada bagian kecil yang nggak.” Mereka berjalan dalam diam beberapa saat, menikmati bunyi angin dan langkah-langkah ringan yang menyusuri trotoar sepi. “Terima kasih,” kata Darren tiba-tiba, suaranya pelan tapi jelas. Aruna menoleh. “Untuk apa?” “Untuk nggak menganggap aku aneh. Dan... untuk tetap datang.” Aruna berhenti sejenak, memandang Darren dengan mata yang hangat. “Aku nggak pernah berpikir kamu aneh, Darren.” Hening sebentar. Lalu Aruna melanjutkan, “Kamu cuma butuh waktu. Dan mungkin... sedikit cerita.” Mereka kembali berjalan, lebih tenang dari sebelumnya. Darren merasakan sesuatu menghangat di dadanya — perasaan yang selama ini ia pikir sudah hilang. Mungkin, pikirnya, dunia memang tidak akan pernah benar-benar baik. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa... aman. Dan itu cukup untuk langkah kecil pertama menuju cahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD