Author's pov
"OOMM RIOOOO!!!!!" Diandra menutup wajahnya. Tak kuasa rasanya dia ngelihat bayi dalam kereta itu terlempar mengenaskan. Lagian dimana lagi emaknya. Main asal ngebiarin anaknya gelinding sendiri dijalanan. Pokoknya kalau bayi itu sampai ketabrak. Itu bukan salah Rio ataupun Diandra. Salahin ajatuh mak nya yang lalai.
Kalau boleh Diandra tebak pasti emaknya lagi asik foto foto pakai b612. Di warung sayur. Sambil ngerumpi ngerumpi manja. Padahal inikan sudah senja. Mendekati maghrib malah.
Cittt!!!!
Ban mobil mengerem mendadak. Menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga.
Nafas Rio naik turun tak beraturan. Bisa bisanya dia melamun saat menyetir. Untung saja dia segera sadar. Kalau nggak habis dia bolak balik kantor polisi. Karena nabrak bayi di kereta itu.
Diandra mengintip disela sela jari tanganya. Dadanya berdegup kencang. Akankah dia melihat mayat bayi mungil bersimbah darah didepan matanya. Semoga saja ketakutan Diandra tak terjadi.
Setelah mengintip ternyata kereta bayi itu masih setia berada ditempatya tadi. Diandra menghela nafas lega. Jantungnya juga sudah kembali dalam mode normal.
Diandra menoleh ke arah Rio yang sedang mencengkram erat kemudi mobil. Matanya menerawang menatap kereta bayi yang berada tak jauh dari bamper mobilnya.
Diandra mengusap lengan Rio. Menyadarkan Rio dari lamunanya.
"Om kita samperin yuk bayinya" ajak Diandra.
Rio kembali mengarahkan pandanganya ke kekereta bayi tersebut. Untung saja sudah senja jadi tak ada orang yang melihat kejadiaan ini. Hanya segelintir pejalan kaki yang menengok kereta bayi lalu mereka pergi lagi setelah mengetahui kondisi bayi itu tidak apa apa.
Tanpa kata Rio membuka pintu mobil. Keluar menghampiri kereta itu. Diandra hanya mengekor saja dalam diam.
Diandra tersenyum senang tatkala melihat bayi berpipi gembul itu tengah terlelap dengan dot dimulutnya. Begitu mengemaskan...
"Om kira kira ini bayi siapa ya? Emaknya pingin aku jadiin sambel trasi" rqnya Diandra diiringi kekesalan terhadap emak sang bayi.
"Mana ku tahu. Emang aku paranormal apa" jawab Rio.
Diandra mencebikkan bibirnya. Masih saja dalam situasi seperti ini Rio ketus sama Diandra. Kan Diandra cuman caper aja.
Mommy benar semua lelaki tidak peka!
"INI BAYI SIAPA YAA!!!" teriak Diandra pada pejalan kaki dan kendaraan yang melintas.
"INI BAYI SIA- MPPHHHH!!!" tangan Rio membekap mulut mercon Diandra. Bisa bisanya Diandra teriak teriak saat orang orang tengah menunaikan ibadah shalat maghrib. Bisa digebuki masa ntar.
"Jangan berisik! Ini udah maghrib tau. Nggak lihat tuh orang orang pada sewot" Rio lalu melepas bekapanya pada mulut Diandra. Bisa mati anak orang kalo dia bekap terus. Boleh sih main bekap bekapan tapi pas udah sah nanti. Bekapnya nggak pakai tangan lagi. Tapi pakai bibir.
Kok pikiran gue jadi kotor begini sih. Rio menggeleng kan kepalanya yang mulai terkontaminasi adegan adegan dewasa.
"Lah terus gimana dong Om? Kalau kita bawa nih bayi. Nanti orang orang kira kita penculik lagi. Kan sekarang lagi jaman jamanya tuh penculikkan anak yang diambil organ organya. Aku nggak mau masuk penjara Om"
Rio mengusap wajahnya kasar. Sudah pusing tambah dibuat pusing lagi sama Diandra. Dengan pernyataannya barusan.
"Bawa saja bayinya. Toh emaknya nggak nyari" ujar Rio frustasi.
Diandra terpekik. Antara bahagia dan terkejut bercampur jadi satu. Seperti sambal terasi. Lah?
"Beneran Om?"
Kuping Rio rasanya panas sekali mendengar panggilan Diandra untuknya. Om? Diandra fikir Rio lelaki hidung gelang yang sering nongkrong di rumah bord*r apa seenaknya manggil Om. Hellow Rio calon suaminya. Bukan calon suami tantenya. Eh?
"Please. Jangan manggil om lagi. Eneg dengernya" ujar Rio.
"Terus siapa dong?" Diandra mengetuk ketukkkan jarinya dijidat sedang berfikir. Membuat Rio jadi salting sendiri melihat ke unyuan Diandra saat sedang berfikir.
Unyu? Lo udah gila deh kayaknya Yo. Kaya setan gitu dibilang unyu hhh. Cibir Rio dalam hati.
"Gimana kalau hubby saja. Kan Om sebentar lagi jadi husband nya aku"
Bulu kuduk Rio meremang. Hubby? Panggilan macam apa itu. Seperti anak alay saja.
"Panggil aja aku Kakak" putus Rio.
"Pftt..mana pantas. Udah banyak kerutan tuh di mata" ejek Diandra. Tapi sebenarnya Diandra berucap bohong. Rio mana ada punya kerutan. Wajahnya saja kinclong seperti kaca spion cabe cabean.
"Finale. Nggak boleh diganggu gugat"
Owek owek owek (bayangin itu suara tangisan bayi :D)
Tangisan si debay memghentikan acara adu mulut Rio dan Diandra. Diandra lantas menggendong debay itu dan menepuk nepuk bahunya pelan.
Sedangkan Rio melipat kereta bayi itu. Lalu melangkah kemobil. Menaruh kereta bayi itu di bagasi.
Diandra masuk duluan ke mobil dengan debay yang masih ada digendonganya.
Rio menyusul masuk. Dan menatap Diandra yang tengah menghibur bayi kecil itu yang terisak.
Tanpa Rio bisa cegah bibirnya tertarik keatas. Menampilkan senyum menawanya.
Istriable banget. Batin Rio.
"Om..eh kak. Aku seneng banget deh dapat debay lucu kaya gini. Belum nikah kita sudah dikasih debay. Apalagi nanti kita sudah nikah ya kak" ujar Diandra sambil memain mainkan pipi debay yang tengah tertawa itu. Menunjukkan giginya yang baru tumbuh dua.
Deg..jantung Rio berdegup cepat. Kata katanya ringan tapi efeknya begitu nemplok di hati Rio.
"Ngomong apa sih kamu ini" Rio lalu menjalankan mobilnya pelan. Mencoba melupakan perkataan Diandra barusan.
Jangankan satu. Sepuluh Rio bisa kasih..