ILYMH - Jomblo Bisa Apa

2318 Words
Rio mengantarkan Diandra kerumah Mami. Diandra memasang wajah yang tidak enak di lihat. Sedangkan Rio memasang tampang poker face seperti biasa. Ditangan Rio, ia membawa tas Diandra yang memuat buku-buku pelajaran. Dengan baju ganti? Diandra tidak perlu membawanya karena masih banyak baju-baju lamanya yang tertinggal di rumah. TING...TONG Rio memencet bel rumah Diandra. Tidak selang berapa lama seorang pria membukakan pintu. Wajah pria itu sangat kusut dan masih memasang muka bantal. Bahkan ia masih belum menyadari siapa yang datang. "Cari siapa?" Tanya Rizkan sembari mengucek-ucek matanya.  "Kalo cari orang gila ada nggak Pak?" Jawab Diandra sangat menahan tawa. Rio sampai dibuat terkekeh.  "Maaf ini rumah keluarga Pratama. Bukan Rumah Sakit jiwa. Maaf sepertinya anda salah alamat"  Diandra tertawa pelan. Rio juga tertawa melihat Rizkan yang masih tidak sadar. "Eh Dii!" "Ya ampun maaf Dii. Kakak baru bangun" Rizkan seketika panik sendiri. Ia mendekati Diandra dan menangkup pipi adiknya yang tampak memerah itu. "Masa jam sembilan baru bangun sih"  Rizkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia nyengir saat mengingat kencanya semalam bersama Nisa. Kemarin saja Rizkan baru pulang jam 2 pagi. Karena harus mengantarkan Nisa pulang dan gadis itu selalu meminta yang aneh-aneh saat di perjalanan. Seperti membeli tahu bulat dadakan. Kerak telor yang ada di monas. Dan masih banyak lagi permintaan aneh Nisa. "Hehe kaya gak tau Kakak aja kalau lagi libur kuliah"  "Btw ini kalian mau ngapain?" Tanya Rizkan saat melihat tas Diandra yang dibawa di pundak Rio. "Gue mau nitipin istri gue. Soalnya selama seminggu gue ada tugas di Korea" jelas Rio singkat, padat, dan cukup jelas. Rizkan tersenyum girang. "Jadi semingguan lo tinggal dirumah ini?" Diandra mengangguk.  "Oke dengan senang hati!" "Tapi Mami, Papi, sama Chello masih ada di luar kota. Ada urusan keluarga" "Yahhhh" Diandra mendesah kecewa. "Kan ada Kakak Rizkan yang ganteng ini"  Diandra menatap Rio yang juga sedang menatapnya.  "Diandra ikut Kak Rio aja ya!" Pinta Diandra. Rio menggeleng lemah. Pasalnya ia ke Korea bukan untuk jalan-jalan melainkan untuk bisnis. Takutnya nanti Diandra akan kesepian disana. Belum tentu nanti Rio mempunyai waktu untuk menemani Diandra. Bahkan hanya untuk berkeliling. Rio benar-benar sibuk. "Dii.."  "Hm.. oke Diandra tinggal Disini. Tapi jangan lama-lama ya Kak. Nanti Diandra kengen" rajuk Diandra manja. Rio mengangguk dan tersenyum lembut. "Iya cuman seminggu aja. Kalau kangen telpon atau vidio call oke" ucap Rio sembari mengelus puncak kepala Diandra. Rizkan menghela nafas jengah. Rasanya ia sangat mual mendengar pembicaraan pasutri ini. Terdengar begitu alay dan menjijikkan. Rizkan saja selama berpacaran tidak pernah mengumbar kata-kata seperti itu.  Rizkan menggaruk kepalanya. 'Kapan gue pernah pacaran ya? Orang gue jomblo terus dari lahir'  Kemudian Rizkan mengambil alih tas Diandra. Karena merasa salting sendiri. "Sana masuk. Gak enak dilihat tetangga mesra-mesraan di depan pintu" ucap Rizkan lalu ia masuk duluan ke dalam rumah. Menyusul Diandra dan Rio di belakangnya. Diandra mengajak Rio duduk di sofa ruang tamu. Masih ada waktu satu jam sebelum Rio berangkat ke bandara. "Kak nanti kalau Diandra kangen, boleh telpon kan?"  "Boleh" "Boleh vidio call?" "Boleh" "Boleh datengin Kakak?"  "Gak boleh" tolak Rio mentah-mentah.  "Yaahh kenapa?" Tanya Diandra. "Kakak banyak kerjaan Diandra" Mata Diandra memicing. Ia men-scan Rio dari atas sampai bawah. Lalu ia memalingkan wajahnya dan bersedekap d**a. "Karena banyak kerjaan. Atau karena banyak cewek mulus-mulus disana?" Rio menatap Diandra nanar. Sebegitu tidak percayakah Diandra padanya. Padahal kan Rio lelaki terjujur yang pernah ada. "Ya Allah suudzon banget sama suami!" Diandra membalik badanya. Ia memberikan tatapan yang paling mematikan menurut versinya. "Biarin itu memang faktanya. Lihat aja dandanan Kakak" sekali lagi Diandra men-scan Rio. Suaminya hari ini terlihat sangat tampan dengan setelan jas formal tanpa dasinya. Ya walaupun Rio selalu tampak ganteng setiap hari dimatanya. Tapi kali ini terlihat berbeda. "Hari ini Kakak ganteng. Terus minyak wanginya kecium banget. Biasanya tak pakai minyak wangi. Biasanya tak suka begitu" kesal Diandra setengah menyanyikan lagu Ayu TingTing. "Eciee yang suka dangdut. Suka nonton Ayu Ting-Ting ya?" goda Rio sambil mencolek-colek lengan Diandra. Bukanya merasa tersipu atau malu-malu kucing. Diandra malah merasa marah. Diandra menghempaskan tangan Rio yang sedang mencolek-colek lenganya. Rio kira Diandra sambal terasi apa pakai dicolek-colek. "Kakak resek! Kakak suka nonton Ayu Ting-Ting yang janda muda itu ya! Diandra sebel sama Kakak! Sana pergi!" Diandra memukul-mukul lengan Rio. Menjambak-jambak rambut Rio yang tadinya sudah sangat rapi dan elegan. Tapi sekarang..ck Rio tampak seperti gelandangan. "Aduh Dii rambut Kakak!" keluh Rio memegangi rambutnya yang sudah acak-acakkan. Diandra tersenyum puas. Jika seperti ini tidak akan ada wanita yang melirik Rio. Diandra saja jadi jijik melihat penampilan Rio sekarang. "Sisirin lagi!" Ucap Rio manja. Diandra melirik Rio. Kemudian ia tersenyum meremehkan. "Ogah!"  Rio memanyunkan bibirnya. Istrinya ini begitu kekanakan dan keras kepala. "Ayolah Dii jangan kekanakan begitu Kakak ini setia"  "Hah setia? Setiap tikungan ada kan?" Cibir Diandra. "Diandra Darmawan!" Bentak Rio. "Diandra Pratama. Bukan Diandra Darmawan. Please deh!" Ralat Diandra. Wajah Rio memerah. Ia benar-benar sangat kesal sekarang. Mau pergi malah Diandra bersikap sangat kekanakan. Kalau begini Rio berasa seperti Ayah Diandra. "Sisirkan Diandra!" bentak Rio dengan volume suara yang ditinggikan. Merasa tidak digubris ia menarik lengan Diandra untuk mendekat. Namun gadis itu sama sekali tidak menatapnya. Mungkin ia benar-benar cemburu. Ck.. istri muda yang sangat posesif. Sekaligus menjengkelkan! "Diandra" "Gak usah panggil Diandra!" "Istriku!" "Gak usah usah panggil-panggil Delrio. Gak tau orang lagi kesel apa?" Rio terkekeh geli. Saat sedang marah. Pipi Diandra pasti bersemu merah. Dan itu terlihat sangat menggemaskan. Jadi pingin kecup! Eh? "Diandra" "Ck.. udah Diandra bilang. Jangan panggil Diandra!"  "Sayang"  Jantung Diandra terasa berdegup kencang. Tubuhnya terasa kaku seperti habis disetrum dengan tegangan tinggi. Wajahnya langsung terasa panas. Ia menyunggingkan senyum tipis. Membuat Rio melegah. "Kakak tadi bilang apa?" Tanya Diandra. "Entahlah lupa!" Jawab Rio. Ia benar-benar malu saat ini. "Jangan bohong ih"  "Iya.. iya tadi Kakak panggil kamu Mak Lampir" ucap Rio.  Diandra sekarang merasa marah kembali. Suaminya benar-benar merusak suasana yang tadinya sudah romantis. "Kenapa?" Tanya Rio yang melihat muka masam Diandra. "Gak apa-apa" "Oh yaudah" "Aw..aw..aw..." aduh Rio karena pinggangnya dicubiti oleh Diandra. "Sakit istriku!" Rio masih saja mengaduh walaupun Diandra sudah tidak menyubitinya lagi. Rio yakin besok pasti pinggangnya akan membiru. "Makanya jangan ngeselin jadi suami"  "Iya.. iya gak ngeselin lagi. Janji!" Ucap Rio seperti anak tk yang dimarahi gurunya. Jari telunjuk dan tenganya membentuk huruf v. Sedangkan tanganya yang bebas mengusap-usap bekas cubitan Diandra. "Suami yang baik!"  Diandra kemudian melirik rambut Rio. Sangat berantakkan sekali. Bagaimana mungkin suaminya nanti ke bandara dengan penampilan seperti ini. Bagaimana kalau nanti banyak yang bilang kalau Rio tidak di urusi istrinya. Kan nama baik Diandra sebagai istri tauladan bisa tercoreng. "KAK RIZKAAAAN!" teriak Diandra kencang. Rio sampai mengusap-usap telinganya yang berdengung akibat suara cempreng Diandra. Bumi saja sampai gonjang-ganjing. "Diandra jangan teriak-teriak. Bukan hutan ini!" Peringat Rio. Diandra hanya tersenyum manis. Membuat Rio yang tadinya kesal jadi tidak jadi kesal. Habisnya senyuman Diandra maut banget. Hampir saja Rio meleleh. Rizkan melongokkan kepalanya di balik pintu kamar Diandra yang berada di lantai dua.  "Kenapa?" Tanya Rizkan masih enggan menampakkam diri seutuhnya. Habisnya adik dan adik iparnya sangat so sweet. Kan Rizkan jadi iri. Sehingga Rizkan hanya melongokkan kepalanya. Dengan ini ia tidak bisa melihat pasutri itu seutuhnya. Karena tertutupi pilar. "Ambilkan sisir Diandra!" "Oke.. oke" Rizkan masuk ke dalam kamar.  Rio menatap Diandra. Menggenggam kedua tangan Diandra erat. "Makasih" "Sama-sama suamiku" jawab Diandra sangat manis. Tukk.. "Aw!" Ringis Diandra tatkala sebuah sisir bergambar hello kitty mendarat mulus di kepalanya.  "Kak Rizkan jahat. Sakit ini!"  Rizkan hanya tertawa saja. Jarinya ia bentuk menyerupai huruf v sebagai tanda perdamaian. Lalu ia kembali masuk kedalam kamar Diandra. Menyusun buku-buku Diandra. "Sakit?" Tanya Rio dengan polosnya. "Banget"  "Sini-sini. Cup..cup.. jangan nangis ya istriku yang cantik" Rio menepuk-nepuk pahanya. Mengisyaratkan Diandra untuk duduk dipangkuanya. "Diandra gak nangis Kakak!" Walau mengomel Diandra tetap duduk di atas paha Rio. Sekarang mereka saling berhadap-hadapan. Rio tersenyum manis lalu menyingkirkan anak rambut Diandra yang menjuntai bebas. "Diandra sisirin ya" Rio mengangguk. Ia merengkuh pinggang ramping Diandra. Meneliti setiap lekuk wajah Diandra yang sangat cantik bak bidadari. Rio memejamkan matanya saat sisir sudah menyentuh rambutnya. Entah sudah berapa lama rambutnya tidak pernah disisir oleh orang lain. Karena menurut Rio. Rambut adalah sesuatu yang paling tidak boleh disentuh oleh orang lain. Tapi ketentuan itu sama sekali tidak berlaku untuk Diandra. Bahkan setelah ini Rio akan selalu meminta Diandra untuk menyisir rambutnya setiap hari. "Sudah"  Rio membuka matanya. "Makasih istriku"  "Sama-sama suamiku" Setelah itu mereka sama-sama saling terdiam menatap satu sama lain. Karena merasa tidak nyaman ditatap sebegitu intens nya oleh Rio. Diandra menutup wajahnya yang memerah. "Jangan dilihatin terus ah. Malu"  Rio terkekeh kemudian melepaskan tangan Diandra. "Haha kenapa sih? Masa gak boleh liatin istri sendiri. Emang sekarang udah haram ngeliatin mukhrimnya" ucap Rio dengan nada merajuk. "Gak Kak! Diandra cuman malu. Kalau Diandra jelek gimana. Kalau Dian-" "Shhhh" jari telunjuk Rio ia tempelkan di bibir mungil Diandra. "Gak ah! Kamu cantik sangat cantik malah"  "Masak?"  "Iya" "Makasih"  "Sebentar lagi Kakak berangkat. Mau dibawain oleh-oleh apa?" Tanya Rio. Diandra menggeleng. "Kakak pulang aja udah jadi oleh-oleh terindah buat Diandra" jawab Diandra sangat tulus. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa lagi jika Rio kenapa-napa. "Beneran?"  "Iya beneran. Tapi kalau bisa sih nitip sepatu yang mirip sama girl band. Girl band Korea ya.. ya.." ucap Diandra sedikit memohon.  "Katanya gak mau oleh-oleh" "Kan nitip bukan minta oleh-oleh" Sudah.. Rio angkat tangan saja. Diandra sangat pintar untuk dilawan. "Oke" "Tapi cium dulu!" Pinta Rio. Diandra mengangguk dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya. Perlahan Diandra mendekatkan wajahnya ke wajah Rio. Deru nafas hangat mereka melebur menjadi satu. Saat sudah benar-benar menempel. Rio menggerakkan bibirnya terlebih dahulu. Melumatnya lembut penuh perasaan. Diandra hanya membalas sebisanya saja.  "Ck.. jangan m***m di sofa kek. Masuk kamar sana. Tau yang pengantin baru. Berasa dikasih lem uhu aja"  Rio dan Diandra langsung menjauhkan wajah mereka saat memdengar suara Rizkan. Rio mendecak pelan. Bagaimana Rizkan bisa merusak acara enaknya bersama Diandra. "Malu" Diandra bersembunyi di leher sang suami. "Pergi lo!" Usir Rio. "Apa salah hamba?" Ucap Rizkan sok dramatis. "Salah lo karena ganggu acara mesra-mesraan pengantin baru!" Jawab Rio. Rizkan mengelus-elus dadanya. "Ya Allah ampunilah dosa mereka yang b******u di depan jomblo Ya Allah. Kabulkan do'a Baim Ya Allah" Sebuah bantal sofa mendarat mulus di kepala Rizkan. Rizkan mengusap-usap kepalanya.  "Makanya cari pacar boar bisa diajak enak!" Ucap Diandra. Rizkan hanya nyengir tanoa arti. Ia menggaruk telinganya yang memerah. Bagiaman mau dapat pacar. Orang cewek pada di dinginin sama Rizkan. Dari yang muda sampai yang nenek. "Nanti kalau Rio udah pulang dari Korea. Kakak bakal udah punya pacar!"  "Oke kita tunggu" balas Rio dan Diandra berbarenga. Kemudian Rio melirik jam tanganya. "Kakak harus berangkat Dii. Jaga diri baik-baik ya" Rio menurunkan Diandra dari pangkuanya. Kemudian ia berdiri merapikan bajumya yang lumayan kusut. "Ya Kak" jawab Diandra. Kemudian ia memeluk Rio. "Cari uang yang banyak ya Kak" "Iya sayang" "Biar bisa nyenengin Diandra" "Iya sayang ku" "Uhuk..uhuk leher gue gatel banget! Mau muntah rasanya!" Gidik Rizkan ngeri. Bagaimana mana bisa dua orang di depanya ini begitu alay. Hanya seminggu saja seperti mau ditinggal mati. "Jomblo diam!" Lagi-lagi Rio dan Diandra berucap berbarengan. "Oke fine!" Rizkan pergi ke kamarnya meninggalkan pasutri yang sangat menyebalkan itu. Cup Rio mengecup kening Diandra lama dan dalam. "Jangan lupa telpon ya" Diandra mengangguk lalu ia mengantarkan Rio sampai depan pintu. "Daaahh"  Saat mobil yang ditumpangi Rio bersama para pengawal-pengawalnya pergi. Diandra kembali masuk dan tidak lupa mengunci pintu rumahnya. ***** 13.00 Kamar Rizkan Setelah memastikan Diandra sudah tidur Rizkan kembali ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit jamarnya sembari berpikir keras. "Arghss gimana ini! Siapa coba yang harus gue jadiin pacar?" "Marini? Painem? Mbak kantin? Mbok Jaroh? Tesa? Marini? Eh udah ya tadi Marini" Rizkan mengacak-acak rambutnya kesal. Entah berapa banyak lagi nama wanita yang harus ia sebutkan. Habis banyak baget sih yang deketin Rizkan. Hampir setengah cewek di kampusnya ngejar-ngejar Rizkan. Tapi tidak ada satupun yang nyangkut di hati Rizkan. "Cewek bar-bar! Mau gak ya dia jadi pacar pura-pura gue. Mau kali ya dia kan juga jomblo. Dia juga cantik gak malu-maluin deh ya! Tapi kalau dia gede kepala gimana? Alah bodo amatlah. Cuman dia satu-satinya harapan gue. Satu minggu bor mau cari dimana coba? Memang cari pacar seenak masak mie instan. Cuman butuh waktu 3 menit!" Kemudian Rizkan merogoh sakunya. Mencoba menelpon Nisa si cewek bar-bar.  "Hellow" Rizkan mendecih dalam hati. Selain bar-bar Nisa juga cewek alay. "Heyy bar-bar lagi ngapain lo?" Tanya Rizkan berbasa-basi. "Lagi boker!" "Jangan bercanda lo!" "Tau aja lo kalau gue lagi bercanda. Gue lagi masak nih" Dalam hati Rizkan bersorak girang. Ternyata cewek bar-bar bisa masak juga. Hehe bisalah nanti Rizkan suruh-suruh buat bikinin makanan. "Wahh jago masak lo? Masak apaan emang?"  "Masak air" Rizkan kembali memasang wajah datar. Nisa tetaplah Nisa. Cewek bar-bar yang tidak jago dalam semua hal. Hanya bisa menyusahkan orang saja. "Sialan!" "Btw ngapain lo nelpon gue? Pasti kangen ya! Aelah baru juga semalem ketemuan. Susah ya jadi cewek cantik banyak yang kangen. Emang lo kangen berat ya sama gue? Dari tadi bulu mata gue rontok terus. Kata google sih karena ada yang kangen. Lo ya yang kangenin gue?" Cerocos Nisa panjang lebar. Rizkan hanya bergidik ngeri saja. Sekali ngomong Nisa seperti masa demo saja. Tidak ada titik komanya. "Gak lah.. gue cuman bilang nanti malam ketemuan kuy di cafe semalam" "Lo orang ke seratus yang ngajakin gue keluar. Dan karena angka seratus angka kesukaan gue. Gue mau lo ajak keluar hehe" "Mau bilang aja kali. Gak usah alibi" "Tau ah! Udahan ya mau mandi" "Jorok belum mandi. Baunya sampai sini tau!" "Sewot lo! Hari minggu gak bakal berkesan kalau kita mandi" Rizkan manggut-manggut dan mengulas senyum. "Yaudan sono mandi" "Oke" Bep Rizkan melempar ponselnya sembarangan. Lalu ia memposisikan tidurnya senyaman mungkin. Sampai kantuk menjemputnya. ***** Tbc BARU UPDATE YAHH SEMOGA SUKA. PADAHAL MASIH CAPEK BANGET INI HEHE TAPI DEMI KALIAN GUE RELA WKWK. MAAF YA KALAU PART INI SEDIKIT NGEBOSENIN HABIS OTAK GUE BUNTU BANGET KAGAK BISA DIAJAK KOMPROMI JADI MAIN ASAL NULIS AJA. SALAM SANDY AULIA AZAHRA_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD