ojol 4

1643 Words
Siang, panas, debu. Tiga kata yang memiliki arti paling malas untuk gue jelaskan, kenapa? Nggak perlu tanya Lo pada udah tau lah kenapa, btw gue lagi ada di sebuah warung yang menjadi tempat gue dan temen-temen nongkrong tiap siang menjelang adzan zuhur, sekedar melepas lelah dan dahaga sebelum kami para kaum muslim berbondong masuk masjid yang selalu kami sambangi tiap siang. Untuk keamanan motor, nggak perlu khawatir deh. Kita di sini memiliki teman satu angkatan yang berbeda agama dan bisa kita jadikan Manang parkir dadakan tiap kami akan menjalankan ibadah. Wts jangan hujat kami dulu, ini tuh ibarat kata timbal balik dan rasa menghargai untuk sesama, bukan membedakan, karena nyatanya beliau, atau kerap di sapa mang Usep adalah teman sejoli kami, walau kita berbeda agama kita nggak pernah saling mengejek atau menjatuhkan. terlebih mang Usep sendiri yang memang mengajukan diri untuk menjaga keamanan motor kamu saat kamu tengah beribadah. Jujur walau berteman dengan sosok yang berbeda agama, di sini kami selalu berusaha untuk saling menghargai, bahkan gue pribadi tak jarang menjaga motor dia tiap kali dia beribadah di hari Minggu. Jangan tanyakan kenapa tidak menggunakan lahan parkir yang tersedia, karena nyatanya kami malas malah memenuhi tempat parkir masjid dengan kendaraan kami yang cukup banyak. Jadi dari pada parkir di masjid kami memilih parkir di tempat langganan. "Sep, nitip Moro lagi ye!" Bang Adi selaku orang yang cukup senior di angkatan perojolan ini berseloroh Rian sembari menepuk pundak mang Usep, yang berhasil membuat kami terkekeh bersamaan. "Aelah, lagi, Bang?" "Iye lah, seperti biasa" "Ada uang parkir kan?" "Tenang AE, Lo makan apa aja comot sesuka hati, gue yang traktir hari ini!" "Widih, cair banyak nih kayanya. Boleh lah ngutang." Gue beranjak dari tempat duduk, mencomot satu bakwan tebal yang masih terlihat banyak minyak di sana, sembari berjalan kearah bang Adi. "Ngutang AE, lu jangan ngerendah ya, Jo! Gue tau lu udah banyak dapat tarikan hari ini!" Ucap bang Adi menatap kearah gue dengan cebokan manja dan membuat kumis hitam tebal itu bergoyang-goyang seksi. Gue terbahak setelahnya. "Tau ini, udah jalan dari subuh juga, sok ngerendah AE!" Joko si bapak anak 4 itu menampol pundak gue dengan gemas. Gue hampir tersedak gorengan karenanya, dasar bapak nggak tahu diri. "Alhamdulilah bang, gue nggak ngerendah, cuma bersyukur aja." Elak gue menghabiskan satu potong bakwan, laku meraih jaket mang Joko dan gue gunakan untuk mengelap minyak yang ada di tangan gue. Agak gimana sih, risih aja gue liatnya. "Eh s****n, jaket baru gue a*u!" "Aelah kenalan lah, jaket baru wajib kenalan sama tangan gue." "Kagak! Tangan bau di larang pegang jaket baru gue, iritasi yang ada. Jauh-jauh!" Mang Joko yang memang baru mengambil peralatan baru langsung berlari menghindari gue yang terkesan suka rusuh dengan tangan yang nggak bisa diem, udah bukan rahasia umum sih. Bahkan kadang gue pernah bikin mereka murka dan merajuk karena keusilan gue. "Aelah dikit doang, bang!" "Kagak!" Teman-teman seangkatan terbahak bersamaan, melihat tingkah mang Joko yang langsung berlari masuk ke dalam pelataran masjid untuk menghindari gue. "Yah kabur dianya!" "Lagian lu rusuh, ada-ada AE bikin orang ngibrit!" Gue terkekeh pelan saat bang Adi menegur gue, sembari menggaruk belakang kepala gue yang nggak gatal, gue nggak tahu kenapa gue lebih kebiasaan melakukan hal itu saat gue merasa sedikit malu. "Ya kan pengen kenalan doang, bang. Ya kali nggak boleh." Bang Adi menggeleng pelan mendengar pembelaan dari gue yang terkesan nggak masuk akal, bahkan beberapa teman yang lain ikut menyuraki gue dan membuat gue agak merasa sedikit malu. Kebiasaan gue emang suka malu-maluin. "Udah lah yok ke masjid, udah masuk Zuhur." Ucap bang bang Adi beranjak dari duduknya dan di ikuti kamu semua. Bang Adi menepuk pundak mang Usep sebelum berlalu. Seketika niat iseng gue muncul saat melihat celah itu. Gue berlahan kearah mang Usep. Setelahnya tangan gue menggantung dan siap untuk menepuk pundak mang Usep dengan tangan gue yang masih penuh dengan minyak bakwan tadi. "Ets, mau apa Lo?" Gue melongo sesaat, menatap mang Usep dengan alis berkerut. "Ikutan bang Adi, nepuk ala-ala sobat lama gitu." "Nggak ada! Tangan Lo mintakan, bikin jaket gue bau nanti!" Kilas mang Usep dengan tubuh yang berusaha menghindar dari gue. "Dikit doang bang, kagak kena minyak kagak, biar kita macam plend gitu bang." "Kagak, Jo kagak! Jauh jauh!" Kelakuan gue yang seketika mendapat gelengan pelan dari bang Adi. Bukan rahasia umum lagi dengan tingkah gue yang ini. Gue hanya meringis kecil sembari berlalu menyusul mereka untuk beribadah di waktu siang seperti sekarang ini. "Abis ini lo lanjut narik atau balik, Jo?" Gue menoleh seketika saat bang Adi bertanya sesuatu yang membuat gue ingat suatu hal. Untunh bang Adi bertanya kalau nggak bisa jadi anak paling kuwalat gue sama orang tua. Apalagi siang nanti gue ada janji sama mamak untuk ngater beliau ke tukang jahit langganan. "Balik kayaknya bang, gue ada janji sama mamak." Kata gue. Kami sudah duduk teras masih bersebelahan guna melepas sepatu yang kami kenakan. "Kenapa emang bang?" Tanya gue menoleh kearahnya. "Kagak. Tanya aja gue." "Gue kira kenapa." Bang Adi terbahak sebentar. "Tapi bagus deh kalo lu balik, saingan gue narik berkurang satu!" "Eh k*****t, gue kira mah apaan!" Jangan heran kenapa gue nggak sopan, gue sama bang Adi ini selisih empat tahun doang, dan udah biasa ya kita saling mengumpat tanpa ada rasa tersinggung satu sama lain. "Ya gimana, lo ini kebiasaan serobot orderan orang ae!" "Mana ada, udah dari Sononya lari ke gue ya bang, gue mah tinggal pick aja." "Haha, iya iya gue tahu, gitu doang ambil ati lo, pantes kelamaan jomblo!" "Tunggu kenapa jadi ngaret ke jomblo?" "Lah Lo kan emang jomblo!" "Ya gue tau gue jomblo. Nggak usah di perjelas lagi lah bang, bikin nyesek aja!" Bang Adi terbahak karenanya, s****n, kenapa juga bang Adi pake acara ketawa ngakak segala, bikin gue kesel aja. Mana gue jadi bahan perhatian banyak orang kan, seolah gue tersangka utama yang membuat bang Adi ngakak dengan kencang. Gue menyikut lengan bang Adi seketika. "Di liatin banyak orang, bang!" Dan seketika itu bang Adi berhenti ketawa, gue tersenyum kecil, karenanya. "Sorry gue lupa!" Gue mengangguk pelan dan setelahnya kami masuk kedalam masjid setelah mengambil wudhu untuk sholat berjamaah. °°°° Gue menyusuri jalanan menuju rumah, setelah sholat tadi gue langsung melesat pulang dan mengabari mamak sebelum itu, gue nggak mau aja jadi anak durhaka yang lupa sama orang tua karena hal itu, dan sekarang gue harus berdesakan dengan kemacetan kota yang membuat gue agak jengah. Apalagi sekarang banyak kendaraan yang berceceran di jalanan dan membuat sesak jalanan yang tidak kunjung mendapat pelebaran jalan. Gue menghela napas, menoleh ke kanan saat gue berhenti di lampu merah. Banyak anak kecil dengan pakaian kumuh menghampiri banyak mobil yang berhenti di sekitar gue. Seketika gue merasa miris melihat banyak anak yang seharusnya nggak pantas untuk merendahkan harga diri mereka untuk mengemis di jalanan. Gue nggak tahu apa motif mereka melakukan hal itu, tapi yang jelas gue selalu iba karenanya. Jika banyak orang yang mengatakan pengemis itu banyak uang dan hanya tinggal meminta saja tanpa usaha lebih, gue percaya itu. Gue nggak munafik untuk buta dan nggak melihat tingkah mereka di balik layar. Namun tetap saja, tiap kali gue melihat mereka langsung terjun ke jalanan demi mendapat pundi uang membuat gue nggak habis pikir, apa mereka nggak memikirkan pendidikan mereka? Ataukah mereka terlalu larut dan dibutakan oleh uang hingga mereka lupa dengan apa yang harusnya mereka lakukan? Bukanlah harga diri itu mahal harganya, lalu kenapa mereka merekalah harga diri mereka untuk di injak-injak hanya karena mereka mengemis, sekali lagi gue cuma bisa menebak. Mungkin mereka melakukan itu karena uang. Karena seperti yang lo tahu, uang memang bisa membutakan siapa saja walau orang kaya sekalipun. Demi uang mereka akan menghalalkan segala cara, bahkan tak banyak orang akan memilih korupsi, menggelapkan dana masyarakat, atau bahkan untuk ukuran masyarakat sendiri mereka memilih untuk melakukan hal yang benar-benar di luar nalar. Menjual DVD p***o. Menjual kehormatan. Bahkan belakangan yang gue tahu, semakin berkembangnya jaman maka segala hal dimudahkan oleh beda berbentuk kotak pipih bernama smartphone, banyak orang yang menyalahgunakan benda itu. Dan gue menyayangkan hal itu. Apalagi gue tipikal orang yang suka membaca novel, untuk membeli buku novel gue belum mampu, atau belum sempat. Untuk mengakali gue memilih untuk membaca melalui sebuah platform atau aplikasi yang menyediakan bacaan gratis atau berbayar sekalipun. Dan kalian tahu? Gue sangat terkejut dengan perkembangan jaman sekarang. Para author kesayangan gue lebih memilih mengejar uang dari pada sebuah karya, mereka mementingkan pundi rupiah dari pada nilai dan moral yang ada di tulisan mereka. Apalagi mereka dengan terang-terangan menjual sebuah cerita yang menjurus ke sebuah media p***o, gue nggak habis pikir apa yang mereka pikirkan sebelum mengunggah sebuah bacaan yang menurut gue pribadi nggak pantas. Edukasi tentang s*x? Sorry, untuk sebuah hal yang bukan rahasia umum lagi, orang jelas memiliki fantasinya sendiri. Dan mereka nggak perlu sebuah bacaan untuk memancing fantasi mereka. Jadi untuk apa? Itu pertanyaan gue. Jujur gue sebagai penikmat sebuah kehaluan yang hakiki, gue mengeluh karena hal itu, gue suka nggak habis pikir. Apakah uang memang begitu mereka butuhkan? Oke secara pribadi gue mengakui itu. Tanpa uang gue mati. Itu benar adanya, tapi dengan uang yang banyak sekalipun gue nggak akan bahagia jika uang itu di dapatkan secara tidak baik. Gue bukan orang baik, gue bukan ustadz, ataupun orang suci, gue hanya mencoba mengutarakan apa yang menurut gue mengganjal. Dan bisa aja gue mencari bahan bacaan lain yang lebih jelas, itu udah gue lakukan, btw. Tapi tetap saja, ada sebuah bacaan yang kadang banyak dibaca oleh banyak orang, terutama keponakan gue yang masih menginjak bangku SMP, apa pantas bacaan seperti itu dibaca oleh anak kecil? Jangan tanyakan kenapa anak kecil bisa mengakses seperti itu, ayolah, jaman sekarang semua serba di permudah dengan benda pipih itu. Jadi wajar, walau sebenarnya nggak wajar juga sih anak yang terlalu candu dengan ponsel pintar, Entahlah, gue hanya menyayangkan hal ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD