Perut dan Hati yang Menghangat

1748 Words
Hani sudah sampai di kos Lula dan segera menelepon teman sekampusnya tersebut. Namun panggilannya dialihkan. Apakah ponsel Lula mati? Hani pun mengetuk kamar Lula. Tidak ada jawaban.  “Lul, ini Hani. Lo bangun apa masih tidur?” tanya Hani sambil mengetuk dan menempelkan telinganya ke daun pintu. Masih tidak ada jawaban. Hani kembali mengetuk pintu sebanyak tiga kali. “Lulaaa, assalamualaikum,” panggil Hani lagi sampai mengucapkan salam seperti keyakinan yang dianut oleh temannya tersebut. Masih tidak ada sahutan. Karena menunggu hampir sepuluh menit dan tidak ada tanda-tanda sahutan dari Lula, Hani nyaris putus asa. Dia pun dan hendak menghubungi Gadis namun tiba-tiba terdengar suara batuk dari dalam. “Lul?!” panggil Hani lebih keras siapa tahu suaranya tadi kurang kencang hingga Lula tak dapat mendengar dengan jelas salam dan sapaannya. Kemudian terdengar kunci kamar yang diputar dan pintu perlahan terbuka. Kepala Lula melongok dengan ekspresi lesu. Hani langsung prihatin begitu melihat kondisi temannya ini. “Ya, ampun, kasihan kali temen gue. Sorry ya gue bangunin lo, Lul,” ucap Hani dengan perasaan bersalah. Lula mencoba tersenyum sambil menggeleng. “Nggak apa-apa kok, Ni. Gue pake masker dulu, ya,” ucap Lula sambil masuk. Langkahnya tertatih dan pelan.  Hani sebenarnya ingin mencegah Lula namun gadis itu telanjur pergi ke dalam dan mencari maskernya.  “Gue masuk ya, Lul,” sahut Hani sambil melepaskan sepatu yang dia kenakan dan mengikuti Lula masuk ke dalam kamar. “Bawa apaan lo, Ni?” tanya Lula setelah memakai maskernya dan menyadari Hani datang tidak dengan kosong. “Lo pasti disuruh Gadis ke sini bawa macam-macam makanan deh,” ucapnya menebak isi plastik yang dibawa Hani. “Kalau untuk kabar lo sakit gue emang tahu dari Gadis. Tapi kalau soal isi bawaan gue ini nggak dong. Gue inisiatif sendiri,” jawab Hani menerangkan sambil mengeluarkan satu persatu isi plastik yang ia tenteng tadi. “Gue mau bilang sorry ngerepotin tapi kok ya gue juga lagi nggak berdaya gini dan butuh makan. Sorry ya, Ni,” sahut Lula sambil tersenyum. Hani bisa melihat kedua matanya yang menyipit saat mengucapkan itu. “Santai aja lagi, Lul. Lagian cuma makanan ini yang gue bawa. Eh lo duduk aja nggak apa-apa. Pasti masih nggak enak badan lo kan?!” ucap Hani memberitahukan agar Lula duduk saja. Lula pun menurut dengan duduk di tepi tempat tidur. Hani kemudian membuka sebuah kotak berisi nasi yang tertutup oleh lauk dan sayur yang entah apa karena belum dibuka. “Karena gue tahu lo punya maag dan lagi dipantang makan sembarangan, makanya gue minta ibu gue buat bikinin lo makanan. Ini gue bawain dua porsi, buat dimakan malam ini sama besok pagi pas sarapan. Ini bisa lo angetin aja kok di microwave nanti, Lul,” tutur Hani sambil menaruh kotak satu lagi di dalam kulkas. “Ini microwave berfungsi kan bukan cuma properti doang supaya kamar lo terlihat aesthetic gitu?!” tanyanya sambil menunjuk ke arah microwave yang ada di meja di dekat meja belajar. Lagi-lagi Lula tersenyum dan mengangguk. “Itu microwave punya Gadis kok. Dia sengaja naruh di sini soalnya udah nggak ada space kosong di kamar dia.” Hani menggeleng. “Kayak apa sih kamarnya jadi penasaran gue. Jangan-jangan layoutnya aja yang berantakan,” sahutnya sambil memasukkan kotak tersebut ke dalam kulkas. “Ini mah saran gue, sih, Ni. Mending lo nggak usah masuk ke kamarnya Gadis kalau nggak pengin mimpi buruk.” Lula menyarankan dengan suara serius. “Memang kenapa, Lul?” Hani pun bertanya dengan penasaran. “Kayak kapal pecah, ya?!” “Kayak kapal pecah sih nggak, cuma lebih kayak ruangan yang kena meteor. Serem,” lanjut Lula yang langsung disambut cengiran Hani. Hani lalu mengambil sendok di rak kecil di samping microwave tersebut dan menyerahkan pada Lula beserta kotak makanan yang ia bawa.  “Lo kuat makan sendiri apa mau gue suapin?” tanya Hani sambil duduk tak jauh dari Lula. “Udah bisa sendiri kok gue, Ni. Makasih, ya,” ucapnya lalu menerima kotak makan dan sendok yang diserahkan Hani. “Nyokap lo beneran sengaja masak ini buat gue, Ni?” Temannya itu mengangguk sambil tersenyum. “Iya, begitu gue bilang lo sakit, nyokap kirim SMS ke gue buat jangan beli makan di luar. Biar dimasakin aja, katanya. Terus pas udah mau bubaran, adek gue dateng ke kampus bawain tuh kotak yang gue bawain ini.” Jujur saja, Lula sangat terharu dan mendadak merindukan sosok Mama nya. Tapi dia tidak mungkin menunjukkannya saat ini pada Hani. Makanya Lula mencoba menahan sedihnya saat memandangi kotak makan yang diangsurkan Hani padanya. “Tolong bilangin nyokap lo ya, Ni, gue berterimakasih banget udah dibikinin makanan.” Hanya itu kalimat yang sanggup Lula ucapkan pada Hani sebagai ucapan syukurnya. “Jangan sungkan gitu dong, Lul. Kalau sampai nanti nyokap gue minta bayaran, lo yang repot sendiri lho. Soalnya harga makanan doi kagak murah,” kelakar Hani dengan ekspresi menggoda. Lula mengangguk lalu mulai membuka maskernya. “Gue makan ya, Ni.” namun sedetik kemudian gadis itu tersadar. “Eh, lo nggak ikut makan?” tanyanya saat melihat Hani hanya duduk saja. “Ng, gue lagi diet, Lul,” ucap Hani sambil meringis. “Jadi gue terakhir makan tadi jam tiga. Jadi sebelum ke sini gue udah sempet makan buah.” “Yah, gue makan sendirian. Sorry, ya, Ni.” “Nyantai aja ah nih anak,” tukas Hani. “Udah buru abisin makan lo. Segera sehat dan ke kampus lagi. Kita ngeghibah lagi kayak biasa biar imun meningkat,” lanjutnya dan disambung dengan tawa. Lula hanya tersenyum dan segera membuka kotak makan tersebut. Aroma sedap dan lezat langsung menyeruak dan menggoda perutnya. Air liur seketika terbit dan membuat Lula ingin segera menyantapnya. Padahal sejak tadi ia seperti tak memiliki napsu makan sama sekali. Tapi begitu mencium aroma makanan yang dibawakan oleh Hani ini Lula jadi seperti mendapatkan gairah untuk makan. Di atas nasi panas tersebut terdapat tumis buncis daging yang diiris tipis serta telur rebus. “Nyokap bilang itu tumisnya nggak pake minyak lho, Lul. Kenapa ada telur rebus soalnya nyokap kasih nasinya emang nggak banyak. Soalnya asam lambung lo masih tinggi dan lo masih enek jadi lo bisa makan putih telur aja nanti kalau masih laper,” terang Hani dengan detail. “Iya, Ni. Gue makan, ya,” ucap Lula lalu mulai menyendok nasi dan lauk yang disajikan dalam kotaknya.  Hani mengangguk seraya mempersilakan Lula menyantap makanan yang ia bawakan. Begitu suapan pertama, wajah Lula langsung berubah drastis. Antara takjub dan haru. “Duh, enak banget astaga,” seru Lula di sela makannya. “Sambil makan nggak boleh ngomong,” tegurnya seolah guru yang memarahi muridnya. Namun senyum geli masih menggantung di wajahnya. “Udah, segera dihabiskan makanannya, Lul.” Lula mengangguk dan melanjutkan memakan masakan yang dibawakan Hani tersebut. Kini bukan saja perutnya yang menghangat, tapi hatinya juga seperti diselimuti.  Dulu, saat dirinya sakit, Mama nya juga akan seperti Mama nya Hani sekarang. Sibuk membuatkannya makanan enak dan yang disukai Lula. Bahkan tak jarang, Mama mengejutkan Lula dengan berbagai hidangan menarik dan berbeda. Mulai dari pilihan berbagai kue kering, kue basah, atau jenis makanan lain yang cukup mengejutkan Lula. Meskipun Mama tahu putri semata wayangnya tersebut tidak akan langsung menyantap dan memakan semua hidangan yang diberikan, tapi semangat yang ditunjukkan oleh Mama pada gadis kecil itu turut memotivasinya untuk segera sehat. Satu kali Lula pernah bertanya pada Mama nya mengapa dirinya selalu mudah merasa kelelahan. “Kenapa ya Lula selalu mudah banget sakit. Kayaknya badan Lula ini manja banget, nggak kayak temen-temen yang lain,” katanya di atas tempat tidur dan sambil memandang langit-langit kamarnya sendiri. “Kena angin dikit, langsung sakit. Kena gerimis sedikit, langsung sakit. Lula kan jadi ngerepotin terus banyak orang,” katanya lagi dengan suara yang agak lesu. “Mau denger alasannya nggak kenapa Lula lebih mudah jatuh sakit daripada temen-temen Lula yang lain?” tanya Mama yang saat itu baru saja membereskan pakaian sekolahnya dan memasukkan ke dalam lemari. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dan menatap Mama nya penasaran. Mama tersenyum lalu duduk di tepi tempat tidur putri kecilnya. “Alasannya sih sederhana aja, sayang, karena tubuh Lula berbeda dengan teman-teman Lula. Begitu juga dengan teman-teman Lula, tubuhnya juga pasti berbeda dengan tubuhnya Lula. Daya tahan tubuhnya, imunnya, kepekaan tubuh dan cara tubuhnya memproses setiap penyakit atau virus yang masuk. Nggak sama, sayang. Karena Tuhan udah menciptakan tiap makhluknya itu memang unik,” tutur Mama nya. “Tapi kalau Lula sakit terus kayak begini kan jadi ngerepotin banyak orang. Mama, Papa, guru-guru dan temen-temen udah susah payah tengokin Lula ke sini,” keluhnya lagi.  “Lula bisa kok bikin bikin tubuhnya jadi nggak gampang sakit, biar kayakyang lain yang kebal penyakit,” tukas Mamanya dengan ekspresi yang membuat Lula penasaran. “Emang ada caranya, Ma?” tanyanya penasaran. “Ada dong. Cara ini juga yang bikin tubuh Lula bukan saja bisa jadi kebal penyakit dan nggak gampang sakit, tapi juga Lula jadi bisa lebih menghargai tubuh yang udah Tuhan kasih buat Lula.” Mama mengelus puncak kepala putrinya tersebut sambil tersenyum. Lula masih menantikan kelanjutan cara agar dirinya tidak gampang sakit seperti yang diucapkan Mama nya tadi. “Caranya cukup untuk mengendalikan apa yang Lula pikirkan, apa yang Lula rasakan, dan apa yang Lula makan. Makannya bukan cuma yang melalui mulut saja, ya. Sebab melalui mata dan telinga pun, Lula sudah memberi makan diri Lula. Makanya selalu pilihlah hal-hal baik untuk masuk ke dalam diri Lula.” Untuk ukuran gadis kecil berusia tujuh tahun, tentu saja ucapan Mama nya terlalu sulit dicerna saat itu juga. Namun semakin dewasa Lula pun memahami maksud dari Mama nya tersebut.  Ia pun semakin sadar sepertinya semakin dewasa, manusia jadi sulit untuk menyortir apa saja yang perlu ia denger atau lihat. Apakah seharusnya dilewatkan saja atau justru disimak dan dicerna. Makanya penyakit orang dewasa kebanyakan tak jauh-jauh dari penyakit yang bermula dari pikiran.  Saat itu Lula pun merasa tak ingin buru-buru dewasa dan menghadapi apa yang sudah Mama nya tersebut jelaskan. Rasanya terlalu mengerikan jadi orang dewasa yang menghadapi banyak sekali untuk tetap waras. Tapi saat ini dirinya justru sedang beranjak ke sana. Selama ia di Jakarta, entah sudah berapa kali ia sakit. Entah asam lambungnya yang kumat, demam, tumbang karena kecapekan, dan masih banyak lagi.  Lula jadi sendiri pada perkataannya sendiri dulu yang bilang ia tak akan seperti orang dewasa lain yang membiarkan telinga dan matanya ‘memakan’ semua tanpa melakukan penyaringan. Sebab sekarang dirinya justru sering sekali menyantap semuanya tanpa memedulikan itu sehat atau tidak untuk diri dan pikirannya. Sampai akhirnya, beginilah ia sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD