Serangan pertama

1020 Words
"Tak semua orang bisa terus bersembunyi dalam diam. Karena ketika mulut terkatup rapat, tak jarang hati justru mengaduh sakit." —One Last Time [06] LS. *** Gema tak bisa tidur dengan nyaman. Meski pelan, beberapa kali ia terdengar mengaduh menahan sakit. Setelah dirasa-rasa lagi, titik sakitnya itu bukan dari pergelangan kakinya, tetapi di area dekat mata kaki. Hanya saja bengkaknya meluas. Pemuda itu menutup mata, berusaha tidur dan menyingkirkan kesakitannya segera. Namun nihil. Seperti ada ribuan jarum yang menusuknya berulang di bagian yang sama. Dengan tubuh yang sudah bermandi peluh, Gema bangkit dari tidurnya. Pandangannya menerawang, mengingat kembali apa saja yang terjadi saat pertandingan kemarin. Berkali-kali mengalami cedera, baru sekarang Gema merasakan sakit yang teramat sangat. Padahal kalau diingat lagi, bagian yang sakit saat ini sama sekali tak tersentuh oleh mereka. Gema dijatuhkan di kotak terlarang. Andi yang bertugas mengamankan lini belakang terpaksa menyenggolnya kasar karena Gema dianggap mengancam pertahanan. Hingga akhirnya SMA Vegas dihadiahi sebuah penalti. Pelanggaran-pelanggaran lain pun tak sampai membuat Gema harus meninggalkan lapangan lebih cepat. Namun, entah apa yang terjadi padanya sekarang. Merasa frustrasi dengan kondisi kakinya yang tak juga membaik, Gema melangkah keluar kamar hendak mengambil obat untuk meredakan sakitnya. Begitu sampai di lantai bawah, Gema langsung mengacak-acak isi kotak obat. "Yang mana, ya?" Anak itu tampak menimang-nimang, obat mana kira-kira yang berefek cepat melenyapkan kesakitannya. Pilihannya jatuh pada salah satu obat paten dengan kandungan ibupofen di dalamnya. "Ge, lagi ngapain?" Gema terkejut, bahkan satu strip obat di tangannya terjatuh. Ia berbalik, dan langsung dihadapkan pada sorot penuh selidik sang ayah. "Daddy kok bangun? Kalau ada apa-apa harusnya bilang aku aja." Abizar mengabaikan cerocosan putranya, dan memilih bergerak lebih dekat. Melihat rambut putranya yang lepek dan sedikit basah jelas saja menambah kecurigaannya. "Badan kamu kenapa dingin kayak gini?" tanyanya kemudian saat berhasil menyentuh wajah anak kesayangannya itu. "Duduk dulu," lanjutnya sembari menggiring Gema untuk duduk di sofa. "Ini keringat, Dad. Aku gerah." "Kamu bohong tentang Dokter Bayu, dan sekarang lagi? Akan selalu ada kebohongan-kebohongan lain setelah yang pertama, Ge. Daddy enggak suka kamu jadi pembohong." Kepala Gema yang semula tertunduk, diangkatnya perlahan. Membawa Dokter Bayu dalam kebohongannya tadi memang salah besar. Pasalnya sang ayah begitu dekat dengan dokter itu, dan apa pun yang membuatnya ragu pasti akan segera ditanyakan. Dokter Bayu juga tak pernah bisa berkata bohong. "Kaki aku sakit, Dad. Tapi, enggak apa-apa kok. Masih bisa ditahan." "Masih bisa ditahan kok kelabakan cari obat," kata Abizar lagi dengan nada sinis. Bukan marah, ia hanya kesal karena Gema berani berbohong. Padahal sebelumnya anak itu terbuka mengenai apa pun. "Maaf, Daddy."  Melihat penyesalan di wajah putranya, Abizar luluh. Apalagi sekarang ia tahu kalau Gema tengah kesakitan. "Mana Daddy lihat kaki kamu. Perlu Daddy kompres?" Gema menggeleng. "Daddy juga lagi sakit. Tidur lagi aja." "Daddy lebih kuat dari kamu setidaknya." Bibirnya mengerucut mendengar cibiran sang ayah, tapi diam-diam membenarkan. Gema memang kalah telak dari ayahnya itu. "Ayo." Gema kembali dikejutkan oleh suara ayahnya. Bahkan saat ini sang ayah membungkuk di depannya. "Dad--Daddy ngapain?" "Daddy gendong sampai kamar." "Daddy, aku ini atlet sepak bola. Masa digendong. Apa kata wasit nanti?" Hening. Abizar tentu saja sibuk berpikir, apa kaitannya Gema yang ia gendong dengan wasit? "Tapi, kalau Daddy maksa. Ya udah ayo!" kata Gema yang diakhiri senyum jahil. Ia segera naik ke punggung sang ayah. Tak benar-benar ingin mengerjai ayahnya, ia hanya rindu saat bersama seperti ini. Abizar tersenyum. Kondisinya memang belum terlalu baik, tapi melihat putranya sakit, tentu saja lebih menyakitkan dari sakit itu sendiri. *** Rossa Tiaaaaaaaan bete! Septian tersenyum kecil membaca pesan yang dikirim sahabatnya itu. Dengan cepat ia mengetik balasan. Me Kenapa belum tidur, heh! Rossa Memori hp gue keformat masa. Terus, ya, foto Oppa-Oppa kesayangan gue yang bejibun lenyap seketika. Gimana enggak dongkol ? Me Gue kira kenapa. Ya udah sih, bisa di-download lagi nanti. Heboh amat. Septian kadang bingung, mengapa para gadis mengidolakan pria yang dipanggil Oppa itu? Padahal masih tampan Septian ke mana-mana. Dan lagi, secinta apa pun bukankah takkan terbalas? Jangankan terbalas, tahu mereka hidup saja tidak. Rossa Masalahnya itu tuh memori dari gue masih SMP. Ada yang enggak mungkin gue dapat lagi. Foto-foto mama. Me Kenangan itu enggak cuma tersimpan di memori ponsel lo, di hati lo juga. Me Sekarang lebih baik lo tidur. Ini udah hampir pagi. Anak gadis enggak baik tidur pagi. Rossa Makasih, ya. Lo emang selalu bisa bikin gue tenang. Rossa Lo juga tidur. Begadang terus enggak baik. Lelaki itu tak berniat membelas lagi. Bukan apa-apa, jika diteruskan, tentu saja Rossa tidak akan tidur. Ia sendiri masih sibuk memikirkan Gema. Perasaannya sedikit tidak enak, entah karena apa. Yang jelas anak itu tiba-tiba saja muncul di pikirannya. Septian sudah mengirimkan pesan, tapi tak mendapat balasan. "Semoga lo baik-baik aja, Ge," ucapnya dengan nada lirih. *** "Den, sudah siang. Bangun." Berkali-kali Mbak Rumi mengetuk pintu kamar Gema, tetapi tuan mudanya itu belum terdengar menyahuti. Ia mendadak cemas, takut kalau sesuatu terjadi. Apalagi kemarin sempat mengeluh kakinya sakit. Mbak Rumi akhirnya berinisiatif untuk melaporkan hal itu pada tuannya. Namun belum sempat ia bergegas, sosok yang hendak ditemuinya tahu-tahu sudaj ada di sana. "Ada apa, Mbak?" "Eh, Tuan. Itu ... Den Gema kok tumben, ya, belum bangun? Padahal biasanya saya panggil sekali langsung jawab." Tak ingin membuang waktu, Abizar langsung memutar knop pintu kamar putranya. Masuk dengan sedikit tergesa. "Ge." Gema yang masih bergulung di bawah selimut hanya menjawab dengan gumaman lirih. "Ge, kamu sakit? Hei, buka mata kamu." Anak itu mengerjap sebelum benar-benar membuka mata. "Daddy, aku demam," katanya sembari mengarahkan lengan sang ayah menyentuh dahinya. Abizar terkejut karena suhu tubuh putranya memang berbanding terbalik dengan semalam. "Panas banget, Ge. Kita ke dokter sekarang. Kamu jangan tidur lagi. Usahakan tetap bangun." "Enggak usah, Dad. Mau di rumah aja." "Oke, kalau gitu Daddy panggil Dokter Bayu ke sini," ujar Abizar. "Mbak, tolong jaga Gema sebentar. Saya mau menghubungi Dokter Bayu." Mbak Rumi hanya mengangguk, sementara Gema memilih kembali memejamkan mata. Tak benar-benar tidur, hanya berusaha meminimalisir rasa pening yang menyerang kepalanya. Ia benar-benar tidak tidur semalam karen rasa sakit di kakinya. Mungkin karena itu, tubuhnya melakukan aksi protes. Semoga saja hasil pemeriksaannya nanti menunjukkan kalau Gema baik-baik saja. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD