satu

1660 Words
Arsha sedang duduk di meja belajar dia mengerjakan tugas, walaupun pikiran nya terus memikirkan hal tadi. Brak!! Tiba-tiba saja pria paruh baya membuka kan pintu dengan keras hingga membuat Arsha terkaget Pria paruh baya itu adalah papah Arsha - Wisnu. dia menghampiri Arsha dengan langkah besar dan dengan wajah yang tidak bersahabat "JELASKAN MAKSUD DARI ISI VIDEO INI!" "M-maksud nya pah?" "LIHAT!" ucapnya sambil menaruh handphone dan memutar sebuah video Itu bukan video biasa tapi video dirinya tadi saat dia di tembak oleh Angga di lapangan. Tamat sudah riwayat Arsha!. Dia melototkan matanya tak percaya! Ternyata di saat itu ada yang memvideokan itu. Tapi siapa? Yang telah memvideokan hal itu? "KAMU SAYA SEKOLAH UNTUK BELAJAR! BUKAN UNTUK MENCARI PACAR!" "PAPAH SUDAH BILANG, JAUHI LAKI-LAKI ITU. DIA TIDAK BAIK! ANAK BRANDALAN!" Ucapnya "PAPAH HANYA MENGENAL KAK ANGGA DARI LUARNYA! DIA BAIK! NGGAK YANG PAPAH KIRA!"jawab Arsha tidak terima Wisnu semakin menggeraskan rahangnya kenapa Arsha sudah berani membakang Kepadanya. "SUDAH BERANI MELAWAN KAMU?! LIHAT GARA-GARA KAMU BERTEMAN DENGAN MEREKA KAMU MENJADI PEMBANGKANG KE ORANG TUA!" "Papah jangan pernah salahin mereka!" "DIMANA LETAK SOPAN SANTUN SEORANG ANAK TERHADAP ORANG TUANYA? DIMANA ARSHA!" "PAPAH JUGA! DIMANA LETAK KE ADILAN MEMBAGI KASIH SAYANG? DIMANA PAH!, PAPAH CUMAN PERHATIIN ARKA BUKAN ARSHA! ARSHA SELALU DI ANGGAP GAK ADA DI SINI!" Ucapnya lalu pergi meninggalkan rumah Dia sudah lega karna sudah mengeluarkan uneg-uneg nya terhadap Wisnu, tapi di satu sisi dia juga menyesal karna telah membentak papah nya sendiri. Walaupun Wisnu selalu berlaku tidak adil kepadanya tapi dia juga sangat menyayangi papahnya. *** Pukul 15.00 Arsha sedang duduk di rumah pohon sambil mengayunkan kedua kakinya kebawah Dia menatap ke arah depan yang terdapat danau dia menengok ke arah bawah namun dia tidak menemukan letak keberadaan Angga Biasanya setiap jam segini Angga selalu diam di rumah pohon apalagi di hari libur seperti sekarang. Dia membuang napas pendeknya lalu memejamkan matanya menikmati semilir angin yang sangat sejuk. Rambutnya berterbangan kesamping mengenai pipi dirinya akibat semilir angin Tiba-tiba saja ada jari yang membenarkan rambut dirinya yang sempat berantakan oleh angin. Dia merasakan deru napas seseorang yang tidak asing baginya, dia membukakan mata perlahan dan tersenyum kepada seseorang yang ada di hadapannya. Angga pun membalas senyuman Arsha tak kalah manis. dia menatap lekat manik mata coklat milik Arsha "Dah lama?" "Nggak kok"jawabnya. Angga hanya mengangguk lalu kembali memperhatikan wajah milik Arsha. Angga mendengus kesal setelah melihat ada luka lembab di bagian pipi gadis yang ada di hadapannya. "Ini kenapa?" Tanyanya sambil memegang pipi bagian kiri. Arsha tersenyum canggung "gak papa" Angga berdecih pelan, kenapa gadis yang ada di hadapannya tidak pernah bilang jujur? "Ck, bilang aja kenapa kek gini, hm?"tanyanya lagi "Di tampar heheh" Jawabnya dengan di iringi cengiran. Angga mendengus kesal lalu berbalik badan untuk mengambil kotak obat. "Gua obatin dulu ya? Pasti ini ulah om Wisnu kan?" Arsha langsung menahan tangan Angga agar tidak mengambil kotak obat "Gak usah, kata kak Angga kita mau ketemu mamah Emma" Tolaknya. Memang Angga kemarin mengajak Arsha untuk bertemu dengan ibu nya - Emma. Dia mengangguk pelan lalu menarik tangan milik Arsha untuk turun. Angga membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Arsha tentunya "Silahkan masuk tuan putri" Ujarnya dengan senyuman manis "Makasih kak" Setelah itu Angga menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, rumah nya dan rumah pohon berjarak agak jauh membutuhkan waktu sekitar 50 menit. "Eum, kak, gua penasaran deh sama Adik kak Angga." "Nanti ketemu juga ya, kan sekalian ketemu sama mamah Emma"ucap Arsha "Gak boleh!" Jawab Angga dengan nada dingin "Loh kenapa?" "Nanti lo di ambil sama dia, gua gak mau itu."jelas Angga "Kan cuman kenalan" "Tetep gak boleh..." Dia menoleh ke arah samping setelah memarkirkan mobilnya. Angga mendekatkan wajahnya ke arah wajah milik Arsha Arsha menahan napasnya dan mencoba untuk menormalkan detak jantungnya. Jangan sampai jantung dia jatuh ke mata kaki karna wajah Angga yang semakin mendekat, dia memejamkan matanya sambil meremat rok pendeknya. Angga tersenyum miring lalu mendaratkan bibirnya di pipi milik Arsha, dia mengecup singkat pipi milik Arsha dan berbisik "Karna gua cemburu ngeliat lo deket sama cowok lain selain gue" Bisiknya lalu pergi meninggalkan Arsha yang masih diam mematung di mobil Arsha diam membeku dia terkejut wajahnya sudah memerah bak tomat karna malu. *** Dia mengamati seluruh dalam rumah Angga cukup besar, namun, rumah ini terlihat sangat sepi, dan sunyi. Dahulu di rumah ini selalu ada Angga dan pengasuh dirinya sejak kecil, namun, 5 tahun yang lalu pengasuh itu meninggal. tapi dia meninggal karna pembunuhan Arsha tidak tahu siapa yang telah membunuh bi Asih- pengasuh Angga, tapi Angga selalu mengira bahwa yang membunuh pengasuh nya itu adalah ayahnya sendiri. Dan itu membuat Angga sangat membenci Ayahnya sendiri, sampai sekarang dia masih mencari siapa yang telah membunuh orang yang dia sayangi dan sudah dia anggap sebagai ibu kandung nya sendiri. Angga di urus oleh bi Asih sejak dia masih bayi, hanya bi Asih lah yang selalu menyayangi dirinya dengan tulus. Angga pun sudah menganggap pengasuh itu sebagai ibu nya sendiri, hanya dia yang selalu ada dan menyayangi dirinya. Dan sekarang tidak ada lagi orang yang peduli pada dirinya, keluarga nya tidak pernah perduli padanya, sekali pun untuk menanyai kabar dia tidak pernah. "Nih, minum dulu. Sambil nungguin mamah, Sya." Ucap Angga lalu duduk di samping Arsha "Makasih kak.." Angga hanya mengangguk lalu tersenyum ke arahnya. Beberapa menit kemudian deru mobil memasuki pekarangan rumah milik Angga terdengar. Senyuman di bibir Angga mengembang ketika mendengar deru mobil itu, dia yakin bahwa itu adalah Emma. "Assalamu'alaikum" ucap Emma sambil memasuki rumah milik Angga "Waalaikumsalam" Jawab mereka berdua "Kelamaan ya?maaf ya tadi macet." "Nggak kok, Sya, juga baru nyampe bareng kak Angga." "Yaudah, Sya, boleh mamah ngomong berdua sama kamu?" Arsha hanya mengangguk. "Angga keatas dulu bentar ya nak, mamah mau ngomong sama Arsha" Angga hanya mengangguk lalu dia menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Setelah punggung Angga tidak terlihat Emma menatap wajah Arsha lekat. "Mamah mau minta tolong sama kamu boleh?" ujarnya dengan suara pelan. Arsha mengangguk pelan "boleh, mah." Emma tersenyum sambil mengusap rambut milik Arsha "Mamah, mau nitip Angga ke kamu ya?tolong temani dia, mamah liat Angga bahagia nya sama kamu. Nanti kalo mamah udah gak ada mamah bakal tenang kalo Angga sama kamu." "Mamah gak mungkin nitipin Angga sama papahnya, karna, Angga sama papahnya gak pernah akur. Angga selalu menuduh bahwa orang suruhan papahnya yang sudah membunuh bi Asih, padahal bukan." Jelas nya dengan di iringi sedikit isakan 'Bukan salah lagi' batinnya. Arsha hanya diam mendengarkan perkataan Emma, dia menatap lekat Emma dengan tatapan sendu "Mamah gak tau umur mamah tinggal berapa lagi, maka dari itu mamah pengen ngomong ini ke kamu. karna cuman kamu lah orang yang paling mamah percayai" "Mamah, mohon jangan tinggalin Angga. dia bahagia kalo sama kamu." Arsha mengangguk ragu lalu menyeka air mata Emma dan langsung memeluk tubuh milik Emma. "Mah, jangan ngomong kek gitu. Sya, pasti bakalan ada di samping kak Angga" Emma tersenyum mendengar jawaban dari Arsha. Memang sekarang hanya Arsha harapannya agar terus selalu ada di samping Angga. *** Pukul 21.30 Arsha sedang berada di markas milik Nevelas, Arsha sendiri akur dengan anggota Nevelas tapi hanya beberapa. Arsha sedang duduk di sofa dia mengobati wajah milik Angga karna tadi geng Nevelas tawuran dengan geng sebelah. Dia sendiri tidak ikut tawuran karna tidak boleh jadi dia berdiam diri di markas, dari pada dia di rumah selalu di siksa mending dia ikut ke markas. Dia mengobati bagian bibir Angga yang sedekit robek, wajah mereka sangat dekat. Angga tersenyum tipis saat dia menatap wajah milik Arsha, sangat indah dan cantik. Ujung mata milik Arsha berhasil menangkap Angga yang sedang menatapnya dengan lekat. dia tidak enak karna di sini banyak anak-anak yang lainnya, mereka semua menyaksikan pemandangan itu tak luput dari sorakan anggota yang lainnya. "Duh, panas bett brokk, AC nya nyala padahal." ujar pian tiba-tiba mengompori mereka berdua. "Jangan iri, jangan iri, jangan iri dengki!. Tapi, aing iri!" "Berisik!"ujar Angga dengan nada dingin tanpa menoleh ke arah mereka Arsha tersenyum miring saat ide jahil muncul di pikirannya. Dia menekan sedikit luka robek milik Angga sehingga Angga meringis. "Akhh... SYA, jangan di teken dong." Ujarnya Arsha terkekeh pelan lalu mengangguk "Iya maaf, sengaja." Sontak Angga melotot dan mendengus geli, gadis yang ada di hadapannya selalu saja jahil. Tenggorokan Arsha terasa haus, dia akan mengambil air minum ke dapur namun saat dia hendak berdiri, tiba-tiba saja tangan kekar milik Angga meraih pingang rampin milik Arsha. Arsha yang kaget dia tidak bisa memaksimalkan tubuhnya karna pingangnya dj tarik oleh Angga dan dia pun berhasil duduk di pangkuan milik Angga. Semua anggota melongo melihat kejadian itu, hanya hening tidak ada yang berbicara. Angga tersenyum miring lalu semakin mengeratkan tangannya di perut rata milik Arsha dan wajahnya menompang ke bahu kecil milik Arsha Dia menghisap aroma wangi dari leher milik Arsha sambil memejamkan matanya. Arsha masih syok, kenapa Angga bisa-bisanya melakukan hal ini di depan anggota yang lain? dia kan jadi malu. Pipinya sudah panas dan memerah bak tomat, sungguh dia malu sekarang. "Mau kemana, hm?" Tanya Angga dengan suara seraknya. Dia yang mendengar suara Angga yang berubah, jadi gelapan tidak jelas. "M-mau ke d-dapur." "Ngapain?" Belum sempat Arsha menjawab seseorang memekik kaget karena melihat posisi Arsha. "SOPAN KAH ANDA SEPERTI ITU DI DEPAN SAYA?!" pekik bobby dengan suara khas yang cempreng melebihi toa mesjid "Berisik lo!" Ucap Angga yang tiba-tiba menggendong Arsha ala bryde style untuk menuju kamar atas "K-kak turunin malu!" "Diem!" "Kak Angga turunin cepet!" "Diem atau gua cium di sini!"hanya dengan kata-kata itu Arsha langsung diam dia takut jika Angga benar-benar melakukannya lebih baik dia diam. Setelah itu Angga menidurkan tubuh Arsha di ranjang. "Tidur, udah malem." "T-tap-" "Di rumah lo belum ada orang kan?tidur aja di sini." "Good girl" Cup Angga mengecup singkat kening milik Arsha dan berbisik "Goodnight" Setelah itu Angga berbalik menuju pintu untuk turun ke lantai bawah. Arsha hanya diam membeku wajahnya semakin memenas dan memerah. Tidak bisa kah Angga membuat jantung dirinya berdugem? kenapa dia selalu bersikap sangat manis? ohh itu sungguh tidak aman bagi jantung nya yang selalu baperan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD