Bab 09

1751 Words
Selesai sarapan pagi di rumah Bu Sandra, Aril dan Naura lalu pulang ke rumah mereka. Di dalam mobil Aril, Naura kini tengah memikirkan sesuatu. Naura menggigit bibir bawahnya. Ia menoleh ke samping, tepatnya pada Aril yang kini fokus menyetir mobil. "Apa bener Tuan Aril yang selimutin aku? Masa, sih? Tumben dia baik. Nggak mungkin mama yang nyelimutin, dia pasti udah marah duluan saat tahu aku tidur di sofa," guman Naura dalam hati. "Ngapain lihatin saya kayak gitu?" ketus Aril yang sadar Naura kini menatapnya. Selalu saja begitu, Aril tak pernah lembut-lembutnya ketika berbicara dengan Naura. "Saya natap ke kaca mobil, bukan anda," kilah Naura lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Tadinya ia ingin menanyakan soal selimut itu pada Aril, tetapi tidak jadi, takut nanti pria itu malah marah-marah. "Alasan. Bilang aja kalau saya ganteng," seloroh Aril, tetapi Naura memilih untuk tidak memedulikannya. Mobil Aril berhenti di depan rumah. Naura hendak turun. Akan tetapi, tiba-tiba pintu mobil itu tidak mau dibuka. Sepertinya Aril menguncinya dari dalam. "Kenapa dikunci? Saya pengen turun," desak Naura. Aril terlihat cuek. Ia tidak memedulikan perkataan Naura. Pria dengan hidung mancung itu mengeluarkan amplop coklat dari tas kerjanya. "Ambil ini." Naura membuka amplop coklat itu. Ternyata isinya uang. "Mulai sekarang berhenti untuk mencari kerja! Saya nggak mau mama kenapa-napa karena kamu," tukas Aril. Naura terdiam menunduk, bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Jika ia kerja, ia takut kejadian kemarin kembali terulang. Jika ia menerima uang dari Aril, ia takut harga dirinya diinjak-injak lagi. Aril membuka kunci mobil. Pria itu akan turun, tetapi perkataan Naura menghentikan pergerakannya. "Tuan, saya nggak matre ...," ucap Naura pelan, menatap Aril lamat-lamat dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu memberikan uang Aril lalu bergegas turun dari mobil. "Naura!" panggil Aril yang sudah turun dari mobil, membuat Naura menghentikan langkah dan berbalik badan, menatap Aril. "Maaf atas perkataan saya beberapa hari yang lalu." Naura terdiam membeku, cukup terkejut mendengar Aril meminta maaf padanya. "Kamu nggak matre," ucap Aril lagi. Naura masih belum berkutik, saking terkejutnya ia tidak tahu harus berkata apa. "Malam nanti saya pengen makan sup iga buatan kamu. Boleh?" Aril memegang tangan Naura dan meletakkan amplop coklat itu di telapak tangan wanita itu. "Pergi ke supermarket dan beli bahan-bahan untuk bikin sup. Kemarin pagi saya lihat daging di kulkas udah nggak ada." "Bukannya Tuan nggak mau makan masakan saya?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Naura. Ia masih heran, kenapa tiba-tiba Aril ingin memakan masakannya. Sungguh, itu pertanyaan yang tidak Aril inginkan. Waktu itu ia pernah bilang tidak sudi memakan masakan Naura. Akan tetapi, hari ini ia menelan perkataanya sendiri agar Naura mau menerima uangnya dan tidak berpikir untuk bekerja lagi. Demi Naura, Aril rela merendahkan harga dirinya. "Lupakan perkataan saya waktu itu? Karena saya udah mau makan masakan kamu, jadi kamu harus terima uang dari saya dan nggak usah kerja." Naura tersenyum dan mengangguk-angguk. Dirinya senang Aril berkata lembut dan meminta maaf padanya, apalagi pria itu sudah mau memakan masakannya. "Ya sudah, saya siap-siap dulu mau ke kantor." Aril lalu memasuki rumah dan menuju ke kamarnya. *** Naura keluar dari supermaket. Ia baru saja selesai berbelanja kebutuhan dapur. Wanita itu tadi sudah memesan taksi online, tapi sepertinya belum datang. "Aww!" pekik seseorang. Naura menoleh ke belakang dan melihat seorang ibu-ibu yang terjatuh, barang belanjaannya berserakan. "Ibu, nggak papa? Kenapa bisa jatuh?" tanya Naura sambil berjongkok di samping wanita paruh baya itu. Ia lalu membantu mengumpulkan belanjaan ibu tersebut dan memasukkannya ke dalam keranjang. "Nggak papa, Nak. Memang saya yang ceroboh karena jalan sambil main HP. Saya tadi teleponan sama anak saya." "Ibu bisa berdiri?" "Kaki saya agak sakit, tapi insya allah masih bisa jalan." Ibu tersebut lalu mencoba berdiri. "Makasih udah bantuin saya. Nama kamu siapa?" "Saya Naura." "Nama yang cantik. Saya Anita. Gimana kalau kamu ikut saya makan siang di restoran, saya teraktir kamu, sebagai tanda balas budi karena kamu udah bantuin saya," ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum ramah pada Naura. "Sama-sama, Buk. Nggak usah, saya ikhlas kok bantuin ibuk." "Kamu perempuan baik, Nak." Bu Anita menatap Naura kagum. Andai anak perempuannya masih hidup, mungkin dia seumuran dengan Naura. Sebuah mobil berhenti di dekat kedua perempuan itu. "Anak saya udah datang," ucap Bu Anita. Seorang pemuda turun dari mobil tersebut. "Mama!" panggil pemuda itu. "Mas Gavin," panggil Naura, tidak menyangka jika Gavin adalah anak Bu Anita. "Naura." Kening Gavin sedikit berkerut melihat Naura bersama dengan mamanya. Apakah kedua perempuan itu saling mengenal? "Kalian saling kenal?" tanya Bu Anita. "Mas Gavin udah dua kali bantuin saya, Buk," sahut Naura. "Bantuin apa?" "Yang pertama dia kasih saya payung di jalan, saat saya lagi kehujanan. Kedua, dia bantuin saya dari perampok," jelas Naura. "Mama sendiri kenapa bisa kenal Naura?" tanya Gavin. "Naura baru aja tolongin Mama. Tadi mama jatuh di sini." Mata Gavin sedikit melotot. "Mama gak papa, kan?" tanya pria itu panik. "Mama gak papa, kok, Nak. Cuma jatuh dikit." "Lain kali hati-hati, Mah. Untung aja gak ada yang luka," ceramah Gavin pada mamanya lalu menatap Naura. "Makasih, udah bantuin mama saya." "Sama-sama, Mas." "Karena kamu nggak mau makan siang bareng ibuk. Gimana kalau ibuk dan Gavin antar kamu pulang. Sepertinya kamu nggak bawa kendaraan," ucap Bu Anita. "Makasih tawarannya, tetapi nggak usah, Buk. Saya tadi udah pesan taksi online. Nah, itu kayaknya taksi yang tadi saya pesen," ucap Naura seraya menunjuk ke taksi yang baru saja berhenti di dekat supermaket tersebut. "Kalau gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Nak," ucap Bu Anita. Setelah Naura pergi, wanita paruh baya itu lalu menoleh pada putranya yang kini terdiam sambil senyam-senyum, menatap taksi yang ditumpangi Naura. "Udah, nggak usah dilihatin terus. Nanti naksir," sindir Bu Anita, membuat Gavin tersadar dan memasang wajah datar. "Apaan, sih, Mah." Tingkah Gavin sedikit gelagapan. Melihat putranya itu salting, Bu Anita semakin menggodanya. "Naura cantik, ya. Baik lagi. Mama jadi pengen punya menantu kayak dia." Gavin memegang kening mamanya. "Nggak panas. Apa mungkin gara-gara jatuh tadi, ya?" celetuk pria itu. Bu Anita memukul lengan Gavin. "Kamu pikir mama sakit." Gavin terkekeh. "Bercanda mamaku sayang. Ya udah, ayok pulang. Setelah ini Gavin mau balik ke kantor lagi." *** Naura berjalan menaiki tangga, menuju ke kamar Aril. Ia mengetuk pintu. Ceklek! Aril keluar dari kamarnya. "Ada apa?" "Makan malamnya udah siap. Katanya tadi pagi Tuan mau makan sup iga saya." "Sebentar lagi saya keluar. Saya mau mandi dulu." Aril menutup pintu kamarnya kembali, sedangkan Naura kembali ke lantai bawah. Lima belas menit kemudian pria itu keluar dari kamarnya. Ia melihat Naura berdiri di samping meja makan. Senyum Naura merekah saat melihat Aril tiba di meja makan. Pria itu mendudukkan bokongnya. "Dicoba, Tuan, sup iganya," tutur Naura. Aril berdeham lalu mulai mencicipi sup buatan istrinya itu. "Gimana rasanya?" tanya Naura penasaran. Ia tidak sabar menunggu jawaban dari Aril. "Rasa jeruk. Ya, rasa sup igalah," sungut Aril. "Maksud saya enak atau nggak?" "Biasa aja." Naura mengerucutkan bibirnya, sedikit kecewa dengan jawaban Aril. Padahal masakannya selama ini selalu enak, atau Aril hanya gengsi mengatakan kalau masakannya itu memang lezat. "Saya ke kamar dulu." Naura pergi meninggalkan Aril. Melihat Naura sudah pergi, Aril memasukkan sup iga ke dalam mangkok kecil. Ia memakannya sedikit rakus. Pria itu lalu menambahkan nasi. Sup iga buatan Naura sungguh menggugah selera Aril, rasanya sangat lezat. Sudah lama ia tidak memakan masakan wanita itu. "Katanya biasa aja, tapi kok makannya rakus," guman Naura yang kini tengah mengintip Aril. Wanita itu tadi berbohong, sebenarnya ia tidak ke kamar. Naura tersenyum jail, lalu berjalan mendekati Aril. "Udah berapa hari nggak makan masakan saya, Tuan? Kangen, ya. Sampe rakus gitu." "Uhuk! Uhuk!" Aril tiba-tiba tersedak, kaget mendengar suara Naura. Pria itu berhenti makan dan memegang dadanya. Sebelah tangannya menunjuk air putih. Naura sedikit panik dan buru-buru mengambilkan minum untuk Aril. Aril duduk tenang. Setelah merasa cukup baikan, ia mendelik ke arah Naura. "Ngagetin aja, sih, kamu. Coba kalau tadi saya jantungan gimana?" "Maaf. Lagian Tuan bikin saya kesel. Katanya sup iga saya gak enak, tapi anda kok makannya rakus." Sial! Aril tak punya kata-kata untuk menjawab lagi. "Kalo enak bilang aja, Tuan. Nggak usah gengsi. Gengsi nggak bikin perut anda kenyang," sindir Naura seraya tersenyum mengejek Aril. "Diem kamu. Memang biasa aja, kok, rasanya. Saya memang laper aja, dari tadi siang belum makan. Makanya saya makan agak rakus," kilah Aril. "Karena nggak ada masakan saya, ya. Makanya Tuan nggak makan siang. Tuan lupa? Dulu Tuan sering muji masakan saya." Aril membuang muka dari Naura. Wanita itu membuatnya benar-benar kehilangan harga diri. "Katanya tadi kamu mau ke kamar? Kenapa balik lagi?" tanya Aril. "Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Tuan. Saya tadi cuma bohong aja mau ke kamar, padahal sebenarnya saya lagi ngintip anda makan," jawab Naura, membuat mata Aril sedikit terbelalak. Aish, sudah! Rasanya Aril ingin menghilang saja dari hadapan Naura saat ini. "Kalau sup iga nya memang nggak enak, biar saya buang aja, Tuan. Saya masakin lagi anda makanan yang baru." "Nggak usah, kamu pasti capek masak terus." "Nggak capek, kok. Justru saya hobi masak. Lagian kasihan perut anda kalau makan sup yang gak enak. Eh, tunggu! Barusan anda peduli sama saya?" Mata Naura membola, mulutnya sedikit menganga. "Jangan salah paham. Saya nggak mau kamu kelelahan karena masak terus, nanti kamu sakit saya juga yang dimarahin sama mama." "Serius itu alasannya? Atau anda nggak mau supnya dibuang karena anda suka." Naura tersenyum lebar lalu mengambil sup yang ada di meja makan. "Mau dibawa ke mana?" tanya Aril, menahan tangan Naura. "Mau saya buang." "Enak aja, bahan sup ini dibeli pake uang! Percuma saya kasih kamu uang kalau saya nggak makan." "Nanti saya masakin anda lagi." "Nggak usah, biar saya habisin supnya. Kamu pikir cari uang gampang, seenaknya pengen buang makanan," omel Aril. "Ngaku dulu kalau sup saya memang enak, baru anda boleh makan!" "Kenapa kamu yang ngatur saya makan? Masakan ini dibeli pake uang saya. Saya bebas kalau mau makan." "Tapi saya yang masakin. Emangnya Tuan bisa masak sendiri?" Naura meletakkan mangkuk sup tersebut di meja. Ia berdiri di samping Aril dan menghadap ke pria itu. "Supnya enak banget, kan?" tanya Naura, menatap Aril sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Aril diam sambil memasang wajah cemberut. Membuat Naura sedikit geram dan akhirnya menankup kedua pipi lelaki itu lalu mengangguk-anggukan kepalanya. "Enak," ucap wanita itu, mewakili Aril. Naura tertawa senang. Ia gembira karena Aril sudah mau memakan masakannya. Walau pria itu mengucapkan tidak enak, tetapi Naura tahu pria itu hanya berbohong. Ia sudah hafal sifat Aril yang suka gengsi. Aril termenung menatap wajah Naura. Pertama kalinya setelah mereka menikah, ia melihat Naura tertawa riang dan itu membuatnya terlihat sangat manis. ~Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD