KEDATANGAN ORANG TUA RISKA

968 Words
“Jangan kau sentuh payungku, ini untuk Elin. Aku tidak mau payungku ternoda oleh sifatmu” Peringatan untuk Riska dari Neneng. Riska hanya buang muka setelah menerima peringatan itu, lalu ia melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri di bawah satu payung untuk melindungi diri dari rincikan hujan menuju rumah Elin. “Eh mbak yang mengaku cantik make upnya luntur tu, yah sudah tidak cantik lagi deh.. dempulannya rusak” Ejek Siti dengan tatapan sinis. “Riska!” panggil seseorang dari arah belakang Riska. “Mama, Papa?” mata Riska melotot terkejut dengan kedatangan orang tuanya secara tiba-tiba. Entah dari mana orang tuanya tahu kalau dia sedang berasa di sini. “Apa yang kamu lakukan di sini? Jadi benar kamu merebut suami orang? Astagfirullah hal Adzim Riskaa dosa apa yang sudah Papa lakukan sehingga mempunyai anak sepertimu” keluh pak Boby ayah Riska. “Dikuliahkan bukannya serius belajar justru dapat teguran terus dari kampus, keluyuran saja pekerjaan kamu. Sekarang kamu hendak merusak rumah tangga orang juga? keterlaluan kamu Riska” lanjutnya dengan geram. “ Mama sama Papa sudah angkat tangan, kamu harus cepat-cepat Papa nikahkan dengan Kemal supaya kamu cepat dewasa bisa berubah. Ayo pulang!” lanjutnya. Riska sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan bos pak Boby di tempat beliau kerja, meski Kemal bosnya namun Kemal tidak mau di panggil pak oleh pak Boby karena mereka sudah terlalu akrab. Awalnya pak Bobby sering curhat tentang tingkah laku anak semata wayang yang menurutnya bandel susah di atur, lama kelamaan membuat Kemal penasaran dengan sosok Riska. Pak Bobby mengajak Kemal untuk bersinggah ke rumahnya memperkenalkan Riska namun sayang disayang Riska memberontak tidak mau bertemu dengan bos Papanya, meski Riska menolak tapi Kemal akhirnya bisa melihat sosok yang membuatnya penasaran dan kini benih-benih cinta telah bersemi di hati bos pak Bobby sejak pertama kali melihat anak gadis karyawannya, ia langsung mengutarakan saat itu juga ingin melamar anak bawahannya tersebut. “Aku tidak mau nikah sama teman Papa yang tua itu aku mau nikahnya sama mas Arsya, Papa!” bantah Riska kepada orang tuannya meski ia belum melihat secara langsung lelaki yang dijodohkan dengannya. Baginya Arsya paling tampan tidak ada tandingannya. “Mas ayo nikahi Riska, dan tinggalkan wanita buluk ini” permintaan Riska kepada Arsya yang masih membujuk Elin. Dia jadi parno kalau orang tuanya bakal nikahkan paksa Riska dengan pria pilihan mereka. “Aduh Ma SAKIT” ucap Riska merintih menahan sakit di telinganya. Bu Ani jengkel mendengar permintaan Riska pada suami orang untuk meninggalkan keluarganya. “kamu itu lo kalau mau ngomong mbok ya dipikir dulu, jangan asal jeplak. Habis sudah kesabaran Mama. Kamu itu kebangetan Riska, kebangetan!” kata bu Ani kalap, habis sudah kesabarannya menghadapi Riska. “Ma lepas SAKIT” “Biar lepas sekalian ini telinga, tobat sudah Mama” “Setok lelaki itu masih banyak malah pilih lelaki orang, kayak tidak laku saja kamu Ris, jangan bikin Papa Mama malu” ceramah bu Ani dengan tangan yang tak berhenti mencubiti badan Riska. “Mas Arsya itu tampan Ma, PNS lagi tidak cocok sama petani. Cocoknya sama aku perawat. Aku cinta mati sama mas Arsya Ma, kita saling mencintai. Tolong Papa Mama mengerti!” Riska pun tidak mau kalah dengan pendapat mamanya. “Perawat apa? Kuliah saja suka bolos kapan jadi perawatnya? Teman Papa tidak kalah ganteng dibanding nak Arsya. Kamu pasti suka” bujuk bu Ani kepada anak gadisnya. “Tidak mau, tua, jelek. Mama apa Papa saja sana nikah sama dia!” saran Riska tanpa rasa bersalah. “Apa?” Mata ibu Ani melotot sambil berkacak pinggang mendengar penuturan anak gadisnya sedangkan si anak hanya cengengesan tak ada rasa takut sekalipun. “Dasar ni bocah, atose!” bu Ani menoyor kepala Riska. “Ini ni akibatnya Papa terlalu sabar sama anak, anak itu perlu dicereweti. Papa sih selalu menyuruh Mama diam kalau lagi ngomel. Tu urus saja anak Papa, pusing kepala Mama” kini bukan hanya anaknya yang kena sasaran emosi, suaminya pun tak luput dari santapannya. “Kok jadi Papa yang salah” pak Burhan tak habis pikir, siapa pun yang melakukan kesalah ia juga bakal kena imbasnya termasuk yang melakukan kesalahan itu bu Ani sendiri. “Bagaimana tidak Papa rem, kalau Mama sudah mulai nyanyi tidak ada remnya. Panjang kali lebar tidak selesai-selesai ngrembet ke mana-mana ini contohnya Anak yang salah Papa juga kena” pak Boby mencoba membela diri, bu Ani hanya melengos. “Pokoknya Papa juga salah, titik” Pak Boby hanya membuang nafasnya secara kasar dengan keputusan istrinya. Pak Boby menarik paksa tangan anaknya untuk membawanya pulang setelah meminta maaf kepada Arsya dan Elin telah membuat keributan di rumahnya. Riska terus saja memberontak tidak mau mengikuti kemauan orang tua. Tidak peduli dilihat banyak orang. Dia tetap ingin bersama Arsya dan memilikinya. Pertengkaran satu keluarga itu cukup menghebohkan warga sekitar karena suara Riska yang lantang menolak untuk pulang. “kamu mau tinggal di mana? Papa tidak akan mentransfer sepeser pun untuk kamu. Kalau kamu mau uang pulanglah dan lupakan Arsya”. “Tenang saja Pa, ada mas Arsya yang akan menjamin hidupku, dia kaya, punya uang banyak untuk menuruti semua keinginanku, tidak kaya mama pelit mintak satu juta dikasih 100 ribu” “Apa kamu bilang mama pelit? Ni rasain jadi anak tidak ada rasa bersyukurnya” telinga Riska kena lagi belaian mesra sang mama. “Mama ini hobi betul sih menyakiti anaknya” ditampiknya tangan bu Ani yang terus saja menarik telinga anaknya. “La kamu itu lo anak perempuan bandelnya mengalahi anak laki-laki” Riska tidak mendengarkan ucapan Mamanya. “Masalah tempat tinggal, papa tenang saja karena aku akan tinggal bersama mas Arsya di rumah besar itu. Papa nikahkan saja aku sekarang, aku sudah tidak sabar ingin miliki mas Arsya seutuhnya” ucap antusias Riska dengan tangan gemas memeluk tubuhnya sendiri. “Lo Mas Arsya ke mana?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD