Drama Rutin Setiap Pagi

1434 Words
"Ayo, Paa, Syaren udah selesai." ucap Syaren yang tengah terduduk tegak di kursi meja makan itu. Semua orang yang tengah menyantap sarapan paginya langsung menatap ke arah Syaren kaget. "Punya rencana apa lagi sekarang?" tanya Darren menatap putri sulungnya itu. "kunciin Papa di kamar mandi lagi? Atau kempesin ban mobil?" Hehe Syaren tersenyum menyeringai. "Gitu banget, Paa sama Syaren," ucap Syaren. "Gak usah nyengir, apa rencana kamu?" tanya Darren. "Syaren? Jangan bikin masalah terus kenapa," ucap Nadisya. "Siapa yang bikin masalah, Ma? Syaren gak bikin masalah," ucap Syaren. "Udah … jujur aja, bikin masalah apa sekarang?" tanya Alfa sang paman seraya memasukkan nasi di sendok ke dalam mulutnya. "Ckk! Syaren tuh gak akan ngerjain Papa kalo Papa gak terus-terusan larang Syaren main sama Rafael lagi. Syaren janji gak bakal berulah lagi." "Kamu itu perempuan, bersikap anggun sedikit kenapa jadi perempuan," ucap Darren. "Buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya kan? Mama juga dulu sama kaya Syaren, lebih dari yang Syaren lakuin malah, iya kan Ma?" "Loh kok jadi Mama?" tanya Nadisya. "Mamanya Rafael yang bilang," jawab Syaren. "Kamu kalo di kasih tau ngejawab terus," ucap Darren. "Liat adek-adek kamu, mereka laki-laki, tapi mereka nurut sama Papa, kamu perempuan kenapa susah diaturnya?" tanya Darren lagi. "Syaren kan udah bilang, buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya, Papa juga waktu muda lebih nakal dari Syaren, lebih keras kepala dari Syaren dan susah di atur juga kan?" Huh! Darren menghembuskan nafasnya kasar "kalo orangtua lagi ngomong bisa ga jangan ngejawab terus, ga sopan itu namanya" ucap Darren. Syaren menatap Alfa yg sebelahnya "Uncle ...." ucap Syaren mengadu, memelas menatap Alfa. "Udahlah, Syaren masih kecil, di usianya yang sekarang wajar-wajar aja, biarin dia bergaul dengan siapapun, aku yakin dia juga tau kok mana yang baik dan enggak, kasih dia kepercayaan, jangan terlalu over," ucap Alfa. Syaren tersenyum puas saat sang paman membelanya. "Ckk ... kamu jangan belain dia terus! Dia jadi selalu minta perlindungan! Lagian aku Ayahnya." "Iya aku tau, tapi apa salahnya membiarkan dia sama Rafael deket? Mereka temenan dari bayi, aku juga yakin Rafael nggak akan bawa dampak buruk, toh nilai mereka juga di sekolah bagus-bagus aja kan? Syaren malah masuk 3 besar tiap semester, itu artinya Rafael bawa hal positif," ucap Alfa. "Ckk ... Ayahnya itu aku atau kamu huh? Kenapa kamu belain dia terus?" tanya Darren menatap Alfa. "Paa? Ayolah … Syaren juga gak pernah loh minta yang aneh-aneh." "Oke ... mulai hari ini Papa izinin kamu bareng sama dia, tapi inget yaa, jangan,–" "Syaren Sayang, Papa" sela Syaren tersenyum manis. "Udah ya marah-marahnya, nanti malem atau besok pagi di terusin lagi, Syaren bisa telat ini." Cup Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi sang Ayah lalu setelahnya ia menoleh ke arah sang paman yang terduduk di sampingnya. Cup Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi Alfa. "Syaren juga sayang Uncle," ucap Syaren. "Belajar yang rajin ya? Jangan nakal," ucapan Alfa seraya menepuk pelan pucuk kepala Syaren. Syaren tersenyum dan mengangguk. Ia lalu bangun dari duduknya. "Syaren berangkat ya. Byeee …." Syaren keluar dari kursi meja makan dan berbalik, berlari pergi meninggalkan meja makan, langkahnya terhenti saat sudah sekitar 3 meter dari meja makan, Syaren menoleh lagi ke arah meja makan. "Oh iya, ban belakang mobil Papa Syaren kempesin semalem," ucap Syaren setengah berteriak lalu berlari keluar lagi. "Ya ampun yaang, anak kamu. Kalau begini terus lama-lama aku bisa kena darah tinggi sama ulahnya!" ucap Darren pada sang istri lalu menoleh ke arah Alfa. "Liat itu?" Alfa menelan ludah. "Uncle …," ucap Alfian. "Kak Syaren kan udah dapet ijin, jadi kita boleh yaa bawa motor, " ucapnya memohon menatap sang Uncle. "Enggak!" ucap Darren. "Yaahhh" seru Alfian dan si kembar Danial, Dazriel bersamaan "Kalian boleh bawa motor setelah umur kalian tujuh belas tahun," ucap Darren. "Kak Syaren dia,-" "Dia pake sepeda;" sela Darren lagi memotong ucapan Daniel. *** "Kok gak lari-lari lagi kaya biasanya?" tanya Rafael yang sejak tadi sudah menunggu Syaren di depan pintu pagar besi rumah Syaren. "Mulai hari ini kita gak bakal telat dan tidak akan ada drama lagi, Papa aku ijinin kita berangkat bareng tiap hari," ucap Syaren tersenyum dengan sangat manis pada sahabat sekaligus kekasihnya itu. "Kok bisa?" "Nanti aku jelasin" ucap Syaren. "aku duduk di belakang atau di depan nih?" tanya Syaren. "Di depan aja," jawab Rafael. Syaren mulai duduk menyamping di depan Rafael. Rafael menatap lurus dan menggoda sepedanya, namun beberapa detik kemudian dengan tiba-tiba saja indera penciumannya mencium aroma harum apel dari rambut Syaren, membuat jantung Rafael berdetak tak menentu, ia membenarkan posisi duduknya karena merasa tak nyaman, menakuti Syaren mendengar detak jantungnya. "Kenapa?" tanya Syaren saat sepeda yang Rafael baw itu tak seimbang. "Hm? Engh … enggak gak pa-pa" jawab Rafael, lalu tak berselang lama kemudian, Rafael menggoes sepedanya ke jalur kiri dan berhenti melaju. "Loh, kok berhenti? Kenapa? Bannya kempes?" tanya Rafael. "Enggak, bukan," jawab Rafael, "kamu pindah ke belakang aja, nanti siang baru duduk do depan." "Hm? Kenapa?" tanya Syaren mengerutkan alis bingung, ia turun dari sepeda dan menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Gak pa-pa, Sayang, cepetan naik, pegang bahu aku yang kuat," ucap Rafael. Syaren tersenyum saat Rafael menyebutnya dengan panggilan sayang, ia lalu kembali naik ke sepeda, berdiri tegak dan memegang pundak rafael. "Coba aja kalau kita naik motor, kan aku pegangnya bukan pundak," ucap Syaren. "Mau peluk ya?" tanya Rafael. "Dihh … ge-er!" "Nanti aku belajar sama Papa aku," jawab Rafael mulai menggoda lagi sepedanya. "Demi kamu." Syaren mengatupkan bibir menahan senyum. "Terus kenapa aku disuruh pindah ke belakang?" tanya Rafael. "Hmm? Emhh ... enggak" jawab Rafael berbohong. Tak mungkin kan jika ia berkata jujur? Mengatakan bahwa ia takut Syaren mendengar detak jantungnya yang berdetak tak menentu saat menghirup aroma harum rambut Syaren. "Ahh iya … nanti siang kita kemana?" tanya Syaren. "Katanya mau belajar bela diri. Kenapa gak kita cari tempat bela diri aja?" tanya Rafael. "Hmmm … sayangnya aku memang pinter," ucap Syaren seraya mengacak-acak rambut Rafael. "E-eehhh … yang bener dong jalaninnya," ucap Syaren saat sepeda yang ia naiki itu goyah tak seimbang. "Kamunya diem! Kan aku gak bisa fokus," ucap Rafael. "Abis kamu gemesin!" jawab Syaren seraya melingkarkan tangannya di leher Rafael dari arah belakang. *** "Stooooppp" teriak Syaren saat pintu gerbang sekolah tempatnya menuntut ilmu hampir saja tertutup. Sreeettt "Ja-ngan dulu di-tu-tup, Pak … yaaahh … " Syaren mengerucutkan bibir saat pintu gerbang itu tertutup rapat. Rafarl mengusap wajah saat lagi-lagi ia tak berhasil masuk dan sudah di pastikan akan telat masuk lalu mendapatkan hukuman lagi. "Ckk! Kalian lagi … gak bosen di hukum terus? Saya aja yang liat bosen loh," ucap Pak Satpam. "Kali ini beneran terakhir, Pak. Besok beneran deh … saya janji gak bakal telat lagi, pagi ini saya kena omel papa saya, terus tadi di jalan,—" "Kayaknya kamu memang beneran bukan anak Papa kamu deh," sela Pak Satpam, "coba kamu tanya sama papa kamu, kamu itu anaknya atau bukan? Tiap hari saya dengernya kamu sama papa kamu bermasalah terus, jangan-jangan kamu bukan anaknya lagi." "Haishh … gak ada akhlak!" gumam Syaren, 'Oke! Kita mainkan dramanya!" ucap Syaren di dalam hati, satu detik kemudian Syaren langsung menunduk dan berpura-pura sedih. "Pak satpam kok gitu sih ngomongnya?" "Iya, kok pak satpam gitu sih?" ucap Rafael "Sahabat saya jadi sedih kan sekarang, Papanya itu memang galak. Saya kan tiap hari jemput dia lebih pagi dan saya liat dengan sendiri kalau Syaren sering banget di marahin papanya. Makanya kita sering telat, sebenernya bisa aja sih saya berangkat lebih dulu, tapi saya gak tega," ucap Rafael menyetandarkan sepedanya dan mendekati Syaren yang masih menunduk, ia merangkul pundak Syaren dan membiarkan kepala syaren bersandar pada dadanya. "Sabar ya, Sya. "Ya ... sa-saya … enggak bermaksud kaya begitu," ucap Pak Satpam merasa bersalah. "Buka pagarnya, biarkan mereka masuk," ucap seorang guru yang suaranya sudah tidak asing lagi didengar Rafael dan Syaren. Syaren dan Rafael sontak langsung melihat ke arah orang yang mempersilahkan mereka untuk masuk. "Yaahh … dihukum lagi," gumam Syaren. "Kalian ke ruangan saya," ucapnya lagi berbalik lalu pergi. "Kan bener feeling aku," ucap Syaren menatap Rafael. Huuhh Rafael dan Syaren menghembuskan nafasnya kasar, mereka masuk setelah pagar sekolahnya terbuka. "Aku curiga, kayaknya kali ini kita bakalan dapet surat cinta yangg tak diinginkan deh," ucap Rafael berjalan ke arah tempat parkir sepeda, ia lalu memarkirkan sepedanya dan berjalan menuju ruang BP bersamaan dengan Syaren. "Kalo beneran dapet surat cinta, papa aku bisa ngamuk beneran ini," ucap Syaren menunduk pasrah. "Sabar, aku akan terus di samping kamu kok," ucap Rafael merangkul pundak syaren seraya berjalan. "Kelak, drama ini akan terasa indah saat kita ceritakan pada anak-anak kita nanti." Syaren mengatupkan bibir menahan senyum. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD