Selepas shubuh, Jihan menatap ujung langit dari jendela kamarnya. Dibukanya lebar- lebar jendela kamar yang tampak kokoh itu.
Sudah menjadi kebiasaan Jihan, setiap hari ia menatap embun pagi berguguran dibalik jendela kamarnya. Terlihat berjejer rapih serangkaian bunga mawar merah dan mawar putih dari balik jendela kamarnya.
Seulas senyuman manis terbit di bibirnya ketika ia melihat serangkaian bunga mawar merah melambai-lambai diterpa semilir angin pagi.
Jihan teringat akan sebuah kenangan di masa lalunya. Dimana pada saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibunya, ia menjalin kasih dengan seorang laki-laki dewasa yang usianya terpaut sangat jauh dengannya.
Setiap kali bertemu, Kekasihnya selalu membawakan setangkai bunga mawar merah untuknya. Itulah sebabnya mengapa ia memutuskan untuk menanam serangkaian bunga mawar merah di halaman rumahnya.
Namun hubungan keduanya harus kandas, karena Sang Kekasih memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Negri Kincir Angin.
Setelah kepergian kekasihnya. Jihan sengaja tak menghubunginya, karena ia ingin Sang Kekasih fokus dalam mengenyam pendidikan yang lebih baik.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, satu tahun, bahkan sudah berjalan dua tahun lamanya. Ia tak pernah tahu bagaimana kabar kekasihnya saat ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Jihan merasakan yang namanya patah hati. Separuh hatinya retak, perih, rasanya seperti teriris-iris pisau. Kekasihnya menghilang begitu saja bagaikan di telan bumi.
Mungkin melupakannya adalah salah satu jalan yang terbaik. Jihan berusaha untuk mengikhlaskan cinta pertamanya. Perlahan Ia mencoba untuk melupakan semua memory manis tentangnya.
Hanya menyisakan satu lembar foto kenangan bersama kekasihnya dulu.
Jihan kemudian berbalik arah dan melangkah menuju lemari kayu jati yang berdiri kokoh di samping ranjang.
Ia lantas membuka laci lemari paling bawah. Kedua tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam sana. Setelah menemukan sebuah catatan kecil, ia segera membuka lembaran catatan itu.
Terpampang nyata foto kekasihnya yang sedang mencubit gemas pipi Jehan. Di foto itu Jihan masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sedangkan kekasihnya, mengenakan T-shirt hitam bertuliskan " My Love ".
Jihan lalu membalik lembaran foto itu, tertulis sebuah coretan pena.
MY FIRST LOVE
MARSHEL DIRGANTARA
11 JANUARI 2022
Lagi-lagi seulas senyum manis tersungging dari sudut bibirnya. Jihan sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan memusnahkan foto itu nanti, ketika ia sudah resmi dipersunting oleh laki-laki.
Jihan lantas menaruh foto kenangan itu kedalam lembaran buku catatan kecil, lalu menaruhnya kembali ke dalam laci.
Setelah menyadari Sang Mentari mulai menyingsingkan sinarnya, Jihan segera menutup lemari dan bergegas turun menuruni anak tangga untuk membantu Sang Ibu menyiapkan sarapan.
Namun Jihan menghentikan langkahnya ketika sayup-sayup ia mendengar Sang Ayah sedang berbicara serius melalui sambungan telepon.
{ ... positif hari Jum'at, Pak? }
( ... }
( Oh, pasti. Kami tunggu kedatangannya dengan senang hati. }
{ ... }
{ Baik pak. Wa'alaikumussalam. }
Hamid langsung mematikan sambungan teleponnya disaat menyadari kehadiran putrinya yang sedang melangkah menuruni anak tangga.
" Kemari, Nak. " Hamid melambaikan tangan ke arah putrinya.
Jihan pun berjalan mendekati Sang Ayah.
" In syaa allah Nak Arka akan datang melamarmu esok hari Jum'at ba'da maghrib. Dan tolong ingat pesan Ayah. Jangan sampai Kau permalukan Ayah dan Ibumu di hadapan keluarga Nak Arka. Acara lamaran ini hanya dihadiri oleh Nak Arka dan Kedua orang tuanya saja. Jadi tolong persiapkan dirimu, Nak. " Hamid menepuk pelan bahu putrinya.
Jihan hanya menyunggingkan senyum dan menganggukan kepalanya. Hamid lantas berlalu meninggalkan putrinya yang masih berdiri mematung di ruang keluarga.
Seketika degup jantung Jihan terasa tak beraturan.
Ya Allah. Secepat inikah?
Jihan bergumam lirih dalam hati kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Di dapur, Maryam tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suami dan putrinya.Setelah menyadari kehadiran putrinya diambang pintu, Maryam menoleh sekulas lalu menyapa anak gadisnya.
" Selamat Pagi, Anak gadis Ibu yang paling cantik.. "
Maryam sengaja meledek putri semata wayangnya itu karena sejak kemarin raut wajahnya terlihat murung.
" Pagi juga Ibuku sayang yang paling cantiiikk. " sahut Jihan sembari tersenyum dan memeluk pinggang Sang Ibu.
" Nah gitu, senyum dong. Kan jadi tambah manis dan Cantiikk..!" Maryam mencubit gemas pipi anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa.
" Bu, tadi Ayah bilang kalau Arka akan melamar Jihan besok hari jum'at. "
" Bagus dong kalau gitu. Lebih cepat kan lebih baik, Nak. "
" Tapi nggak mendadak juga kali bu. " protes Jihan dengan bibir mengerucut.
" Memangnya kenapa sih? kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah siap. "
" Iya sih, tapi Jihan deg-degan lho Bu. Memangnya Arka itu tampangnya seperti apa sih? Maksud Jihan, Arka itu ganteng, standart atau pas-pasan wajahnya? "
Mendengar pertanyaan anak semata wayangnya itu, Maryam jadi terkikik pelan, " Kalau ganteng kenapa? kalau enggak juga kenapa? " Sang Ibu malah bertanya balik pada Jihan.
" Aaahhh ibu, kok malah tanya balik sama Jihan? " sungutnya kesal.
" Ya habis pertanyaan Kamu lucu, jangan melihat dari parasnya, Nak. Tapi lihat lah dari keteguhan iman dan taqwanya. "
" Hmmmm, iya iya deh Ibuku sayang. Btw Ibu mau masak apa sih? " tanya Jihan sambil sedikit melongok ke arah wajah.
" Ooh, ini. Ibu mau bikin nasi goreng. "
" Waahh, enak tuuhh. Jihan bantuin ya, Bu. " Jihan mengambil alih alat masak yang sedang dipegang Sang Ibu.
" Memangnya Kamu bisa masak? " tanya Sang Ibu terheran-heran. Tak biasanya anak gadisnya mau membantunya. Apalagi jika urusan masak memasak. Biasanya ia lebih memilih untuk menunggu hidangannya tersaji di meja makan.
" Belajar dong bu. Kan sebentar lagi Jihan akan dipinang oleh Arka, jadi Jihan harus bisa masak. " Jihan terus mengaduk-aduk nasi goreng hingga bumbunya tercampur merata.
Tak lama kemudian hidangan berupa nasi goreng sudah tersaji diatas meja makan, tak lupa Jihan membuat telur mata sapi sebagai menu pelengkapnya.
Maryam hanya duduk dengan bibir sedikit melongo melihat anak gadisnya dengan lihai menyiapkan sarapan untuknya. Ya, walaupun hanya sekedar nasi goreng. Tapi Maryam dibuat takjub atas perubahan sikap anaknya yang secara tiba-tiba.
Biasanya, untuk sekedar membuat mie kuah saja Jihan pasti meminta tolong Sang ibu untuk membuatkannya. Namun kali ini, usahanya untuk membuat sepiring nasi goreng saja wajib di beri apresiasi.
Prookk!!prookk!!
prookk!!prookk!!
Maryam memberi tepuk tangan meriah untuk anak gadisnya, " Wah, anak Ibu hebat. "
Jihanpun sontak tersenyum lebar, " Ayo, kita sarapan. Biar Jihan saja yang panggil Ayah. Ibu tunggu disini saja. "
Maryam hanya mengacungkan jempolnya pada Jihan. Tak lama kemudian, Hamid muncul dari balik pintu. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan sepiring nasi goreng itu, Hamid langsung menenggak satu gelas air putih sebagai penutupnya.
" Alhamdulillah. Enak banget nasi gorengnya! " Hamid lantas mengusap mulutnya dengan tisu.
" Iya dong. Kan yang masak Jihan. " celetuk Maryam sambil terkekeh pelan.
" Uhuuk! Uhuuk!! " Hamid pun mendadak terbatuk.
" Betul kata Ibumu. Apa Kau yang masak? " tanya Hamid dengan ekspresi tak percaya.
" Iya, Ayah. Nasi gorengnya Jihan yang buat. " ucapnya malu-malu.
Braaakkk!!!
Jihan dan Maryam pun tersentak kaget.
" Hebat anak Ayah! " puji Sang Ayah dengan memberikan dua jempol pada putrinya.
Jihan yang sempat tersentak kaget, akhirnya tersenyum lebar mendengar pujian Sang Ayah. Begitu juga dengan Sang Ibu.
***