Empat s*****n

1368 Words
  Raka menghela nafas gusar saat dirinya telah berada di dalam kamar rumahnya. Suasana tadi sungguh membuatnya risih dan muak hingga ia ingin cepat cepat pergi dari sana. Dan untungnya ia dapat dengan cepat menyelesaikan sarapan rutinnya di rumah Tuan Danu dan segera pergi ke rumahnya. Raka mendesah kesal, sejak malam kemarin ia tidak bisa tenang, ia tidak tahu kenapa pendengarannya menjadi sensitif setelah mendengar deru mobil dini hari tadi. Membuatnya tak bisa tertidur begitu lama karena telinganya terus saja berdengung tak jelas. Hingga pagi tadi kemudian, hal lain terjadi ketika telinganya mendengar jelas perkataan seorang gadis di lain tempat, hingga Raka dapat mengenalinya setelah seorang gadis keluar dari dalam rumah Tuan Danu membawa secangkir teh yang secara tidak langsung ditujukan kepadanya. Dan Raka baru tahu bahwa gadis itu adalah cucu Tuan Danu dari negeri seberang. "Apa memang sudah saatnya?" guman Raka memandang lurus ke arah sebuah pintu balkon yang tertutup milik Tuan Danu. Raka kembali mendesah frustasi, seharusnya bukan gadis itu yang berhasil memunculkan kemampuan indranya. Gadis kecil yang terlihat kekanakan dan manja. Raka mengacak rambutnya asal. Ia memilih mendudukkan diri di kursi goyang yang menghadap ke arah jendela yang terbuka. Kepalanya ia senderkan ke belakang dan menutup matanya guna menghalau kerisauan dan kegundahan di hatinya. Namun sedetik kemudian, kedua telinganya berdengung sangat kencang hingga membuatnya meringis seperti kesakitan. Namun sesaat setelah itu, Raka dapat mendengar dengan jelas suara gerutuan yang Raka tebak berasal dari arah seberang. Mata elang itu kembali terbuka, Raka memandang lurus ke arah dimana Gania kini berdiri di balkon kamarnya sedang menggerutu kesal, dilihat dari raut muka dan pendengaran Raka tadi. Raka membungkukkan punggung dalam duduknya. Ia memandang dengan lurus kea rah gadis yang belum menyadari kehadirannya. Kini Raka kembali mendengar gerutuan itu. "Kenapa mama dan ayah bisa bertindak seperti itu?! Aku kan ... " perkataan yang Raka dengar dari mulut Gania terhenti karena setelahnya Raka melihat mata gadis itu membulat karena menyadari kehadiran Raka yang juga tengah menatap lurus kepada Gania . Gania kemudian mengalihkan tatapannya dan memasuki kembali kamarnya seraya menutup pintu balkon dengan kasar. "Cih, ada apa dengan dia?" Tanpa sadar Raka bertanya melihat kejadian tersebut. **** Gania menyibak gorden kamarnya dengan kasar setelah ia menyelesaikan sarapannya di dapur. Dirinya begitu kesal lantaran kedua orang tuanya itu memutuskan untuk kembali pulang ke kota malam hari nanti. Gania pikir, mereka akan menyempatkan waktu untuk menginap dua atau tiga hari lagi, namun ternyata hal itu tak sesuai dengan harapan Gania. Mereka akan meninggalkan Desa Wania malam ini. "Kenapa mama dan ayah bisa bertindak seperti itu?! Aku kan .. " Gerutuan Gania terhenti seketika lantaran bola matanya menangkap sosok Raka duduk di seberang sana tengah memandangnya. Gania mengatupkan mulutnya dan bergegas masuk kembali ke dalam kamar mengunci pintunya. Entah kenapa hanya dengan melihatnya dari jauh saja sudah membuat tubuh Gania begidik ketakutan. Gania menyentuh permukaan dadanya yang tengah bergemuruh. Tiba-tiba saja respon kerja jantungnya terlalu berlebihan saat menyadari bahwa Raka tengah memandang dirinya dari seberang sana, entah itu rasa keterkejutannya, atau rasa lain yang sulit Gania ungkapkan. Gania memilih kembali turun dan tidak melihat kakek dan ayahnya beserta Tuan Roey di sekitaran rumah karena mereka sudah pergi ke kolam untuk memancing. Rupanya kakek Gania itu ternyata benar benar menepati ucapannya yang akan membagikan ikan miliknya ke semua tetangga. Gania melangkah ke dapur dan mendapati neneknya sedang duduk bersantai disana. "Mama dimana nek?" tanya Gania yang menumpukan kedua tangannya di atas meja makan. "Sedang di kamar." jawab nenek yang kini mengambil buah jambu air di atas ranjang dan memakannya. "Gania mau jalan jalan nek, boleh?" pinta Gania yang segera diangguki neneknya. "Tapi jangan sampai sore ya. Nanti kita masak makan malam bersama." Pinta Nenek Gania sebelum Gania berbalik meninggalkan dirinya sendiri di dapur. Gania menganggukan kepala menghendaki perintah sang nenek. Kini Gania tengah menyusuri jalanan desa yang sedikit ramai, dia membawa tas selempang mini-nya yang berisi beberapa lembar uang guna berjaga jaga bila dia menemukan pedagang dan ingin membeli sesuatu. Di jalanan, dirinya berkali kali berpapasan dengan segerombol orang tua yang bersiap untuk bertani di sawah ataupun di kebun dengan membawa beberapa ekor kerbaunya. Kemudian di lapang yang tidak begitu luas, Gania menemukan beberapa kelompok ibu ibu dan anak perempuan tengah melakukan gerakan senam dari radio yang tersimpan di depan mereka. Gania memperhatikan mereka seksama, sepertinya senam merupakan rutinitas pagi yang selalu dilakukan perempuan di Desa Wania. Lama Gania memperhatikan, hingga beberapa anak perempuan sebayanya kini menyadari kehadiran Gania yang berdiri di pinggir jalan. Terlihat empat anak perempuan itu berlari menghampiri Gania dengan wajah berseri seri. "Kamu siapa?" tanya langsung anak perempuan berambut pendek seperti laki laki yang pertama kali sampai di hadapan Gania. "Kenapa bisa disini? Kamu dari mana?" "Hei, apa aku pernah melihatmu? Kamu terlihat berbeda, terlalu mencolok diantara kami." Satu persatu dari anak perempuan itu bertanya tanya kepada Gania membuat ia bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu. "Sepertinya aku mengenalnya. Coba aku ingat ingat, apa namamu berawalan huruf G?" terka anak perempuan berambut sebahu tanpa poni di depannya. Gania menatap keempat anak perempuan itu lalu mengangguk kaku membenarkan. "Aku Wendi." sapa anak perempuan berambut pendek lelaki seraya menyodorkan tangannya paksa dan mengamit tangan Gania untuk bersalaman. Gania menatap Wendi dengan tatapan bingung dan melepaskan tangannya begitu anak perempuan lain menyodorkan tangannya juga. "Kamu siapa? Aku Nara." Kali ini anak perempuan berponi yang melengkung membingkai dahinya menyapa Gania. "Aku ..." perkataan Gania terpotong oleh anak perempuan yang berdiri paling kiri dari ketiga temannya. "Gania!" Seru gadis itu dengan keras membuat ketiga temannya itu menoleh terkejut ke arahnya. Kening Gania mengernyit, anak perempuan itu seperti sudah mengenalnya, terdengar dari seruannya. Seruan seperti seorang teman lama yang tak dijumpanya. "Kamu Gania bukan? Aku Luna, kamu lupa?" tanya anak perempuan itu dengan wajah penuh harap bahwa Gania akan mengingatnya. "Gania?" tanya ketiga anak perempuan yang masih belum mengenal Gania. Luna mengangguk meng-iya kan dan langsung merangkul Gania ke dalam pelukannya. Gania sungguh terkejut, tiba tiba saja Luna memeluknya membuat keseimbangannya sedikit menghilang. "Dulu waktu kecil kita pernah bermain, kamu tidak ingat?" Luna kembali bertanya setelah melepaskan pelukannya. "Mm-mungkin." jawab Gania ragu, karena ia pun melupakannya. Mungkin saja mereka pernah bermain di masa kecil saat ia berkunjung ke sini. "Aku belum mengenalkan diri, aku Tera." sela seorang anak perempuan yang paling kecil diantara ketiga temannya itu. Gania mengangguk dan tersenyum tipis melihatnya. Lalu pandangannya kembali melihat Luna yang menatapnya seksama. "Kamu benar benar tidak ingat aku?" Luna bertanya memastikan sekali lagi agar Gania mengingatnya. Namun Gania perlahan menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil tidak mengingat mereka. Luna menghela nafas pasrah, sedangkan Tera menarik tangan Gania membuat Gania tersentak kaget. "Kamu benar tidak mengingat kami? Aku juga tidak mengingat kamu. Tak apa, kita sama sama tak ingat." Luna memukul bahu Tera karena telah mengucapkan kata yang kurang pantas untuk diungkapkan. Sementara keduanya lagi mencibir dan ada yang mencubit lengan Tera. Gania meringis melihat perlakuan anak anak perempuan itu, lalu ia memutuskan untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. "Sepertinya aku akan berjalan jalan lagi. Sampai jumpa." Gania berjalan tergesa meninggalkan anak anak perempuan itu, namun satu diantara mereka berjalan mengikuti Gania dan terus membuntut satu persatu hingga mereka berjalan berlima secara bersisian menutupi seluruh area jalanan. "Kalian mau kemana?" Gania bertanya sedikit heran kala mereka terus mengikuti langkahnya. "Kami akan menemani kamu jalan jalan." jawab mereka berempat dengan kompak, seperti sudah terlatih berbicara secara bersamaan. "Tidak usah, itu akan mengganggu olahraga kalian." ucap Gania yang tidak ingin mengganggu mereka, dan juga tak ingin ditemani oleh mereka yang terasa mengganggu. "Jalan jalan juga olahraga." sahut keempat teman itu membuat Gania diam tak berkutik. Selama beberapa saat berkeliling tak tentu arah, akhirnya Wendi menyarankan agar mereka pergi ke suatu tempat yang ramai banyak orang. "Gania, bagaimana kalau kita pergi ke pasar, di sana banyak yang menjual makanan. Di sana juga ada tukang tato bagus sekali, aku juga memasangnya." "Kau diam diam memasang tato? Ayahmu pasti marah kalau tahu hal itu." sela Luna yang sedikit terkejut sekaligus ingin menakut nakuti Wendi. "Tenang saja, aku memasangnya di dekat ketiak, jadi ayahku tidak akan melihatnya." Wendi menjawab dengan nada bangganya yang berhasil menyembunyikan sebuah tato di tubuhnya dari penglihatan ayahnya. "Menjijikan." cibir Tera yang tidak menyangka Wendi akan memasangnya di tempat yang kurang pantas. "Itu seni bodoh." sergah Wendi seraya merangkul leher Tera kuat membuat anak perempuan itu menjerit histeris meminta di lepaskan. "Bagaimana? Mau ke pasar?" tanya Luna mengabaikan kedua temannya yang sebentar lagi akan berkelahi. "Wendii!!" teriak Tera dengan suara cemprengnya saat Wendi berlari menghindarinya yang kemudian dikejar oleh Tera dengan kaki pendeknya. Gania menggeleng gelengkan kepala melihatnya, lalu menoleh ke arah Luna dan mengangguk meng-iya kan ajakannya. 'Sepertinya aku akan berteman dengan mereka.' pikir Gania seraya berjalan mengikuti Luna dan Nara menuju pasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD