Raymond dekap kepala Bianca ke dadanya, sambil mengusap-usap bahu polos Bianca, seakan ingin memberi rasa nyaman kepada Bianca. Entah berapa kali dia berucap maaf hingga tak kuasa lagi menahan tangis penuh penyesalan mendalam. Sampai pada akhirnya dia pun bisa bernapas lega, karena Bianca memaafkannya. "Sudah berapa bulan?" tanya Raymond yang tangannya sudah berpindah ke atas perut Bianca. "Hampir dua," jawab Bianca yang perasaannya mulai hangat. "Laki-laki atau perempuan?" tanya Raymond lagi. Bianca terkekeh di tengah perasaan sedihnya. "Belum, Ray. Nanti usia empat atau lima bulan baru tau jenis kelaminnya," "Kamu mau apa?" "Apa aja ... kamu?" "Aku mau perempuan." Bianca tersenyum mendengar keinginan suaminya. Maklum, dua keponakan Raymond laki-laki semua. "Kenapa kamu nggak ka

