Chapter 25. Test DNA . . Jashon pov Aku tidak tau kenapa perasaanku tidak karuan. Aku jadi gampang marah. Aku jadi gila kerja. Hanya dengan bekerjalah aku bisa melupakan rasa gelisahku akan seseorang. Entahlah rasa rinduku padanya rasanya sangat menyiksaku. Aku jadi malas pulang, apalagi bila bertemu Jessi. Ada perasaan enggan melihat wajahnya bahkan rengekannya. Seakan penuh dengan kebohongan, walau sebenarnya yang berbohong adalah aku. Terus terang aku juga merasa bersalah padanya karena terus mengabaikannya. Tapi herannya sebesar itu juga aku merasa bersalah terhadap Kanaya. Walaupun hubungan kami begitu singkat, tapi entah kenapa aku seperti merasa telah menyia-nyiakan dia. Apalagi di pertemuan terakhir, kulihat dia meneteskan air mata walau dia berusaha untuk tegar. Tapi aku bisa

