Chapter 3

1099 Words
Selamat membaca Keesokan harinya. Ganesa mengetuk pintu kamar Valder berniat untuk membangunkan pria itu dan membantunya bersiap sebelum berangkat ke kantor. Dia sudah hampir menekan ganggang pintu karena berpikir Valder masih tertidur. Namun ternyata ada sahutan dari dalam. "Masuk," sahut Valder dingin. Ganesa membuka pintu dan mendapati Valder sudah rapi dengan memakai pakaian kerja. Lalu dia melangkah masuk. "Apa ada yang bisa saya bantu, Presdir?" tanyanya ringan. "Tidak ada," sahut Valder singkat sembari memasang dasi di leher. "Kalau begitu saya akan siapkan sarapan untuk Anda," pamit Ganesa undur diri dan bersiap keluar dari kamar Valder. "Tunggu," cegah Valder dengan suara bariton yang khas. Ganesa menghentikan langkah, lalu kembali berbalik ke arah Valder. "Pilihkan jas untukku," perintah Valder datar. Ganesa mengangguk. Lalu segera berjalan menuju walk in closet mengambil jas yang akan dipakai Valder hari ini. Dan pilihannya jatuh kepada jas berwarna abu-abu tua yang tampak begitu menawan. Ganesa mengambil jas itu, dan kembali menghampiri Valder. Kemudian dia membantu memakaikan jas tersebut di tubuh kekar Valder sembari memuji dirinya sendiri karena telah memilihkan jas yang cocok untuk Valder. Pasalnya penampilan pria itu jauh lebih berkharisma setelah mengenakan jas pilihan Ganesa. Karena itu, dia merasa berbangga diri atas hal itu. 'Eztramo Radis De Valder' Sebuah untaian nama yang begitu cantik hingga membuat Ganesa takjub dan terpana ketika mendengarnya. Nama yang menggambarkan sosok seseorang seperti dewa. Dewa kematian... Jika tidak mengingat sikap buruk Valder, sejujurnya pria itu memang nyaris sempurna dengan wajah bak pahatan patung, serta kecerdasan dan seluruh kekayaan yang dimilikinya. Tidak bisa dipungkiri jika Ganesa juga mengakui akan hal itu. Tetapi meskipun memiliki banyak kelebihan, Valder sudah terlanjur dicap buruk oleh Ganesa hingga membuat segala kelebihannya terkubur. Valder melirik ke arah Ganesa yang memakai baju formal lengan panjang, serta rok longgar di bawah lutut berwarna hitam yang menutupi paha dan bentuk tubuhnya. "Seleramu benar-benar buruk," desisnya dingin ketika melihat penampilan Ganesa yang terlihat biasa saja dan tidak menarik untuk dipandang. "Maaf?" Ganesa terlihat bingung seperti orang linglung karena tidak mengerti dimana letak kesalahannya. "Apa tidak ada lagi pakaian yang jauh lebih buruk dari ini?" tukas Valder sarkas. "Ini adalah pakaian terbaik saya," balas Ganesa tersenyum manis sembari menahan kesal. Padahal selama ia bekerja, ia sama sekali tidak pernah mendapatkan komplain, atau pun kritikan dari atasan mengenai penampilannya yang seperti ini. Bahkan atasannya justru memuji cara berpakaiannya yang terlihat sopan, karena tidak memperlihatkan lekuk tubuh seperti pegawai wanita lain yang justru lebih suka memakai pakaian yang terkesan sexy. Valder hanya diam dan tidak membalas ucapan Ganesa. Lalu dia berjalan keluar dari kamar menuju meja makan. Sedangkan Ganesa juga pergi mengikuti Valder untuk menyiapkan sarapan. Walaupun masih menyimpan amarah untuk Valder, namun Ganesa tetap bersikap profesional dan tidak menunjukkan perasaan kesalnya di hadapan Valder. Karena itu, dia memilih untuk bersabar sembari terus mengumpati Valder dalam hati. Ganesa menata sarapan Valder yang dimasak langsung oleh chef di atas meja dengan rapi. "Duduklah," tukas Valder datar ketika bersiap menyantap sarapan. Ganesa menuruti ucapan Valder, dan ikut sarapan bersama dengan pria itu. Mereka menyantap makanan mereka dalam keadaan diam tanpa saling mengobrol satu sama lain, meski hanya sekadar obrolan ringan. Oskar tidak ikut sarapan bersama karena dia tidak ada di mansion Valder. Setelah mengantar Ganesa dengan selamat, dia saat itu juga langsung pamit pulang ke apartemennya untuk beristirahat. Bekerja sebagai manager di perusahaan besar membuat Oskar mampu membeli apa pun yang dia inginkan. Bahkan apartemen mewah yang berada di kawasan elit sekalipun. Karena itu, dia tidak tinggal di mansion Valder karena sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Namun, dulu Oskar sempat tinggal di flat house kecil ketika baru pertama kali merintis karir, dan belum mendapatkan posisi pekerjaan yang bagus seperti sekarang ini. Namun sebelum Oskar kembali ke apartemen, dia sudah memberikan sebuah catatan mengenai jadwal pekerjaan Valder untuk satu Minggu ke depan kepada Ganesa agar wanita itu tidak kebingungan di hari pertama bekerja di tempat baru. Setelah selesai sarapan, mereka berdua pun akhirnya berangkat ke kantor. "Biar saya saja yang menyetir," ujar Ganesa menawarkan diri ketika Valder sudah berada di depan pintu mobil depan khusus pengemudi. Tangan Valder tiba-tiba terhenti ketika sudah bersiap untuk membuka pintu mobil. Lalu dia menoleh ke arah Ganesa tanpa ekspresi. "Kau asisten pribadiku, bukan sopir," pungkasnya datar. "Dan aku juga tidak suka duduk di mobil yang disetir oleh wanita," tukasnya dingin dan masuk ke dalam mobil. Ganesa sama sekali tidak mencoba membujuk Valder jika memang pria itu tidak ingin. Lalu dia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah Valder. Di perjalanan menuju kantor, hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Valder fokus menyetir. Sedangkan Ganesa juga tidak berniat mengajak Valder untuk berbicara. Hanya dengan melihat sekali saja, Ganesa sudah bisa mengetahui jika Valder bukanlah seorang pemimpin yang ramah terhadap bawahannya. Pria itu tidak mudah bersosialisasi dan sulit untuk diajak berteman karena sikapnya yang dingin dan arogan. Karena itu, Ganesa juga tidak berniat untuk bisa akrab dan dekat dengan Valder. Meskipun Valder bersikap datar terhadap Ganesa, namun wanita itu justru bersyukur dan sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Karena jika Valder bersikap baik, Ganesa justru khawatir Valder akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak terhadapnya. Karena bayangan ketika Valder tengah bersama dengan seorang wanita di kamar malam itu masih membekas di benak Ganesa. Itulah kenapa Ganesa selalu berpikiran negatif tentang Valder, dan merasa was-was jika berada di dekat pria itu. Sedikit ada perasaan takut di dalam diri Ganesa jika nantinya Valder akan mengganggu dan mengusik hidupnya. Karena itu, sebisa mungkin dia berusaha terlihat tidak mencolok dan biasa saja agar tidak menarik perhatian Valder. Namun ketika Ganesa mengingat wajah wanita yang bersama dengan Valder malam itu, ia sedikit merasa lega. Karena dari sana ia bisa menyimpulkan jika wanita yang disukai Valder adalah wanita cantik seperti wanita itu. Jadi Valder tidak mungkin tertarik dengan dirinya karena Valder selalu dikelilingi oleh wanita-wanita kelas atas di sekitarnya. Ditambah lagi, pria itu tidak kekurangan wanita cantik sampai dia harus tertarik pada seorang wanita biasa yang tidak memiliki kelebihan apa pun. Perlahan kecemasan di dalam diri Ganesa sedikit berkurang, karena dia masih memiliki tameng yang membuat dirinya tak terlihat di mata Valder. "Kau wanita pertama yang tidak mencoba untuk menarik perhatianku," tukas Valder tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Ganesa. Ganesa menoleh ke arah Valder yang tetap fokus menyetir dan menatap lurus ke depan. "Wanita lain pasti sudah memancing dan berusaha menggodaku dengan memakai pakaian terbuka dan bertingkah manja di depanku. Tapi kau sama sekali tidak melakukan apa pun," pungkas Valder. "Karena saya tidak tertarik. Lagipula tujuan saya kemari itu untuk bekerja, bukan untuk melakukan hal lain yang tidak penting," sahut Ganesa santai. Valder terdiam. Lalu sudut bibirnya tersungging ke atas sebelah membentuk senyuman tipis. Wanita yang menarik. TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD