“Duduklah, Puteraku.” ujar sang raja sambil tangannya mempersilakanku untuk duduk di kursi di depannya.
Dia adalah Raja Clause V, orang yang telah memimpin di negara ini sejak 10 tahun yang lalu. Bukan karena pakaiannya saja, tetapi wajah, gerak, dan nada bicara pria paruh baya berambut pirang ini pun membuatnya berwibawa.
“Terima kasih, Ayahanda.”
Aku menurut dan duduk di sana.
“Bagaimana kabarmu, Puteraku?” tanya beliau dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
Berbeda dengan dugaanku, sepertinya tidak ada amarah yang tersirat di wajahnya. Namun, bisa saja itu hanya kamuflase. Bukankah ada yang pernah berkata tentang ‘ketenangan sebelum badai’?
“Berkat Ayahanda, kabar ananda baik-baik saja. Semoga ayahanda juga demikian.” jawabku yang mulai lelah dengan basa-basi ini. Seumur hidup baru kali ini berbasa-basi sepanjang ini.
Masih dengan senyum di wajahnya, beliau pun berkata, “Ayahanda harap ananda tidak keberatan jika kita langsung membicarakan ke hal utamanya.”
Dengan senang hati, aku menjawab, “Semua ananda serahkan kepada Baginda.”
“Ananda pasti tahu apa yang ingin dibicarakan. Mengenai pesta kelulusan hari ini, apa ananda sudah benar-benar yakin dengan keputusan itu?” tanyanya.
Sudah kuduga ini yang ingin dia bicarakan.
“Ananda sudah paham dengan konsekuensinya. Karena itu, ananda mengunjungi kediaman keluarga Duke Vone hari ini untuk menyelesaikan urusan tersebut. Ananda mohon maaf karena bertindak gegabah tanpa seizin ayahanda.” jelasku.
“Ayahanda tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Justru sebenarnya ayahanda mencari cara agar perempuan itu bisa lepas dari ananda. Setidaknya dengan mendeklarasikan hal tersebut, perempuan itu jadi sadar bahwa dia tidak pantas bersanding dengan seorang putera mahkota.” ujarnya.
Ini cukup membuatku bingung. Bukankah pertunanganku dengan Eliza Y’ Vone adalah keputusan dari kerajaan? Tetapi, kenapa justru sang raja ingin agar aku berpisah dengannya? Lagi pula, bukankah dengan menjadikan Eliza sebagai tunanganku, maka kerajaan akan menjadi lebih kuat?
“Ayahanda tahu, ananda merasa bingung.” katanya seolah bisa membaca apa yang kupikirkan.
Lalu dia melanjutkan perkataannya.
“Sebetulnya, yang menjodohkan ananda dengan puteri Duke Vone itu adalah ibu suri yang berasal dari keluarga Vone. Sebelum menikah dengan ibumu, akupun sempat dijodohkan dengan keluarga mereka. Apa kau paham maksud dari keinginannya?”
Aku mengangguk paham. Rupanya ini yang menjadikan jalan Arabella begitu lancar saat akan menjadi puteri mahkota untuk mendampingiku. Dia memiliki dukungan dari Sang Raja.
“Ayahanda tidak ingin keluarga Vone menguasai kerajaan? Tetapi, bukankah bisa saja itu hanya obsesi ibu suri? Bagaimana kalau Eliza maupun ayahnya sama sekali tidak sependapat?” tanyaku.
“Hahahaha.” tawa sang raja.
“Memang bisa saja seperti itu. Tapi, apa ananda yakin setelah melihat sendiri bagaimana Eliza menyiksa gadis manapun yang mendekati ananda?”
Memang benar adanya bahwa Eliza Y’ Vone selalu menyiksa Arabella dan selalu merendahkannya setiap kali ada kesempatan. Tetapi, ku pikir ini murni karena dia mencintai Rafael dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perintah ibu suri. Selain itu, keraguanku juga muncul karena aku melihatnya sendiri di layar komputer saat Eliza menangis dengan begitu sendunya saat Rafael memutuskan hubungan pertunangan mereka. Tangisnya jelas-jelas tulus dan tidak dibuat-buat.
“Mohon maaf. Izinkan ananda berpendapat, Yang Mulia.” pintaku.
“Silakan.”
“Menurut ananda Nona Eliza sama sekali tidak terlibat dalam rencana ibu suri. Meskipun caranya salah, ananda yakin bahwa perasaan Nona Eliza memang tulus kepada ananda. Ananda begitu yakin, karena ananda sudah mengenal Nona Eliza sejak masih kecil.” ucapku.
Senyum di bibir sang raja semakin lebar.
“Tapi, kenyataannya dia dan keluarganya justru lari. Dan bukankah mereka menuju wilayah kerajaan siluman? Siapapun yang berkomplot dengan mahluk terkutuk seperti siluman, sudah pasti memiliki rencana yang tidak baik. Seharusnya ananda sudah paham mengenai hal itu.” sanggahnya.
Dahiku mengerut mendengarnya. Bagaimana bisa dia tahu bahwa mereka menuju wilayah kerajaan siluman? Aku sama sekali belum memberitahunya. Apakah mungkin…
Andreas… hanya kepada dia kecurigaanku mengarah.
Dia adalah seorang letnan termuda di kerajaan ini. Kenapa aku lupa pada siapa dia bersumpah?
Setting Andreas dalam game yang ku ingat menyatakan bahwa ksatria berpangkat tinggi di kerajaan ini harus bersumpah pada tiga hal. Dewi Shilla yang dia puja, keluarganya, dan yang terakhir adalah raja yang sedang berkuasa di kerajaan yang dia tempati. Itu artinya, apa pun yang dia kerjakan sudah pasti atas sepengetahuan tiga hal tersebut.
“Tenang saja. Soal para mata-mata yang ananda minta untuk mengejar mereka sudah kukirimkan. Dan mungkin sebentar lagi ananda akan mendapatkan berita terhapusnya keluarga Duke Vone.” ujarnya.
Ini keadaan yang cukup gawat. Sepertinya raja ini salah mengartikan apa maksudku mengerahkan tentara sihir itu. Yang ingin kulakukan adalah untuk meminta mereka melacak keberadaan Eliza Y’ Vone dan mencegahnya untuk bertemu raja siluman. Tetapi, sepertinya raja ini mengira bahwa aku ingin membunuh seluruh keluarga itu.
Segera aku berlutut di depan sang raja dan kembali memohon.
“Ananda mohon, jangan sampai ada pertumpahan darah. Kita belum memiliki bukti yang cukup untuk menghukum mereka. Setidaknya kita harus melakukan interogasi terlebih dahulu. Ananda mohon, Yang Mulia.”
Sejenak tidak ada suara di antara kami. Hingga akhirnya sang raja terbahak-bahak.
“Hahahahahahaha!!! Kita keluarga kerajaan, Puteraku. Kita bisa mengatakan bahwa para mata-mata kita mendapati mereka sedang berkomplot dengan para siluman dan membunuh mereka di tempat. Semudah itu!”
Aku terdiam dalam ketidakpercayaan. Kelihatannya apa pun yang kulakukan akan percuma. Aku hanyalah seorang putera mahkota yang tunduk di bawah raja. Apa pun keputusan yang aku katakan dan lakukan harus atas persetujuan raja.
Tidak mungkin raja ini akan percaya jika aku mengatakan akan ada perang besar dengan raja siluman jika sesuatu terjadi pada keluarga Vone. Apa lagi jika aku berkata bahwa Eliza lah yang membangkitkan raja siluman itu.
Raja siluman yang telah tersegel selama ratusan tahun dipercaya memiliki kekuatan yang hampir tak tertandingi. Karena itu, tidak ada yang sanggup membunuhnya. Berdasarkan legenda pun, butuh sekitar lima puluh ribu penyihir level tinggi dari seluruh dunia untuk menyegelnya. Sudah pasti tidak akan ada yang percaya jika setetes air mata seorang gadis yang patah hati bisa membuka segel itu.
“Bagaimana pun keinginan ibu suri, keputusan terakhir tetap ada di tanganmu. Jika kau tak ingin bersama dengannya lagi, maka itu adalah hakmu. Keluarga Vone maupun ibu suri juga tidak bisa menghalaumu. Karena keinginan keturunan raja, adalah keinginan Dewi Shilla sang pemberi cinta.” katanya lagi.
Inilah bagian paling menjijikan dari game ini. Semua tergantung pada Shilla, seorang dewi cinta pembagi cahaya yang dikatakan sebagai dewi yang membangun seluruh negeri. Kalau sudah bicara tentang cinta, pernikahan yang bertujuan untuk mempersatukan negara pun diizinkan bercerai tanpa adanya pertikaian. Artinya, perselingkuhan yang mengatasnamakan cinta adalah suatu hal yang wajar.
Sekeji apa pun Eliza pada Arabella, menurutku ini tidak sebanding dengan pengorbanan Eliza selama ini. Sudah begitu, bukankah kejahatan Eliza tidak akan terjadi jika Arabella tidak menggoda Rafael terlebih dahulu? Lagi pula si Rafael ini sepertinya terlalu lemah dengan perempuan manja.
“Ayahanda. Bagaimana pun Eliza adalah teman sepermainan ananda sejak kecil. Ananda tidak ingin menyakiti Eliza lebih dari ini.” aku masih mencoba memberi pembelaan.
“Huh. Inilah yang ku sayangkan darimu, puteraku. Hatimu terlalu lembut. Anggap saja ini pembelajaran untukmu agar lebih keras kepada orang yang ada di bawahmu.”
Setelah mengela napas, dia berdiri dan kembali berkata, “Sudahlah. Hari telah larut. Kau pasti sudah lelah. Sebaiknya kau tidur.”
“Baik, Ayahanda.” sahutku.
Jika sudah begini, jelas aku tidak bisa berbuat apa pun. Aku hanya bisa berharap bahwa ini benar-benar mimpi dan masa depan yang buruk itu tidak akan pernah terjadi.