Meski kepalaku yang cukup pusing, mungkin akibat pukulan atau lecture hell dari Prof Ayyubi, aku cukup bagus menyembunyikannya. Lebih tepatnya, cukup bagus menipu diriku bahwa aku tidak apa-apa, padahal aku sendiri dalam masalah juga karena sikapku hari ini.
“Assar!” teriak Latifah tepat setelah kami tiba di luar, tidak dalam jarak pengamatan Prof Ayyubi. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya, tidak terlihat terpengaruh.
“Apa?” tanyaku malas. Aku tidak ingin interaksi berikutnya mengakibatkan salah persepsi baru dan menjadi kekacauan lagi. Orang-orang, terutama mahasiswa baru di sini, sepertinya sangat menantikan kesempatan lain menghantam diriku.
“Maaf ... kamu harus menderita seperti ini karena aku,” ucapnya lemah. Aku menggelengkan kepala, lalu menjauhkan diriku dari memandangnya. Latifah adalah potensi masalah besar jika terus berinteraksi.
“Seharusnya aku tidak ikut campur dari awal. Lagipula, maaf tak mengubah apa yang sudah terjadi,” komentarku seraya melangkah pergi meninggalkan Latifah. Nyeri dari pukulan tadi masih bisa aku rasakan di wajahku. Menyakitkan. Setidaknya, jangan sampai ibu tahu. Aku tidak ingin hidupku yang masih muda ini berakhir oleh sebuah lecture hell dari ibu.
“Woi, Assar!” teriakan itu familiar, memecahkanku dari memikirkan kekhawatiran terkait ibu mengetahui peristiwa yang terjadi hari ini.
“Zahra,” gumamku kesal. Aku menolehkan kepala ke arah sumber suara, dan aku melihat Zahra yang terengah-engah mengejarku. Wanita itu menyorot tajam ke arahku.
“Kamu nggak perlu sekasar itu, Assar,” komentar Zahra tajam. Dia berhenti hanya berjarak sekitar satu sampai dua meter dariku.
“Aku hanya berbicara terkait fakta,” jawabku datar. Zahra tetap memberikan sorotan tajamnya, sementara aku melihat Latifah menyusul ke tempat kami.
“Zahra! Kamu tidak ... Assar,” ucapan Latifah terpatah. Aku hanya menatap kepada mereka berdua, bergantian.
“Sudahlah. Tidak penting. Kalau hal kecil saja seperti sikapku tadi membuatmu tersinggung, aku rasa akan sulit nanti kala kalian belajar denganku. Aku pulang dulu,” komentarku lalu memalingkan wajah dan pergi meninggalkan mereka.
“Untung saja dia sudah beli unit sendiri,” gumamku kala aku tiba di apartemen dan membuka unit itu. Aku segera menutup pintu dan menguncinya.
“Satu pukulan doang, tapi sakit. Ah, seperti cewek saja kesakitan,” komentarku menghina diriku sendiri. Aku menggelengkan kepala, dan mengambil es batu di kulkas kecil yang ada di unit ini.
“Menghambat peredaran darah untuk menekan rasa nyeri,” komentarku pelan. Aku menatap ke arah cermin di apartemen, melihat wajahku yang cukup lebam.
Menyebalkan, selemah itu diriku? Satu pukulan dan sudah cukup untuk terlihat memar di wajahku.
“Sudahlah, masih ada pelajaran yang tugasnya belum aku selesaikan. Kelas berikutnya juga dalam waktu kurang dari satu jam. Aku masih harus hadir kelas Pengantar Teknologi Komputer.
Dering ponsel membuatku sedikit terkejut, sebelum aku menenangkan diri. Ada sebuah notifikasi di sana, dan itu dari Latifah. Aku mengabaikannya. Sebaiknya aku bersiap untuk kembali berangkat.
***
“Assalamu’alaikum,” suaraku rendah, nyaris tidak terdengar. Penghuni kelas Pengantar Teknologi Komputer tampak sibuk dengan gosip dan sebagainya. Namun, kehadiranku sepertinya membuat mereka langsung menyorot sepenuhnya kepadaku begitu kakiku tidak lagi berada di koridor luar.
Baru pekan kedua kuliah, dan aku yakin banyak yang memasukkan diriku dalam s**t list mereka. Terlepas dari kenyataan bahwa itu hal yang buruk, itu prestasi tersendiri.
Aku tidak peduli.
“Aku kira pukulan Theodorus seenggaknya bikin kamu babak belur,” komentar sinis salah satu wanita dari kubu gosip itu. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Oh, pukulan tadi?” tanyaku seraya memiringkan kepala, “tidak ada rasanya kok.”
“Pembohong,” komentar Zahra pelan yang duduk di dekat pintu, tepat di sisi kiriku, nyaris mengejutkanku. Sepertinya aku tidak menyadari karena aku terpaku pada para tukang gosip dan memastikan para asisten Prof belum datang.
Telepon milikku berbunyi, menandakan seseorang menelponku. Aku mengambil ponselku, mengabaikan beberapa warga kelas yang mulai mengejekku dengan berbagai macam ejekan dan hinaan.
Nama Kak Rahman tertera jelas di mataku. Aku mengembuskan napas berat dan mengangkat telepon itu.
“Assalamu’alaikum, Kak Rahman,” ucapku mengabaikan semua keributan yang berfokus padaku.
“Mutiara dan Rasyid baru izin keluar kantor ke kakak. Katanya mau ngajar maba kelas Prof Ayyubi. Tadi aku titipkan makan siang buatmu sama mereka kalau ketemu kamu. Coba tanya teman-temanmu ada gak yang tau kelas Prof Ayyubi-” kalimat penjelasan Kak Rahman segera ku sanggah.
“Prof Ayyubi itu kelasku Kak. Mereka bilang kelas Pengantar Teknologi Komputer ‘kan?” tanyaku datar.
“Nggak sih, tapi ya bilang kelas Prof Ayyubi sore nanti. Kamu sudah di kampus belum? Aku tadi mau antar ke apartemen tapi ini lagi kejar pengembangan game,” tanya Kak Rahman balik.
Aku bukan anak kecil. Buat apa dia membelikanku makan siang coba?
“Sudah di kelas, baru datang,” jawabku datar.
“Itu teman-temanmu bisa nggak suruh jangan ngomong sembarangan? Nanti ku laporkan ke Mutiara dan Rasyid mampus kelasmu,” balas kakakku santai, “oh, sekalian naikkan volume dong.”
“Tidak perlu, Kak Rahman.” Aku membela orang-orang yang melukaiku dengan satu kalimat saja. Aku mendengar Kak Rahman mendesah kesal di seberang.
“Kok mulut mereka lemes ya? Aku mungkin bukan alumni terbaik, tapi jangan salah kalau aku itu alumni berprestasi ya.” Kak Rahman terdengar emosi di kalimatnya.
“Sudahlah Kak. Biarkan saja. Aku sudah biasa saja,” jawabku dingin. Kak Rahman terdengar kesal di seberang.
“Kamu selalu seperti itu, Assar,” balasnya dingin. Dia diam sejenak sebelum melanjutkan, “Oke. Aku tidak akan mengurus masalah ini. Oh, dan aku tahu. Rasyid cerita saat dia bilang Prof Ayyubi marah-marah dan enggan bimbingan siang tadi.”
Aku hanya bisa diam.
“Jangan kaget jika nanti Rasyid dan Mutiara ngamuk ya. Aku tahu Rasyid bisa tegas, tapi Mutiara, Mutiara yang kami para asisten cap ‘malaikat’ bisa mengamuk itu kalian pecah rekor lho. Ini malam nanti mau perayaan Mutiara marah perdana semenjak jadi asisten lab katanya.”
Aku mencoba memproses informasi tambahan dari Kak Rahman. Aku membenarkan bahwa Mba Mutiara memang terlalu bersahabat, dan Mas Rasyid mengamuk bukan hal baru.
Minggu pertama kemarin mereka berhasil membuat senior marah.
“Aku kelas dulu,” jawabku datar menutup telepon.
“Oh? Minta bantuan kakak sekarang?” sindir beberapa orang.
“Assalamu’alaikum,” suara dingin Mas Rasyid masuk ke ruangan, membuat semua panik dan mencoba menjadi siap untuk kelas. Aku juga berjalan ke salah satu kursi kosong untuk bersiap kelas.
“Munafik,” komentar Mas Rasyid, keras untuk di dengar seluruh penghuni kelas. Mba Mutiara hanya diam, membiarkan pria itu berkomentar. Hanya saja, aura Mba Mutiara jelas sangat tidak bersahabat sore ini.
“Kita mulai kelas hari ini,” komentar Mas Rasyid, tiada kata bersahabat darinya. Nada semua kata-katanya dingin, seakan membenci kehadiran kami.
“Hari ini adalah giliran saya yang menjelaskan secara penuh, namun sebelum mulai, saya hanya ingin berkomentar terkait masalah hari ini,” komentar Mas Rasyid datar.
“Mengecewakan,” komentar Mas Rasyid selanjutnya. Suasana hening, tiada yang membalas komentar itu.
“Prof Ayyubi seharusnya kelas hari ini tapi beliau menolak,” komentar Mas Rasyid lagi dengan keras, “Saya tidak pernah lihat, selama saya tiga tahun kuliah, Prof Ayyubi marah seperti hari ini. Teman-teman saya gak bisa bimbingan! Mas-mas Mba-mba saya gak bisa bimbingan! Penyebabnya? Maba!” hardik Mas Rasyid keras.
Ini akan jadi setengah jam tersendiri kah?
Aku melihat ke arah jarum jam di ruangan itu. 15:03, baru 3 menit.
“Kalian sudah jadi bahan ejekan lintas angkatan!” hardik Mas Rasyid lagi.
“Tahu teman-teman saya yang panggil kalian sabtu kemarin?” tanya Mas Rasyid lagi, intonasi tetap tinggi.
“Mereka semua sekarang dipanggil jurusan karena teledor! Kahima juga dipanggil! Kalian coba pikirkan sejenak akibat ....” Mba Mutiara memberikan tepukan di pundak kiri Mas Rasyid, membuat Mas Rasyid sedikit terkejut. Mba Mutiara lalu membisikkan
“Ah, maaf. Seharusnya saya tidak marah di kelas resmi. Saya akan minta sanksi saya ke Prof Ayyubi setelah kelas,” komentar Mas Rasyid dengan lebih tenang.
Dia langsung mengakui dia salah menggunakan jam kelas untuk menegur sikap kami yang tidak masuk ranah kelas, aku berikan apresiasi untuk itu. Di sisi lain, bahkan jika Prof Ayyubi mengajar pasti berganti menjadi lecture hell.
“Baiklah. Kita mulai hari ini. Sekilas tentang cabang game ya. Kita selalu mulai dari sejarah terlebih dahulu,” komentar Mas Rasyid seakan semua peristiwa tadi berlalu begitu saja. Antara dia cepat mengambil alih emosinya, atau dia
Mas Rasyid mengambil spidol dan mulai menulis di papan tulis terkait pelajaran hari ini. Sejarah asal-usul terkait permainan digital. Dari permainan model teks, hingga mencapai grafik dua dan tiga dimensi yang dinikmati kala ini, bahkan ada singgungan dengan permainan yang mulai menembus batas realita.
Perkuliahan itu cukup panjang, dan perkara peristiwa pagi tadi seakan menguap selama Mas Rasyid menjelaskan dengan detail terkait sejarah perkembangan game. Aku harus akui Mas Rasyid serius dengan usahanya mengajarkan. Bahkan, meski dengan emosinya, dia bisa menerima pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa dengan tenang dan menjawab dengan serius. Aku cukup kagum dengan kemampuannya menahan emosinya setelah dia marah di awal kelas.
Jam 17:00, dan Mas Rasyid mengakhiri kelas.
“Tugas Nol belum dikumpulkan. Prof Ayyubi memberikan deadline hingga pekan ke-6. Saya rasa kita cukupkan untuk kelas hari ini,” komentar Mas Rasyid mengakhiri kelas.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,” ucap Mas Rasyid dan Mba Mutiara bersamaan.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.”
“Assar Nurrahman, tolong ke depan sebentar ya,” pinta Mba Mutiara. Aku pun menganggukkan kepala dan berjalan ke depan.
Mereka menyerahkan bingkisan makanan dari Kak Rahman kepadaku. Aku melihat surat dari Kak Rahman di sana. Tinta merah.
“Ibu mungkin tidak di sini. Selama aku di sini, mereka menyentuhmu aku kirim mereka ke kehancuran.”
Inilah kenapa aku takut dengan ibuku sendiri. Ternyata, kakakku juga tidak jauh berbeda.
“Itu dari Mas Rahman ya,” ucap Mba Mutiara. Aku menganggukkan kepalaku.
“Terima kasih, Mas, Mba,” ucapku.
“Bilang aja ke kakakmu ya. Kami hanya membantu saja,” balas Mba Mutiara. Aku menganggukkan kepala.
“Oke. Semuanya bisa pulang ya,” komentar Mas Rasyid sebelum mereka meninggalkan ruangan.
“Bekingannya kuat.”
“Enak ya, kakaknya beking dia.”
“Siapa sih si Rahman itu?”
“Iri gue.”
“Seenaknya dia sekarang mah.”
Aku tidak suka sikap kakakku.
Tidak ada yang berani lagi berbicara denganku, mereka pergi satu per satu meninggalkan kelas. Aku memutuskan untuk berdiam sebentar, menyelesaikan novelku.
“Oke, aku tahu ibumu orang berkuasa, tapi kakakmu juga?” tanya suara yang aku yakini milik Zahra yang mengganggu momen tenang membaca yang aku punya. Anggap saja tenang, meski harus mendengar semua ejekan di belakang.
“Dia hanya kebetulan ada jaringan dengan dua asdos itu,” jawabku dengan malas. Mataku masih terfokus pada novel, mencoba mengabaikan semua yang terjadi.
“Gila juga ternyata kamu, Sar,” suara Ismail masuk ke telingaku. Aku tidak tahu kenapa orang ini masih mau berinteraksi denganku setelah lebih dari 50% orang di angkatan sudah memasukkan aku ke daftar hitam.
“Kamu juga gak balik?” tanya Zahra, sepertinya tertuju ke Ismail.
“Mau minta penjelasan ke Assar. Aku ngobrol sama salah satu anak angkatan kita waktu itu, tapi gak jelasin peristiwanya apa. Aku mau dengar versi cerita Assar dan Latifah,” jawab Ismail.
Tunggu, dia mau versi aku?
“Latifah masih belum enak bicara, Assar belum kasih-”
“Kenapa? Harus aku izinkan dulu baru dia ngomong?” tanyaku seraya menutup novel.
“Aku gak enak kalau ngomong sepihak,” ucap Latifah yang masuk ke percakapan. Zahra terlihat mengembuskan napas berat, seakan mengatakan ‘tuh, dengar sendiri kan?’.
“Menurutku, versi kalian sebenarnya berbeda ‘kan dengan apa yang kata orang-orang?” tanya Ismail datar, namun berharap.
“Aku memang membuat Latifah menangis,” jawabku datar.
“Seriusan!?” Ismail tidak percaya mendengar aku menjawab dengan tenang.
“Dia tidak bohong, tapi ada cerita lengkapnya,” komentar Zahra sebelum Ismail bereaksi lebih jauh.
“Mungkin kita di plaza saja?” usul Latifah.
“Banyak warga senior di sana,” sanggah Ismail.
Teleponku berdering.
“Sebentar,” ucapku sebelum mengangkat telepon itu.
“Temui kakak di apartemen kakak, sekarang. Unitnya kakak kirim lewat chat.”
Dan telepon itu diputus.
“Aku harus pulang, kakakku memanggilku.”
Mereka menatap ke arahku, pandangan bercampur. Aku mengembuskan napas berat.
“Kalian tunggu di lobby apartemenku. Aku sebenarnya benci membawa tamu ke apartemen, tapi sekali ini saja aku perkenankan. Ada beberapa syarat,” lanjutku.
“Oh? Jika setuju bisa dapat cerita lengkapnya ‘kan?” tanya Ismail.
“Versiku, iya. Aku tidak tahu kalau Latifah bersedia atau tidak,” jawabku.
“Syaratnya apa?” tanya Ismail.
“Kalian bertiga rahasiakan apartemen mana aku tinggal,” jawabku. Mereka menatapku heran.
“Aku tidak menuliskan di data akademik tempat tinggalku di apartemen itu. Data akademikku semua di kirim ke tempat tinggal om-ku di kota ini,” komentarku. Mereka saling bertatapan dengan wajah bingung.
“Intinya, kalian bersedia dengan syarat itu?” tanyaku. Mereka menganggukkan kepala.
“Aku akan pulang sekarang. Kalau kalian ingin cerita versiku, ayo kita berangkat.”
***
“Lama benar kamu,” komentar Ismail kala aku tiba menemui mereka yang menunggu di lobby.
“Sudah Maghrib dan Isya kan kalian? Aku sudah kasih tahu dimana musholla-nya tadi,” komentarku datar.
“Maghrib sudah sih,” komentar Ismail.
“Aku halangan,” balas Zahra.
“Maghrib dan Isya sudah,” jawab Latifah.
Lobby itu terlalu ramai malam ini, membuatku mempertimbangkan untuk tidak cerita di tempat ini.
“Sebenarnya, aku mau di sini, tapi sepertinya terlalu ramai,” keluhku melihat keramaian di lobby.
“Di tempatmu saja lah Sar!” pintar Ismail. Aku melihat ke arah Zahra dan Latifah.
“Kalian keberatan?” tanyaku. Latifah tampak mengisyaratkan keberatan dari raut wajahnya yang menghindar.
“Ogah!” balas Zahra, mewakili dirinya dan Latifah, “nanti macam-macam kejadian bisa terjadi!”
“Waduh, mikirin apa Zah?” tanya Ismail ke arah sensual, memancing emosi Zahra.
“Kamu seenaknya ya!” balas Zahra dengan nada tinggi.
“Sudah-sudah,” keluhku kesal, “kita ke restoran saja. Kakakku memberiku uang untuk traktir aku dan kalian makan di satu restoran spesifik. Gak tau aku kadang apa yang ada di benak kakakku itu.”
Dia memang tidak bisa diprediksi sih. Aku saja bingung waktu dia memberikan uang kepadaku.
“Wah, seriusan? Kok gak ngomong dari tadi!?” ucap Ismail tidak terima.
“Serius ini kita ditraktir?” tanya Zahra hati-hati, “bukan-”
Aku menyela supaya Ismail tidak menangkap implikasi kalimat Zahra, “Di Mall Antariksa. Salah satu restoran All-You-Can-Eat.”
“Uh, apa itu tidak menyusahkan kakakmu, Assar?” tanya Latifah khawatir.
“Aku tidak laksanakan perintah dia yang ada ribut lagi. Aku capek ribut,” jawabku sekenanya. Kakakku seperti punya tujuan tertentu, tapi aku tidak tahu apa tujuan dia dengan hal ini.
“Ayo berangkat!” teriak Ismail bersemangat. Aku mengembuskan napas.
“Cepat sekali kamu kalau makanan gratis ya,” komentarku pelan. Ismail terkekeh.