[10] 001010: Merajut Karsa

1002 Words
Kak Rahman tidak pulang, atau lebih tepatnya, dia pulang namun kembali pergi. Dia hanya meninggalkan kunci apartemen dan motor di meja. Hanya pesan pendek yang menjelaskan kemana dia. “Aku sudah dapat akses apartemen dan motorku. Cya bye boss.” Dia bercanda di tengah pesan serius. Kalau dengan ibu, aku yakin ibu akan sangat marah dengan kakakku itu. Ah terserah saja. [Latifah]: Terima kasih, tapi aku dengan berat hati harus menolak tawaran itu. [Assar]: Kalau begitu, aku tidak bisa menawarkan bantuan apapun lagi. Ya, memang tidak ada lagi. Apa yang dia harapkan? Aku saja harus meminta large favor untuk bisa mendapatkan satu mentor. [Latifah]: Maaf ya... sebenarnya ada satu yang aku kepikiran lagi, tapi mungkin bisa kita bicarakan langsung, Sar? [Assar]: Oh? Enakmu bagaimana? [Latifah]: Mungkin di salah satu tempat di kampus? Atau mungkin di salah satu warkop yang kata anak-anak nyaman. Namanya warkop MANTOEL, tapi kalau kamu mau saja sih. [Assar]: Aku tidak pernah ke sana, sebentar aku cari sedikit informasi. Aku mengetikkan satu nomor telepon. Apakah kakak yang ponselnya suka hilang entah kemana dan tidak bisa dihubungi via telepon dengan mudah itu akan menjawab? Nada tersambung. “Assalamu’alaikum Assar. Ada apa?” tanya Kak Rahman dari seberang. “Wa’alaikumussalam. Kakak pernah ke warkop MANTOEL?” tanyaku dengan OE, dan bukan U. Kali saja mereka mengejanya begitu? “Oh? Warkop favorit emang itu. Heran masih disebut warkop padahal sudah lumayan gede, gak kek warkop. Anyway busway, pernah kok. Enak memang tempatnya. Cuma kadang suka gak ngotak kalau orang ngerokok di sana, kecuali ambil ruang bebas rokok mereka yang baru ada setahun belakangan ini,” jawab Kak Rahman. “Makasih Kak,” komentarku dan aku menutup telepon, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alai-” Aku menghembuskan napas panjang, sepertinya lebih baik di sana? [Assar]: Oke. Bisa. Kapan? [Latifah]: Kalau hari ini jam 11 apa bisa? Aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan angka 10 di jarum pendek dan angka 1 di jarum panjang. Ada cukup waktu mempersiapkan diri. [Assar]: Bisa. “Aku masih tidak percaya kamu cerita dengan dia!” komentar Zahra tak terima kala aku masuk dalam jarak percakapan duo itu. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku di keramaian ini. “Aku tidak tahu lagi, Zah, aku sudah bingung. Baru pekan ini saja, aku sudah seakan lepas dari perkuliahan,” jawab Latifah sendu. Aku berdehem, membuat mereka terkejut dan menjadikan diriku ada. “Tidak baik berbicara kala orang yang dibicarakan ada. Lebih jelek kalau dibicarakan kala orangnya tidak ada di belakang mereka,” komentarku menyindir Zahra. Wanita itu menyorot tajam kepadaku. Meja pilihan mereka lumayan bagus, cukup di tepi dan tidak di tengah pusat keramaian daripada warkop itu. “Langsung ke poin saja,” komentarku lagi seraya mengambil tempat duduk berhadapan dengan Latifah, “aku tidak ingin waktuku terbuang lama-lama,” sambungku. Zahra menatapku dengan wajah kesal. “Bisakah kamu setidaknya apresiasi dulu momen percakapannya!?” tanya Zahra ketus. Aku menyorot balik dengan sorotan tajam. “Bicara dengan orang-orang yang membicarakanku di belakangku? Ogah!” balasku ketus. Hatiku meradang mengatakan kalimat itu. “Sudah-sudah, kalian berdua,” pinta Latifah melerai kami. Aku dengan kesal menghembuskan napas berat. Zahra pun demikian. Jujur saja, aku ogah bercakap dengan wanita menjengkelkan itu. “Sebenarnya, aku ingin membicarakan denganmu kemarin setelah panggilan senior itu, tapi karena kamu tidak hadir aku pikir kamu ada kegiatan lain yang harus kamu lakukan,” terang Latifah. “Aku membantu kakakku bertemu dengan teman-teman lamanya. Reuni kasarnya,” jawabku sekenanya, setengah berbohong. Aku malas membuat mereka berpikir aku berpotensi secara industri dengan terlibat di bisnis kakakku. Lagipula, setengah alasan aku ikut sabtu kemarin adalah untuk lari dari panggilan. “Wah, jadi b***k kakakmu?” sindir Zahra. Aku tidak mengacuhkan, karena ada benarnya kalimat itu, pada derajat tertentu. “Oke. Aku bermimpi kita bertiga belajar bersama, jadi mungkin kita-” Zahra langsung memotong kala itu pula. “Oke Latifah. Aku tahu mimpimu indah dan semuanya, tapi aku ogah satu kelompok belajar dengan orang sombong itu!” ketus Zahra. Terkadang, aku bertanya, mana Zahra yang lebih sopan sewaktu tahu aku anak bos perusahaan dia bekerja? Oh ya, aku sendiri yang minta dia tidak bermuka dua di depanku. Bodoh. Tapi bagus sih, gak ribet tahu dia benci aku atau tidak. “Aku juga tidak tertarik sih kalau belajar dengan orang. Menyusahkanku. Biasanya mereka kesulitan mengejar dan aku harus berulang kali menjelaskan sampai aku muak,” komentarku balik dengan tajam. “Teman-teman, kita bisa-” Latifah mencoba melerai namun sepertinya Zahra memakan umpanku. “Oke! Kamu mungkin anak bos perusahaan aku bekerja, tapi sikapmu keterlaluan!” balas Zahra ketus. Aku benci asosiasi itu, aku benci dikaitkan dengan perusahaan, dengan kakak, dengan ibu, dengan keluargaku! Aku adalah aku! Zahra mulai beranjak, namun dengan emosi tinggi aku menahan lengan kirinya dengan tangan kananku yang mengejutkan dia. Hangat. Menjengkelkan sekali wanita ini. “Lepaskan!” titahnya keras. Latifah menyentuh tanganku dan tangan Zahra dengan masing-masing tangannya, dengan gerakan lembut seakan mengisyaratkanku untuk melepaskan tangan Zahra. “Tch. Baiklah,” ucapku kesal, namun aku melepaskan tangan kananku dari lengan Zahra. Namun, itu tidak membuat Zahra pergi. “Ku mohon, bolehkah kalian biarkan aku selesai dulu?” pinta Latifah selembut mungkin. Zahra menghembuskan napas kesal, tapi dia luluh. “Baiklah, maaf, Latifah,” ucapnya pelan, namun terdengar olehku. Kami kembali ke pembicaraan awal. “Seperti kataku sebelumnya, aku ingin kita buat grup belajar. Kita bisa juga undang Ismail dan Fatimah,” ucap Latifah lagi mengajukan penawarannya. “Aku tidak tertarik untuk grup belajar dan semacamnya. Kalian lakukan itu untuk kalian sendiri saja,” komentarku lagi. Latifah menghembuskan napas berat. “Tapi, hanya kamu yang cukup ahli-” kalimat Latifah dengan segera aku sanggah. “Banyak kok orang yang sebenarnya cukup ahli di angkatan kita. Aku yakin bukan hanya aku yang jago dalam dunia pemrograman.” Semuanya hening, tidak ada yang memberikan tanggapan. “Aku rasa kita sudah cukup? Maaf ya Latifah, tapi sepertinya aku memang tidak bisa mem-” Latifah menyanggah kalimatku, dan kalimat itu membuatku dan Zahra sama-sama terkejut.  “Aku ingin kamu jadi mentor pemrograman pribadiku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD