Sayangnya Rajan tidak akan bersikap egois seperti itu hanya karena perasaannya tak terbalas maka ia menjauh, Rajan sudah membulatkan tekadnya untuk tetap bersama Lara walaupun ia juga sadar keputusannya yang seperti ini juga sama saja egoisnya karena seperti memaksakan cintanya untuk Lara, tetapi Rajan tidak bisa membiarkan Lara sendirian memulihkan diri.
"Mungkin keputusanku yang seperti ini terlihat egois untuknya hanya saja aku sudah bertekad untuk tetap bersama dengan Lara entah apapun yang terjadi padanya, aku akan selalu berada di sisi Lara karena aku tak bisa membiarkan Lara sendirian untuk melalui hari-harinya yang terasa tidak baik untuknya maka dari itu aku akan bertahan di sini demi Lara," batin Rajan tegar.
Untuk itu ia lebih memilih tetap berada di samping Lara dan menenangkan gadis itu bahwa Rajan tak akan pernah pergi dan tak pernah merasa kerepotan dengan Lara sebab Rajan paham bahwa keputusannya ini di dasari oleh keinginannya sendiri jadi Lara hanya cukup yakin saja pada dirinya.
"Aku mungkin tak memahami bagaimana perasaanmu saat ini, tetapi aku lebih memilih untuk tetap berada di sampingmu dan aku memilih untuk tak pergi dari sisimu Lara! Apapun yang aku lakukan untukmu aku tidak pernah merasa kerepotan jadi kamu tak perlu mengkhawatirkan diriku karena aku sendiri yang ingin bertahan untukmu dan kamu hanya cukup yakin saja pada aku ini ya," tutur Rajan lembut.
Tak banyak jawaban yang terucap dari Lara, tetapi Rajan mengerti jika gadis itu lebih butuh waktu untuk memahami ucapannya sementara Axton dan Luruh sampai di rumah kemudian ia menunggu istrinya berganti baju dan mereka makan siang bersama dengan santai karena tidak ingin membahas apapun soal Laninna.
Makan siang mereka berakhir dengan Axton yang mencuci piring dan Luruh membereskan meja lalu mereka pergi ke rumah sakit untuk ia mengantarkan istrinya menemani Lara sedangkan Axton sendiri harus kembali bekerja dan dirinya akan menjemput Luruh sepulang dari kantor.
"Nanti jangan pergi sendiri lagi, kalau mau membeli sesuatu biar nanti kita pergi bersama! Ingat ini baik-baik pokoknya kamu jangan melangkahkan kakimu keluar dari rumah sakit lagi dan tunggu aku di dalam kamar rawat kakakmu saja dan hubungi aku jika sesuatu terjadi pada kamu dan Lara! Kamu paham pesanku ini kan? Aku tak ingin kamu terluka lagi," ucap Axton lembut.
Luruh yang mendengar ucapan suaminya membuat gadis itu mengangguk-anggukkan kepala tanda ia mengerti dengan pesan Axton kemudian Luruh berjalan ke dalam rumah sakit untuk bergegas menemui kakaknya, dalam diam Axton merasa keputusannya menikahi Luruh seperti ia memaksakan gadis itu berdiri di sampingnya.
"Maaf jika kamu harus terluka karena keputusanku, aku tidak menyangka kalau menikahmu akan membuatmu kesulitan.seperti ini! Rasanya aku terlalu egois karena keputusan yang aku buat untuk menikah denganmu malah seperti aku memaksakan dirimu berdiri di sampingku padahal kamu punya pilihan untuk mengakhiri hubungan ini Luruh," batin Axton sendu.
Namun hati Axton memilih untuk enggan melepaskan Luruh walaupun dengan keputusan yang mementingkan dirinya malah Axton seperti terlalu egois dalam hubungan mereka setidaknya Axton hanya berusaha untuk mempertahankan hubungan mereka dan sejujurnya Axton tak ingin kembali kehilangan orang yang ia cintai kedua kalinya.
"Di lain sisi jika aku boleh jujur rasanya kalaupun Luruh memilih mengakhiri hubungan ini rasanya aku tidak sanggup melepaskan hubungan kami, sepertinya aku benar-benar terlalu egois karena hanya mementingkan diriku sendiri! Hanya saja aku bersikap seperti ini karena aku tak ingin kembali kehilangan kedua kali seseorang yang aku cintai Luruh," gumam Axton datar.
Perlahan-lahan mobil pemuda itu berjalan menuju kantornya lagi dan hatinya ingin sekali cepat pulang ke rumah, tetapi sayangnya Laninna sudah menantinya di dalam ruangan Axton dan ia mulai menangis menjelaskan jika ia hanya berusaha memperjuangkan pemuda itu bukan dirinya berniat melukai orang lain.
"Tolong jangan salah paham dengan apa yang terjadi, Axton! Aku hanya berusaha semampuku untuk memperjuangkan dirimu bukan aku berniat melukai orang lain! Kamu yang paling paham bagaimana aku selama ini kan? Jadi tolong maafkan aku jika sikapku tadi mungkin membuatmu merasa marah setidaknya jangan membenciku Axton," lirih Laninna sendu.
Mendengar ucapan tak logis dari Laninna membuat Axton menyahutinya dengan tak perduli dan ia meminta Laninna untuk pulang saja ke rumah dan jangan ganggu dirinya juga Luruh sebab Axton tak yakin bisa mengendalikan kemarahannya setelah apa yang di lakukan Laninna pada istrinya.
"Tidak berniat melukai orang lain katamu? Jelas-jelas kamu membidik Luruh dengan sangat yakin sampai lengannya tergores seperti itu! Berhentilah berbicara omong kosong yang tak logis ini, Laninna?! Sudahlah kamu pulang saja ke rumahmu dan jangan ganggu aku dan Luruh karena aku tak yakin bisa mengendalikan amarahku setelah perbuatanmu tadi!" ujar Axton serius.
Hari itu Axton benar-benar sudah tak ingin berurusan dengan Laninna, tetapi gadis itu terus saja mengatakan jika dirinya egois padahal Axton tak pernah meminta gadis itu untuk selalu ada di sisinya dan Laninna meminta Axton untuk adil membagi perasaannya.
"Sebaiknya kamu jangan salah menyimpulkan sikapku, Axton! Aku memperjuangkanmu apakah itu salah? Cobalah kamu berada di posisiku satu menit saja maka kamu akan mengerti betapa aku hanya ingin membahagiakan dirimu! Dengan sikapmu yang seperti ini artinya kaku terlalu egois karena tak memahamiku lalu memusuhi aku hanya karena Luruh?!" ujar Laninna geram.
"Aku tidak pernah meminta kamu untuk selalu ada di sisiku dan kaku berbicara seolah apa yang kamu lakukan hanya masalah sepele? Nyawa seseorang bisa berada dalam bahaya karena luka yang kamu buat! Setelah semua yang kamu lakukan pada Luruh lalu sekarang kamu meminta aku untuk memahami orang yang telah menyakiti istri yang aku cintai? Sepertinya pikiranmu sudah tak berfungsi dengan baik ya," ucap Axton datar.
"Istri yang kamu cintai? Kenapa dengan mudah kamu bilang cinta padanya sementara selama ini hanya aku yang setia padamu! Harusnya kamu adil dengan membagi perasaanmu untuk aku dan Luruh! Apakah sesulit itu membuatmu membalas rasa cintaku? Tolong jangan terlalu egois, Axton! Pikirkan juga perasaanku ini," sahut Laninna sendu.
Ekspresi muka Axton benar-benar sudah sangat marah dan ia meminta Laninna untuk jangan berbicara omong kosong setelah tadi Laninna berniat menyakiti istrinya padahal dengan sikap Laninna yang seperti ini malah semakin menyakiti hati Axton jadi sebaiknya Laninna jangan lagi hadir di hadapan Axton atau kelak ia semakin membenci Laninna.
"Sesama wanita kamu bisa sesantai ini berbicara soal membagi perasaan? Sudahlah jangan berbicara omong kosong, Laninna! Kamu pikir membagi perasaan itu semudah yang kamu mau hah! Terlebih kamu tadi telah menyakiti istriku jadi jangan bersikap seperti ini karena aku tidak merasa bahagia sedikitpun dengan ucapan ini! Mulai sekarang jangan lagi hadir di hadapanku karena berkat perjuanganmu hari ini aku semakin membencimu," ucap Axton serius.
Mata Laninna terlihat sudah tak dipenuhi genangan air mata dan gadis itu berusaha membujuk Axton untuk jangan bersikap seperti ini pada dirinya, tetapi Axton sadar jika dirinya tidak boleh lemah dan harus tegas dengan Laninna sebelum nantinya Laninna bertindak lebih berbahaya dari hari ini.
"Kalau dia bisa dicintai olehmu lalu kenapa aku tidak, Axton? Bukankah setiap cinta itu perlu mendapatkan balasan yang sama? Mengapa kamu malah berkata seperti ini padahal kamu tau bahwa aku terlalu mencintaimu dengan tulus? Jadi ini balasan yang kamu berikan dari usahaku untuk bertahan di sisimu selama ini? Semudah itu kamu mengusirku," gumam Laninna sedih.
"Kamu pikir saja bagaimana bisa aku tidak mencintai istriku sendiri? Aku tak mencintaimu karena kamu itu temanku bukan istriku, Laninna?! Sudahi dramamu ini karena kamu berada di sisiku selama ini hanya untuk keuntungan karirmu yang mencari rekan bisnis! Harusnya kamu ingat sendiri ucapanmu dan jangan bersikap seolah-olah hidupmu paling menderita di dunia ini Laninna," ujar Axton datar.
Sayangnya Laninna masih berusaha membujuk Axton hingga dengan kesal Axton memanggil pihak keamanan untuk membawa Laninna pergi dari ruangan dan kantornya sekarang juga bahkan tak cukup di sana Axton meminta pihak keamanan untuk jangan mengizinkan Laninna masuk ke kantornya atau ruangannya lagi.
"Dia itu hanya status karena perjodohanmu jadi buat apa mencintainya? Banyak pemuda di luaran sana yang mencintai temannya! Tidak bisakah kamu seperti mereka?! Aku memang dulu awalnya berpikir begitu, tetapi seiring berjalannya waktu aku mencintaimu! Ingatlah lagi siapa yang membantumu menjauhi gadis-gadis tak jelas itu Axton! Hanya aku yang berkorban banyak untukmu," ucap Laninna lembut.
"Sudah tak waras akalmu, Laninna! Satpam! Tolong datang ke ruangan saya dan bawa gadis ini keluar dari kantor ini sekarang juga?! Jangan izinkan dia masuk ke kantor dan ruangan kerja saya! Saya benar-benar tidak ingin hal seperti ini terulang lagi! Dia memang teman saya, tetapi mulai detik ini aku anggap ia orang asing dalam hidupku," tutur Axton datar.
Tanpa berlama-lama lagi para pihak keamanan langsung membawa Laninna keluar dari ruangan dan kantor axton sebab wajah boss mereka benar-benar mengerikan kemudian pemuda itu hanya bisa menghela nafasnya lelah sedangkan di lain tempat Lara masih terdiam memandang ke arah luasnya langit di luar jendela.
"Ucapan Rajan seperti air yang menyegarkan keringnya tanah, aku harusnya tak terpesona oleh dirinya sebab Rajan lebih berhak bersanding dengan gadis normal di banding aku yang tidak memiliki banyak waktu ini! Lalu aku harus apa sekarang? Hatiku mungkin menginginkan Rajan tetap di sisiku hanya saja aku tak ingin terlalu egois padanya Ya Allah," batin Lara sendu.
Sebenarnya Lara tidak ingin seperti ini, tetapi separuh hatinya masih memikirkan apakah dirinya yang egois atau memang jalan Lara yang seperti ini adanya sedangkan Rajan yang tidak suka melihat gadis yang ia cintai sedih seperti ini membuatnya berusaha menghibur Lara dan gadis itu hanya bisa memandang Rajan dengan tatapan sendu.
"Jangan bertahan jika kamu tidak sanggup, Rajan! Selagi kamu memiliki waktu tolong pergilah karena terkadang aku memikirkan hidupku? Apakah aku yang terlalu egois karena membiarkan dirimu tidak bahagia denganku atau memang jalanku yang seperti ini adanya? Aku tidak tau yang mana setidaknya aku ingin melihatmu bahagia bukan menderita Rajan," gumam Lara sedih.
"Kamu ini bicara apa, Lara? Aku tidak pernah pergi itu karena keinginan diriku sendiri bukan salahmu jadi tolong jangan berpikir terlalu banyak dan yakinlah bahwa aku bahagia berada di sisimu! Satu detikpun yang aku lalui bersama bukan derita atau penyesalan untukku, Lara! Aku lengkap bersamamu dan bertahan denganmu tidak berarti aku sedih Lara," tutur Rajan lembut.
Dalam diam pemuda itu berharap jika kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan oleh Lara bisa di pindahkan maka dengan ikhlas Rajan akan menerimanya, sayangnya hal itu tidaklah mungkin terjadi dan Rajan hanya bisa memandang dan ikut merasakan kesedihan yang ia sendiri juga tak bisa ia pahami.
"Sepertinya luka ditubuhnya tidak sebanding dengan luka hati yang ada di hatinya, ia terlihat pura-pura tegar padahal kalau aku boleh berharap jika kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan olehnya maka aku ikhlas jika harus menerima perasaan menyakitkan itu hanya saja bagaimana aku bisa memikul rasa sakit yang tidak aku ketahui sama sekali? Rasanya aku menjadi manusia paling tak baik padanya saat ia menyalahkan dirinya seperti ini," batin Rajan sendu.
Sore itu angin yang bertiup melalui jendela hanya satu-satunya suara yang terdengar di ruangan rawat Lara dan tak lama Rajan menghampiri Lara dan mengusap-usap kepala gadis itu lembut sebab hanya hal ini yang bisa pemuda itu lakukan untuk Lara dan ditengah-tengah rasa sedih yang di rasakan Lara, ia hanya bisa memeluk pemuda itu erat.
"Manusia selalu egois untuk beberapa hal, Lara! Bukan hanya kamu yang egois saja melainkan aku dan orang lainnya pasti egois dan tak ada salahnya sebab kita pasti memiliki alasan untuk bersikap egois seperti ini jadi kamu tidak perlu berpikir bahwa semua hal yang terjadi padaku itu salahmu, tidak perlu! Aku seperti ini karena keputusan dan jalanku sendiri," tutur Rajan lembut.