Rajan tidak perduli mau sebanyak apapun orang yang memisahkan dirinya dan Giran, ia tetap saja ingin memberi pelajaran bahwa Giran tidak seharusnya mengganggu Lara sedangkan Giran berpikir jika ini urusan pribadi dan kepercayaan Lara lebih penting di bandingkan omong kosong Rajan saat ini.
"Terus sekarang lu diam aja begitu! Berhentilah mencari masalah dengan Lara karena dia butuh ketenangan bukan butuh lu yang cuma bisa menyakiti dia doang tau gak! Mulai sekarang lu harus tau diri dan jangan ganggu Lara! Sekali lu gangguin Lara, gue akan serius buat ngasih pelajaran ke lu?! Jangan uji kesabaran gue dah!!" murka Rajan kesal.
"Menguji kesabaran kata lu? Di sini tuh lu gak berhak memperingatkan gue tau gak! Berhentilah bersikaplah pahlawan kesiangan begini, Rajan! Gue bisa mengurus hidup gue dan bukan tugas lu mengatur-ngatur apa yang boleh gue lakukan dan tidak! Lagian orang lain kayak lu tau apa sih?! Ini perasaan gue sama Lara bukan lu jadi diam aja dah lu," sahut Giran datar.
Perdebatan yang terjadi di antara Rajan dan Giran membuat Lara berusaha menghentikan dua pria yang berarti di hidupnya, lalu ketika omelan Lara terdengar di tambah tangan mungil Lara melingkar tangannya di pergelangan tangan Rajan dan seketika suasana terlihat begittu hening tanpa ada perdebatan sedikitpun.
"Aku hanya memintamu membawa dia pergi, Rajan! Kamu tidak perlu sampai berkelahi dengan Giran! Lagipula ini rumah sakit jadi tolong jangan buat keributan di sini Rajan! Aku tidak suka dengan perkelahian ini! Sudahlah hentikan perdebatan ini toh kalian sudah bukan anak kecil lagi iya kan?! Tolobg berpikirlah lebih dewasa!" tutur Lara tegas.
Dalam diam Giran menatap tajam pada tangan Lara dan Rajan sedangkan Rajan terkejut dengan sikap tiba-tiba Lara karena gadis itu jarang bersikap seperti ini pada dirinya lalu tidak lama Lara memilih mengenggam tangan Rajan mengikuti dirinya kembali ke ruang perawatannya karena dalam diam Lara menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.
"Dari banyak hal yang bisa Lara lakukan kenapa dia harus memegang tangan Rajan! Apakah mereka sudah menjalin hubungan? Jangan bilang Lara hanya sedang berusaha membuatku cemburu saja? Benar-benar memuakkan saat harus melihat sikap murahan Lara ini! Dia pikir dengan begitu aku akan cemburu padanya gitu? Tentu saja tidak!" batin Giran kesal.
"Loh? Kenapa Lara memegang tanganku? Tidak biasanya Lara bersikap begini? Jangan bilang kepalanya pusing lagi mungkin ya? Makanya dia butuh berpegangan pada orang lain? Tidak aku sangka ternyata Lara bisa bersikap seperti ini di saat bisa saja dia kena pukul dari keributan kami! Apakah dia baik-baik saja ya?!" batin Rajan terkejut.
"Aku mohon maaf atas keributan dan ketidak nyamanan yang dirasakan kalian semua, maafkan kelalaianku yang tidak bisa menjaga teman-temanku! Kalau begitu aku pamit kembali ke kamar rawatku dan ayok Rajan sudah tak ada gunanya kamu di tempat ini lebih kita balik ke ruangan lagi saja ya? Permisi ibu, bapak! Maaf ya," ucap Lara lembut.
Tak lama Rajan dan Lara sampai di ruang perawatan kemudian mereka di sambut Luruh yang terlihat khawatir pada kakaknya sementara Lara hanya tersenyum mendengar pertanyaan Luruh dan Rajan langsung menatap wajah Lara khawatir karena tadi dirinya tidak memperhatikan keadaan Lara.
"Kak Lara? Kenapa wajah kakak pucat begitu? Bukankah sebelumnya kakak baik-baik saja? Apakah tadi ada sesuatu kak? Ya ampun kak tadi tuh aku bilang jangan lari-lari nanti kakak bisa kelelahan! Sini duduk kak, ada yang sakit gak? Mau ada yang aku bantu?" tanya Luruh khawatir.
"Hah? Loh iya? Kenapa keadaanmu jadi terlihat seperti kesakitan begini? Ada yang sakit gak? Kepalamu pusing ya? Bukannya tadi kamu baik-baik saja! Terus kenapa wajahmu jadi pucat pasi begini? sebelah mana yang sakit? Maaf karena tadi aku tidak memperhatikan keadaanmu Lara! Aku lupa kalau keadaanmu masih belum pulih," ucap Rajan sedih.
Namun Lara sama sekali tidak berpikiran untuk menyalahkan Rajan atau siapapun karena dalam diam rasa sakitnya akan selalu hadir mau Lara bergerak ataupun terdiam, rasa sakit itu tetap bersamanya jadi ia sudah terbiasa walaupun tubuhnya masih saja selalu menunjukkan ekspresi kesakitan yang sudah Lara tahan sekuat tenaga.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Rajan! Baik kamu ataupun Luruh tidak salah apapun dan kalau di tanya soal rasa sakit ya tetap ada kapanpun kok! Mau aku bergerak atau diam tetap saja rasa sakit itu terasa dan aku hanya bisa menahannya karena aku percaya jika aku akan baik-baik saja jika aku berusaha sekuat mungkin," sahut Lara tegar.
Ucapan dari kakaknya berbanding terbalik dengan Luruh yang berpikir keadaan Lara menjadi memburuk seperti ini di sebabkan oleh tingkah Giran selama ini, rasanya pemuda itu tak layak mendapat kepercayaan yang terlalu mahal untuknya dan Rajan setuju dengan pemikiran Luruh yang terasa ada benarnya jika di pikir-pikir lagi.
"Ya ampun, kak Lara! Kakak ini berbicara apa! Keadaan kakak memburuk seperti ini itu karena ulah dan perilaku tingkah Giran selama ini ke kakak loh, kak! Kalau kakak pikir-pikir lagi pemuda itu tak layak mendapat kepercayaan untuk dia tuh terlalu mahal tau kak?! Dia sangat keterlaluan sama kakak tau kak! Bagus jika kakak putus dengan dia!" ujar Luruh kesal.
"Setuju sih sama apa yang di pikirin Luruh tau, Ra! Emang ulah Giran tuh gak bisa kita biarin! Dia benar-benar menyakiti hati kamu dan harusnya di saat keadaanmu yang sedang dalam masa pemulihan ini dia tidak perlu menambah beban pikiran kamu, Lara! Orang itu sih bukan manusia karena tidak memikirkan perasaan orang lain!!" sahut Rajan geram.
Sayangnya Lara hanya tersenyum lembut sambil mengusap-usap kepala Rajan dan Luruh sebab ia sudah terlanjur mempercayai Giran dan sekarang sudah bukan saatnya lagi ia memikirkan hal yang tidak berguna di saat seperti ini sedangkan Luruh mengomeli kakaknya yang terlampau lembut ini.
"Tenang saja, Rajan! Luruh! Semua hal yang kalian katakan sudah terjadi dan akupun terlanjur mempercayai Giran jadi untuk saat ini kita tidak perlu mengurusi hal yang tidak berguna dan pikirkan saja apa yang perlu kita lakukan! Aku yang sekarang sudah berdamai dengan semua rasa sakit ini jadi kalian juga harus mulai melupakannya perlahan-lahan ya," tutur Lara lembut.
"Kakak ini, berbicara apa sih! Kenapa kakak menerima semua luka itu meskipun kakak dilukai oleh orang yang kakak percaya?! Harusnya kakaknya jangan terlalu lembut begini!! Kakak tuh berhak bahagia juga dan dia gak berhak menyakiti kakak! Kenapa sih kakak gak balas atau jahatin dia juga?! Sebel aku dengernya!!" omel Luruh sebal.
Bukan kemarahan yang di dengar oleh Luruh dan Rajan melainkan Lara terkekeh lembut lalu tak lama hidung Lara terlihat meneteskan warna merah yang membuat Rajan berlari memanggil dokter dan perawat karena baru pertama kali Rajan melihat Lara mimisan sampai sebanyak ini sedangkan Luruh mencoba menghentikan mimisan Lara yang masih tak berhenti.
"Lucu sekali adikku ini hahaha! Aku sudah terlalu lelah menghadapinya sampai untuk marah dan meminta hakku saja aku tidak sanggup dek, sudahlah jangan menyesali apapun yang sudah terjadi dan lanjutkan hidupmu meskipun semuanya tidak baik-baik saja! Setidaknya kamu tidak berhenti membahagiakan dirimu di saat yang lain melukaimu," gumam Lara lembut.
"Dokter! Suster?! Siapapun tolong teman saya!! Dia mimisan dan butuh pertolongan, dokter! Tolong teman saya! Saya khawatir keadaannya semakin berbahaya! Ya ampun siapapun tolong bantu saya dan teman saya?! Apakah semua orang atau kemana sih!! Sepi sekali! Teman saya benar-benar butuh bantuan nih!!" teriak Rajan khawatir.
"Astaghfirullah, kakak! Kenapa kakak malah jadi mimisan begini, kak? Ada yang sakit? Kenapa kakak bisa sampai seperti ini? Obat kakak sudah di minum? Perasaan tadi kakak cuma pucat aja terus kenapa tiba-tiba kakak jadi mimisan begini? Tahan sebentar ya kak! Kak Rajan lagi mencari bantuan buat kakak," ucap Luruh sedih.
Lara tidak menyangka jika dirinya akan kembali mimisan seperti saat dirinya putus pertama kali dengan Giran lalu tidak lama dokter dan perawat bergegas mengobati Lara yang mulai terlihat pucat pasi sedangkan Luruh tetap berada di samping kakaknya setidaknya hanya hal ini yang bisa di lakukan olehnya.
Menit terus berganti menit hingga akhirnya Lara sudah membaik dan ia tertidur karena efek obat yang membantunya bisa pulih sejenak dan tak lama ponsel Luruh berdering membuat gadis cantik itu menjawab panggilan tersebut karena memang hari sudah cukup sore dan tidak heran jika pemuda itu mencarinya.
"Halo, assalamualaikum! Ada apaan? Bukannya gue bilang kalo nanti gue hubungin lu, kalau udah beres? Terus ada masalah serius apa sampai nelpon gue? Jangan bilang ada hal yang mendesak ya? Coba bilang sama gue biar gue bisa paham maksud lu Axton," ujar Luruh lembut.
"Waalaikumsalam, ini gue mau nanya lu ada dimana? Gue baru mau jemput lu pulang soalnya ini udah cukup sore jadi lu daritadi masih nemenin Lara di rumah sakit? Lu udah makan? Gue cuma mau menghubungi lu soalnya perasaan gue gak tenang kalau belum anterin lu balik ke rumah? Lu mau gue bawain sesuatu gak, Luruh?" tanya Axton khawatir.
"Iyalah masih di rumah sakit gue! Di mana lagi? Oh lu mau jemput gue? Yaudah hati-hati di jalan, soal makan mah gampang buat gue! Gak sih, gue gak mau nitip apa-apa kok! Ini lu udah dalam perjalanan, Axton? Inget lu gak usah ngebut-ngebut mengendarai mobilnya," sahut Luruh santai.
"Kirain lu udah pergi ke mana gitu! Iyalah gue mau jemput istri gue jadi udah tugas gue jagain lu sebaik mungkin! Oh istri gue khawatir ya? Tenang aja gue akan berhati-hati demi melindungi istri tersayang kok! Yaudah gue tutup teleponnya dulu ya Assalamualaikum," ucap Axton lembut.
Panggilan telepon berakhir dan tidak lama Luruh menatap wajah Lara lekat lalu Luruh meminta Rajan untuk menemani Lara sampai orang tuanya datang karena seperti hasil pemeriksaan dari dokter keadaan Lara semakin memburuk dan kondisi badannya tidak stabil jadi Luruh khawatir jika Lara kesakitan tanpa ada siapapun di sisinya.
"Perjuangan yang di lakukan Lara bukanlah hal yang mudah jadi tolong jaga kak Lara ya, kak! Aku pamit pulang ke rumah dulu ya kak! Tadi keadaan Lara katanya semakin menurun jadi aku mohon untuk temani kakakku! Aku tidak ingin melihatnya sendirian di saat keadaan badannya masih dalam masa pemulihan seperti ini! Tolong bantu kak Lara ya," gumam Luruh sendu.