Hari Pernikahan Hari Kepanikan

1231 Words
Sebab tak ada gunanya jika memikirkan apa yang di ucapkan beberapa orang toh hari ini adalah hari yang seharusnya bahagia untuk Luruh dan semua orang terlihat sibuk dengan persiapan kelangsungan acara ini agar berjalan dengan lancar. "Di saat semua orang mikirin soal keberlangsungan pesta ini eh dia malah diem-diem aja kayak begini! Padahal harusnya tuh dia tau diri! Apa dia gak malu menjadikan kelemahannya sebagai tameng untuk bersikap seperti ini? Duh kalau saya mah malu sekali," bisik salah satu tamu kesal. "Tampaknya dia mah sudah gak tau malu deh! Bisa-bisanya dia berdiri santai di antara orang-orang yang sedang repot! Kalau begitu ceritanya mah mending dia tidur aja di kamarnya buat apa juga dia di sini! Benar-benar dia orang yang memalukan sekali ya!" sahut tamu lainnya datar. "Sepertinya Lara ini lebih dari memalukan sebab ia masih bermuka tebal bahkan ia masih berani untuk menatap kita tajam padahal dia harusnya intropeksi diri bukan malah nyantai begini! Asli gak ngerti gue sama jalan pikiran wanita satu itu! Melihat dia di sini lama-lama malah bikin orang kesal aja ya! Gak guna banget sih dia tuh," ujar salah satu tamu sebal. "Manusia memang sering mengurusi hal yang tidak penting! Untuk itu seharusnya aku memang tidak perlu memikirkan mereka yang sok tahu dengan hidupku! Lagipula hari ini adalah hari yang bahagia untuk Luruh jadi gak ada gunanya aku berpikir seperti ini! Gak bermanfaat dan gak akan merubah rasa syukurku untuk Luruh," batin Lara acuh. Sementara di lain tempat Luruh sedang berjalan mondar-mandir sebab hatinya masih tak siap menikah secepatnya, ia masih ingin sendiri dan melakukan banyak hal semaunya bukan malah jadi begini jadi ia memikirkan cara agar menunda hari bersejarah ini. "Aduh ... kenapa sih hari yang gak gue tungguin malah berjalan dengan cepat begini? Asli gue kan belum siap kalau harus nikah sekarang! Rasanya gue masih ingin sendiri dulu dan banyak hal masih pengen gue lakuin! Terus gue harus gimana nih sekarang? Gue harus memikirkan cara supaya menunda hari ini cuma gimana ya ...," gumam Luruh panik. Di saat pikirannya benar-benar kacau, tak sengaja mata Luruh melihat jendela yang cukup tinggi jika ia ingin pergi dari rumah ini sedangkan ucapan Axton yang mengancam dirinya membuat Luruh hanya bisa memegang jendela dengan erat. "Sepertinya gue mengikatkan sejumlah kain ke balkon jendela ini ya? Ya ampun terlalu tinggi ya ternyata? Duh ... kenapa gue malah keinget sama ucapan Axton! Kalau gue memaksakan diri gue pergi pasti Axton akan gangguin keluarga gue! Gue gak boleh biarin dia menyakiti siapapun cuma gue gak mau begini juga," batin Luruh gelisah. Luruh yang merasa tak ada gunanya pergi dari sini membuat gadis itu kembali duduk di kursi sambil memandang riasan yang parahnya entah mengapa malah membuat Luruh merasa jika yang ada di cermin sana bukanlah dirinya. "Semua ini ulah Axton ngeselin?! Gara-gara dia gue jadi gak bisa kabur dan lagi itu siapa sih di cermin! Rasanya kayak bukan gue!! Percuma gue cantik kalau sekarang gue kebingungan begini! Mana ini melibatkan masa depan gue! Emang benar-benar Axton menyebalkan! Terus gue harus gi mana dong! Ingin rasanya gue jitak kepalanya Axton!" omel Luruh sebal. Di saat gadis cantik itu sibuk dengan rasa sebal yang menumpuk di hatinya tak lama terdengar suara yang sangat menyebal menurutnya sedangkan pria yang akan menjadi suaminya hanya menatapnya datar seolah-olah ia adalah patung bukan manusia. "Gue kira lu bakal kabur di hari pernikahan lu! Ternyata ada, bagus juga hasil make up lu! Gak sia-sia gue bayar mahal! Pantes aja daritadi gue feeling pengen liat lu eh taunya malah dapat hal yang gak terduga dan bersyukur sih sama kinerja orang-orang yang gue bayar," ujar Axton datar. "Jadi orang jangan terlalu mudah menilai ... gak baik kalau belum akad udah nemuin pengantin perempuannya nanti malah ada masalah emang lu mau? Balik sono gue gak butuh di liat toh orang yang lu bayar pasti bekerja sebaik mungkin! Makanya gak ada gunanya lu di sini mending sana siap-siap biar lu cuma sekali ucap," sahut Luruh dingin. Tanpa pengantin sadari di luar ruangan sedang terjadi keributan karena Giran, Rajan, Narunna dan Lara sedang terlibat perkelahian dan sebisa mungkin Lara menenangkan Rajan yang tidak ingin melihat dua manusia ini kembali menghancurkan hati gadis yang ia cintai. "Wajar sih gue liat Luruh menikah lebih dulu di banding lu! Toh siapa juga yang mau nikah sama orang kayak lu coba? Masih syukur kalau ditanya mantan lu punya gue ya walaupun gue yang dapat malunya karena punya mantan penyakitan model lu! Jadi harusnya lu tuh berterima kasih sama gue bukan malah terlihat gak perduli begini tau gak," maki Giran datar. "Sepertinya dia tidak tau caranya berterima kasih ya? Bahkan setelah ditinggalkan olehmu, dia masih sendiri dan lihat wajahnya itu ... benar-benar mengerikan dan mungkin umurnya tidak lama lagi! Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan gadis aneh itu ya sayang! Takutnya nanti kamu malah tertular loh sayang," sahut Narunna manja. "Bagaimana bisa manusia memuakkan seperti kalian datang ke pesta yang tak mengundang kalian! Di sini bukan Lara yang tidak tau malu, tetapi kalianlah yang seenaknya hadir dan datang ke sini untuk mempermalukan diri kalian sendiri! Pintu keluarnya ada di sana! Silahkan keluar dan jangan ganggu, Lara!" murka Rajan marah. "Udah, Rajan ... gak usah di dengerin! Gue baik-baik aja jadi lu gak boleh sampai kepancing sama ucapan mereka! Lagipula mereka gak akan berhasil untuk mempengaruhi gue kok! Tenang aja ya karena di mata gue mereka bukan apa-apa di hidup gue Rajan," ucap Lara lembut. Bahkan Giran sengaja mendorong bahu Lara hingga gadis itu limbung dan hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh Rajan, tak ingin merusak pesta adik yang di sayangi Lara membuat Rajan menarik dua orang ini menjauhi pesta sebab mereka sudah cukup menyakiti Lara selama ini. "Setelah semua hal yang lu lakuin ke Lara! Sekarang lu malah bersikap begini? Pergi kalian dari sini karena kehadiran kalian gak akan merubah banyak hal! Bahkan pesta ini terlalu berharga untuk kalian singgahi?! Enyah kalian dari sini dan sudah cukup kalian menyakiti hati Lara! Ayok pergi sekarang juga!!" ujar Rajan tegas. Sayangnya Giran dan Narunna bukanlah orang yang mudah diurus hingga akhirnya perkelahian tak terelakkan lagi di halaman depan rumah, awalnya Giran dan Rajan tak memegang alat atau s*****a apapun dan sayangnya Narunna memberikan pot tanaman untuk di hantam ke Rajan dan Lara berusaha melindungi teman baiknya itu. Rajan memang tertolong berkat bantuan yang di berikan Lara sayangnya gadis itu malah harus membayarnya dengan pelipis kirinya yang terluka akibat hantaman yang di lakukan Giran yang sepertinya di lakukan sekuat tenaga. Melihat Lara yang jatuh ke dalam pelukan Rajan membuat pemuda itu membulatkan matanya tak percaya dan dengan cepat ia menghubungi ambulan hanya agar Lara bisa mendapatkan perawatan yang terbaik sebab Rajan tak sanggup jika harus kehilangan gadis yang ia cintai. "Astagfirullah ... Lara?! Dasar kalian!!! Halo, tolong datang ke alamat yang saya kirimkan sebab ada korban k*******n yang terluka di bagian pelipis dan ia pingsan sekarang ... pokoknya cepat datang sekarang juga! Baiklah saya akan tunggu," ujar Rajan bergetar. Luruh yang tiba-tiba merasa kepalanya berdenyut pusing membuat gadis itu memegang bahu Axton erat dan ia meminta pemuda itu membawanya pada Lara sebab hatinya terasa gelisah kalau ia belum bertemu dengan kakaknya. "Aduh Ya Allah ... tumben apa ini? Kenapa kepala gue rasanya berdenyut begini? Axton! Asli gue gak bercanda! Kepala gue pusing banget kayak abis di pukul masa? Bentar kenapa rasanya hati gue kayak gelisah gini? Please bantu gue nemuin Lara! Gue takut dia kenapa-kenapa di luar sana Axton," gumam Luruh kesakitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD