Bab 1 - Ibu Nana

471 Words
"Kemari kamu bocah nakal!" Teriak wanita itu sambil terus berlari mengejar Christian. "Tidak, pergi sana!" Chris terus berlari melewati beberapa ruangan yang ada di rumahku untuk menghindari wanita tersebut, hingga akhirnya dia berakhir di suatu sudut ruangan. "Hahaha, kamu tidak bisa kemana-mana lagi, sayang." Dia tersenyum puas. "Kumohon, jangan mendekat! Tidakk!! Kumohon..., arggghhh!" Chris tersentak dari tidurnya dengan keringat bercucuran. Dia mengambil hp yang ada disampingnya dan melihat jam yang tertera disitu, jam 4 pagi. Dia hanya dapat tidur selama 3 jam. Hari ini Chris hanya ada kuliah siang, tetapi dia harus masuk di pagi harinya sebagai asisten lab kimia organik. "Haaaa..., kenapa harus mimpi itu lagi?" Chris menghela napas panjang dan memijat kedua sudut dahinya yang mulai berdenyut. Chris beranjak bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, dia sama sekali tidak berniat untuk kembali tidur. "Apa yang harus kulakukan di jam segini?" Dia berkata sambil melihat pantulan dirinya di cermin. Chris menghidupkan keran air dan membasuh wajahnya. Dinginnya air yang mengalir menghapus rasa kantuk dan denyutan di kepalanya. Dia mematikan keran, mengelap wajahku dengan handuk, memakai sepatu olahraga dan hendak berlari ringan mengelilingi lapangan yang ada di dekat kostnya. Chris melakukan pemanasan beberapa menit, sebelum akhirnya mulai berlari. Terpaan angin yang mengenainya membuat perasaannya lebih baik. Di sepanjang perjalanan Chris melihat para petugas kebersihan sedang memulai pekerjaan mereka. Chris mengambil hape dari saku celananya dan melihat jam yang menunjukkan pukul 04.50. 'Aku baru tau, ternyata mereka sudah memulai bekerja di jam segini.' Gumam Chris di dalam hati. Chris kembali melanjutkan kegiatannya, hingga akhirnya ia melihat seorang wanita sekitar umur 60-an dengan rambut penuh uban sedang susah payang mengangkat sekantong penuh sampah untuk disatukan ke dalam gerobak sampah. Chris menghentikan langkahnya dan mengambil alih kantong sampah tersebut. "Terima kasih yah, nak. Gara-gara membantu saya, tanganmu menjadi kotor seperti ini." Ucapnya. "Ah, tidak apa-apa, Bu. Nanti juga bisa cuci tangan. Ibu tidak ada yang bantuin? Suami atau anak ibu dimana?" "Suami ibu sudah meninggal, nak. Ibu punya satu anak laki-laki, tetapi dia sudah pergi bekerja sebagai supir angkot." Jawabnya sambil kembali merapikan sampah-sampah yang berserakan. Chris memperhatikan ibu tersebut. Meskipun sudah lanjut usia, beliau tetap tersenyum dan semangat dalam bekerja. chris merasa hatinya sedikit tergerak melihat ibu itu. "Bu, saya minta maaf. Saya tidak bisa memberikan ibu bantuan berupa materi." Dia tersentak kaget dan menghentikan aktivitasnya. "Apa maksudmu mengatakan itu? Meskipun keadaan saya seperti ini, saya juga tidak senang jika harus meminta-minta kepada orang lain. Lebih baik saya bekerja dan mendapatkan upah walau sedikit, daripada harus meninta-minta." Jawabnya. Chris dapat merasakan kalau beliau merasa sedikit tersinggung. "Saya minta maaf jika ibu tersinggung dengan perkataan saya tadi, tetapi bolehkah saya memberikan makanan untuk ibu? Aku bisa memasaknya." Ibu tersebut terdiam dan memperhatikan Chris lebih dalam. "Siapa namamu, nak?" "Christian, bu." "Saya Ibu Nana dan saya suka sayur kangkung." Jawabnya sambil tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD