Alan duduk dengan mimik wajah tenang, berbeda sekali dengan punggungnya yang sudah panas dingin. Bokongnya juga sudah panas bukan main. Sejak lima menit yang lalu lelaki paruh baya itu sepertinya berusaha membunuh Alan dengan tatapan tajamnya yang begitu menusuk. Alan berdehem, lelaki itu lalu menggaruk-garuk kepalanya yang terasa agak gatal, mungkin Alan sudah waktunya keramas lagi. “Kapan kamu akan potong rambut?” Pak Yayan tiba-tiba membuka suaranya. Sedangkan Alan hanya menampilkan cengirannya, jujur saja lelaki itu masih betah dan belum ada niatan untuk memotong rambutnya. “Itu hanya basa-basi,” lanjut Ayah dari Kiara itu setelah menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi empuk. Lelaki itu memijat pelipisnya, terlebih saat melihat Alan yang hanya bisa terseny

