CHAPTER ENAM

3145 Words
Anna tidak pernah merasa selelah ini selama mengabdikan diri pada dr. Steve. Tapi kali ini lelahnya tidak bisa diremehkan. Tulang-tulangnya terasa kaku di sepanjang punggung belakangnya. Jullian benar-benar seperti iblis. Menyiksanya sepanjang waktu. Selepas mereka keluar dari Luke’s bar & grill, Jullian memaksanya mengikuti pria itu bertemu teman-temannya yang tidak berguna di salah satu diskotik hingga hampir pagi. “Pulang jam berapa kau semalam?” Ibunya sudah ada di ruang Tv saat ia keluar dari kamarnya. Ia sadar ia bangun lebih siang hari ini. Setelah menguap beberapa kali ia menjawab hanya dengan mengira-ngira, tidak ingat jam berapa tepatnya ia sampai di rumah. Meninggalkan ibunya, ia menuju dapur dan meneguk segelas penuh air dari teko. Membiarkan air itu membanjiri tenggorokannya. Ia membuka tirai dapurnya dan melihat jalanan sudah dipenuhi orang-orang berlalu-lalang. Diam sejenak mengamati jalanan, ia menuangkan lagi air ke gelasnya dan kini menyesapnya lebih pelan. Beranjak dari tempat duduknya ia kembali ke kamarnya dan membersihkan diri di kamar mandi. Membiarkan air hangat yang mengucur memijat-mijat punggungnya yang terasa kaku. Anna sampai di rumah Jullian saat jam makan siang. Disambut Liana yang akhirnya menyuruhnya untuk makan siang bersama. dr. Steve sudah berangkat ke rumah sakit pagi-pagi dan Jullian masih belum terlihat batang hidungnya. “Menurutmu bagaimana Jullian?” Liana menunjukkan wajah yang berseri-seri menanyakan perihal anak sulungnya pada Anna. “Ia tampan.” Setelah berfikir sebentar hanya kata itulah yang keluar dari bibirnya. Setidaknya itu adalah hal yang tidak membuatnya berbohong pada Liana. Jullian memang tampan, sangat tampan. Ia tidak menambahkan dengan kata ‘baik’ ataupun pujian lainnya. Jullian keluar dari kamarnya tepat saat Anna dan Liana hendak memulai makan siangnya. “Oohh kau sudah bangun rupanya. Kemarilah.” Liana tersenyum pada anaknya. Memperlakukannya seakan Jullian adalah anak kecil yang begitu manja. “Selamat siang.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Anna. “Jam berapa aku harus sampai di klinik?” tanyanya, tanpa memperdulikan sapaan Anna. “Jam dua.” jawabnya pelan. Makan siang mereka begitu sunyi, sepi tanpa ada yang sepatah katapun yang keluar dari bibir Jullian ataupun Anna, hanya Liana yang beberapa kali mencoba mencairkan suasana dan ternyata gagal. Jullian lebih suka mengunci mulutnya rapat-rapat dan fokus pada makanannya. Kesunyian itu berlangsung sampai mereka tiba di klinik yang mulai ramai. Anna langsung duduk di samping Maria sedangkan Jullian masuk ke ruangannya. “Seseorang menelpon ke sini dan mencarimu tadi pagi.” kata Maria sambil mengaduk teh yang baru dibuatnya. “Siapa?” Anna tidak pernah memberitahukan nomor telepon klinik kepada siapapun yang mengenalnya. “Entahlah, ia tidak bilang ia siapa. Hanya mencarimu. Seorang lelaki.” lanjutnya. “Bagaimana bekerja dengan Jullian? Aku pikir dia tidak begitu menyusahkanmu.” Anna sedang membuat laporan pengeluaran Jullian saat Maria bertanya. Ia menoleh sebentar lalu mengernyit diikuti aksi mengangkat bahu setelahnya. Enggan membeberkan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Lebih memilih diam dan menyimpannya sendiri. Sebuah surat yang ditujukan untuk Jullian datang jam empat sore. Anna yang menerimanya sendiri. Sebuah surat undangan reuni sekolah menengah Jullian. Ia tahu dari label yang tertulis di depan amplop berwarna peach itu. “Beruntung kau di sini Anna, aku butuh bantuanmu.” dr. Steve keluar dari kamar periksa, menghampirinya. “Tolong antar dokumen ini ke rumah sakit, berikan pada Clara. Ok.” Amplop cokelat besar itu berpindah tangan dan Anna mengangguk pelan. “Aku akan bicara pada Jullian kalau dia mencarimu.” katanya lagi sambil menyerahkan kunci mobil. Mobil yang dikendarainya meluncur mulus menuju rumah sakit. Dalam waktu kurang dari satu jam ia sudah bisa menampakkan diri di depan Clara yang langsung memeluknya erat. “Seperti sudah berbulan-bulan.” katanya sambil melepaskan pelukannya. “Aku kesepian.” lanjutnya. Anna tersenyum lalu mencubit pipi Clara. “Duduklah.” katanya sambil menerima amplop besar titipan dr. Steve. “Seseorang mencarimu pagi ini.” katanya lagi. “Siapa?” Anna menatap Clara yang mengangkat bahu. “Melalui telepon. Seorang laki-laki. Dia tidak bilang dia siapa. Hanya mencarimu.” Anna mengerutkan keningnya. Bingung karena sekali lagi ia tidak pernah memberi nomor telepon rumah sakit untuk menghubunginya. Laki-laki? Setahu Anna ia tidak punya banyak teman laki-laki yang memungkinkan untuk mengubunginya. “Bagaimana kalau kita minum kopi di bawah.” Belum sempat Anna menjawab Clara sudah lebih dulu menarik tangannya menuju lift. Melenggang melewati lorong menuju basement. Mereka berpapasan dengan Diane saat lift terbuka di lantai empat, ia membawa setumpuk selimut kotor untuk dicucinya. “Lama tak melihatmu Ann. Clara bilang kau di klinik sekarang.” Anna mengangguk dan mereka berpisah karena Diane Keluar di lantai dua. Saat mereka duduk di kafetaria setelah selesai memesan, Anna melihat Diane keluar dari lift menuju laundry di sebelah. “Bagaimana bekerja untuk Jullian?” Minuman pesanan mereka datang. Dua gelas latte yang aromanya langsung menguar di udara. “Dia….” Anna menggantungkan kalimatnya. Mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Jullian. “Aahh sudahlah. Aku tidak ingin membahas pria itu. Dia benar-benar tidak mirip dengan dr. Steve yang baik dan pengertian.” Clara menyesap minumannya lalu mengangguk. Mengerti benar apa yang dimaksud sahabatnya. Mereka berada di sana kurang lebih dua puluh menit hingga akhirnya Anna pamit untuk kembali ke klinik. Sebelumnya mereka sudah berjanji akan menghabiskan sabtu malam bersama. Hari mulai gelap. Anna memutuskan untuk mengirim pesan kepada Jullian dan bertanya apakah ia ingin makan sesuatu. Aku mau mampir ke Nectar untuk membeli makanan. Kau ingin menitip sesuatu untuk makan malam? Anna Sesaat setelah ia menekan tombol kirim, ia sudah masuk ke tempat itu. Memesan Moussaka untuk dirinya sendiri. Dan tiga porsi shrimp salad untuk yang lainnya. Saat ingin memasukkan ponsel ke tas, ponselnya kembali bergetar. Skirt steak Jullian Singkat, padat, jelas. Bahkan tidak ada embel-embel terima kasih sebelumnya atau sejenisnya. Setelah bersungut ia kembali memesankan pesanan Jullian. *** “Aku harap kau belum makan malam.” katanya pada Simon yang kini berjaga di belakang meja pendaftaran. “Terima kasih Anna.” sahutnya sambil mengulum senyum. “Berikan ke yang lainnya juga.” katanya sambil memberikan kotak makanan itu dan memisahkan punyanya dan Jullian. Pria tua yang sudah beruban keluar dari ruangan Jullian sambil terbatuk-batuk. Membungkuk menahan perutnya yang terasa sakit. Annna menunggu hingga pasien terakhir keluar dari ruang periksa. “Ada undangan reuni dari sekolahmu. Diantar pos jam empat sore tadi.” katanya sambil meletakkan sebungkus pesanan Jullian beserta undangannya. Setelahnya ia masuk ke ruangan di dalam ruangan Jullian. Ruangan kecil itu punya meja kursi yang bisa ia tempati. Ada sebuah lemari tempat pakaian dan rak buku yang baru saja Jullian pesan. Jullian membuka undangan itu. Membaca tulisan yang dicetak dengan tinta warna emas yang terkesan mewah. Setelah puas membacanya ia menaruhnya di laci dan beralih ke kotak di depannya. Membuka lalu memakannya. “Aku ingin kau mengirim uang ke sini.” Jullian menaruh selembar kertas dengan tulisan sejumlah nominal uang yang tidak sedikit beserta nomor rekening seseorang. Anna diam sebentar lalu bertanya. “Untuk apa dan siapa pemilik rekening ini?” Jullian masih berdiri di depan Anna lalu dengan mantap menaruh kedua telapak tangannya di atas meja. Menunduk hingga wajahnya hanya beberapa senti dari Anna. Gadis itu mendadak menjauhkan wajahnya karena merasa tidak nyaman. Tapi Jullian memajukan wajahnya lagi dan kini memberi jarak lebih sedikit dari sebelumnya. Mata Jullian, mata birunya yang begitu menawan membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari yang seharusnya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan jantung bodohnya yang semakin tidak bisa diatur. Dan sekarang ia bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Jullian dan dia sempurna. b******k, berhenti meracau Anna. Katanya dalam hati “Aku hanya menyuruhmu mengirim uang dari rekeningku ke sana. Aku tidak menyuruhmu bertanya.” Mata Jullian masih menatap Anna dengan lekat. Tidak membiarkan Anna menyelamatkan dirinya sendiri. Cukup lama, waktu seakan berhenti dan yang mereka lakukan hanya saling menatap. Hingga akhirnya Anna berdehem dan berkata. “Kau tahu? Semua pengeluaranmu harus aku pertanggung jawabkan dalam bentuk laporan. Aku jelas harus tahu untuk apa uang ini. Ini bukan jumlah yang sedikit.” Anna berhasil menyembunyikan kegugupannya. Jullian tersenyum. Lalu mengetukkan jari-jarinya di meja tanpa menjauh sedikit pun. “Kau tahu aku punya adik yang tinggal di Korea?” Jullian bicara dengan penuh penekanan. Masih menatap Anna yang kini kursinya sudah menempel di tembok. “Aahh ya.. tentu. Oke kalau begitu.” Anna sudah menjawab dengan nada mengusir tapi Jullian masih bergeming. Masih menatap mata coklat Anna yang semakin terlihat gugup. Lalu ke hidungnya yang tidak terlalu mancung tetapi tetap terbentuk sempurna. Hingga akhirnya tatapannya jatuh ke bibirnya. Bibirnya yang merah muda yang ia yakin tidak dipoles oleh lipstik sedikitpun. Ia menarik napas panjang. Menahan diri untuk tidak melumat habis bibir itu. Anna berhedem dengan sengaja. Membuat Jullian yang tersadar langsung menegakkan tubuhnya. Menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal lalu berujar “Kirim sebelum jam dua belas siang besok.” Ia menyembunyikan kedua tangannya di saku lalu berbalik meninggalkan Anna yang langsung menghela napas panjang setelah melihat Jullian menghilang di balik tirai. Mencoba menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Jam menunjukkan lewat tengah malam. Suasana ruang tunggu tenang dan sunyi. Yang terlihat hanya lima orang yang terpencar di penjuru ruangan. Dua di antaranya menatap televisi dengan serius sementara yang lainnya memejamkan matanya karena mengantuk. Anna sedang mengobrol dengan Bryn saat ponselnya berbunyi. Ia keluar dari ruang apoteker dan mengangkat telepon. “Apa? Kau tidak serius kan mom?” Anna nyaris berteriak merespon apa yang baru saja dikatakan ibunya. Suara di seberang sana panik, membuat Anna ikut panik. “Oke tenang. Tunggu di rumah. Aku akan segera pulang.” Anna berjalan cepat dan secara tidak sengaja menabrak Jullian yang keluar dari ruangannya. Ia sudah menenteng kunci mobilnya, bersiap untuk pulang. “Maaf aku buru-buru. Oohh yaa kau sudah mau pulang? Besok kau harus sampai sini sebelum jam sepuluh malam oke. Maaf aku ada urusan penting.” Anna menarik tasnya di laci dan menghambur keluar. Mengeratkan sweaternya serapat mungkin untuk menutupi tubuhnya. Pikirannya campur aduk. Bayangan-bayangan buruk kembali berkelebat dalam otak kecilnya. Ia menyetop taksi dan merangsek di kursi penumpang. Memejamkan matanya sebentar setelah memberi tahu alamat rumahnya. “Mom...” Anna masuk ke rumahnya yang gelap. Menekan saklar lampu dan dalam seketika ruang tamu menjadi terang benderang. Ia menemukan ibunya di kamar. Masih meringkuk gelisah di bawah selimutnya. “Mom, kau tidak serius kan?” Anna duduk di ranjang ibunya dan ibunya langsung terduduk menahan tangis. “Maafkan aku Anna. Aku... aku benar- benar menyesal.” Lucia kali ini benar-benar mengeluarkan air mata. Anna memeluk ibunya, menenangkan. Anna benar-benar tidak menyangka kalau kejadian ini akan terulang kambali. Ibunya kembali ke hobinya yang lama. Judi online dan sekarang ia berutang kepada seorang lintah darat. Ibunya bilang tadi beberapa debt collector mendatanginya untuk menagih utang. Dan jumlahnya bahkan lebih besar dari yang kemarin. Lalu bagaimana ia melunasinya? Uang tabungannya pun tidak akan cukup. “Aku benar-benar menyesal Anna. Kau harus tahu itu.” Lucia melepas pelukannya dan menatap Anna nanar. Ia tahu anaknya marah besar. Ia sudah berjanji pada anaknya untuk berhenti berjudi tapi kenyataannya impian menjadi kaya dengan instan membuatnya kembali tergiur mencoba peruntungannya. “Tidurlah, kita bicara lagi besok. Aku lelah.” Anna mengusap pipi ibunya dan menarik selimutnya hingga menutupi leher. *** Matahari sudah mulai beranjak di peraduan. Sinarnya Perlahan mengintip dari balik gorden kamar Jullian. Ia menutup kepalanya dengan bantal kala merasa sinar semakin menyilaukan dan mengganggu ketenangannya. “Sial” runtuknya kala mendengar ponselnya berdering nyaring. Ia meraba meja kecil di samping ranjangnya dan tanpa melihat siapa yang menelepon langsung menjawab panggilan. “Yeoboseyo” [Halo, (salam pembuka di telepon)] Mendengar bahasa asing menyapanya di ujung sambungan, Jullian langsung bangkit dari tidurnya lalu terduduk di ranjang. “Hyung” [Kakak laki-laki (digunakan oleh anak laki-laki)] Ia memanggil lagi karena tidak mendengar jawaban dari seberan “Iya..iya.” Kesadarannya kembali seratus persen dan ia tahu siapa yang menyapanya di ujung panggilan. “Sillyehammida, eonje uisaga ol su isseoyo?” [Permisi, kapan dokternya akan datang] Suara di sana tertawa keras sedangkan Jullian hanya mengerutkan kening. “Kalau kau berani mengejek-ku sekali lagi, habis kau anak muda.” Jullian menenggak air yang ada di meja hingga habis dan suara di seberang masih belum berhenti tertawa. “Mianhamnida” [Maaf] katanya akhirnya setelah bisa menebak raut wajah kakaknya. “Bisakah kau bicara seperti biasa saja?” tanyanya sarkas, Jullian membuka tirai kamarnya lalu melirik jarum jam yang menunjuk angka sepuluh. “Ayolah kak, bukankah kau juga mengerti apa yang aku ucapkan?” “Iya, tapi mendengarmu lama- lama membuatku sakit kepala.” Selama kurang lebih tiga puluh menit, dua bersaudara itu berbicara ditelepon. Saat Jullian keluar dari kamar dan sampai di meja makan. Liana menatapnya dengan tatapan aneh. “Bian” katanya dan dalam hitungan detik raut wajah Liana berbinar. Jullian lalu memberikan ponsel pada ibunya. Dan wanita itu, nyaris histeris mendengar suara anak bungsunya. Seperti sudah begitu lama mereka tidak berbicara. Liana berkali-kali bertanya bagaimana kabar anaknya. Apakah ia baik-baik saja? Apakah Jullian memenuhi apa yang ia butuhkan. Dan yang terakhir ia bertanya. “Apakah kau merindukanku, Bian?” Suaranya bergetar dan sebutir air mata nyaris terjatuh dari kelopak matanya. “Tentu saja Mom. Aku tinggal di sini sendiri. Mana mungkin aku tidak merindukanmu.” “Kalau begitu pulanglah. Biar kita bisa berkumpul dengan Jullian. Aku pikir ada cukup banyak sekolah berkualitas di sini.” “Aku akan pulang saat waktunya tiba, mom. Saat aku bisa membuktikan pada daddy kalau aku bisa berhasil, juga pada kak Jullian.” “Kenapa sih kalian para pria begitu keras kepala. Tidak bisakah kalian saling mengalah?” Jullian sudah menyesap kopinya dan ponselnya masih belum kembali. Sepertinya Liana tidak akan membiarkan anak bungsunya memutuskan telepon, sehingga ia terus menerus memberondong pertanyaan ke anaknya. Setelah menandaskan isi cangkirnya Jullian kembali ke kamar dan meninggalkan ibunya bersama ponselnya. Setengah jam kemudian ia kembali. Ibunya masih di meja makan. Dan ponselnya tergeletak di sampingnya. “Apa kau pikir Sebastian benar-benar baik di sana?” Liana memberikan piring berisi roti isi ke arahnya. “Dia sudah besar.” Piring itu berpindah tangan dan Jullian melahapnya. “Tapi dia tinggal sendiri Jullian?” “Lalu? Toh, itu keinginannya sendiri. Dia harus bisa bertanggung jawab.” Mrs. Haynsworth menghela napas panjang. “Apa kau tidak berpikir kalau mungkin ia kesepian di sana?” “Dia tidak akan kesepian mom. Dia pasti punya teman-teman di sekolahnya.” Ia menyingkirkan piringnya yang sudah kosong lalu menggulung kemeja hitamnya hingga ke lengan. “Kau mau ke mana? Bukankah kau praktik malam?” “Aku ada sedikit urusan. Aku usahakan kembali sebelum makan malam.” Ia mencium pipi ibunya lalu beranjak pergi. *** “Pagi mom.” Anna menyambut ibunya yang baru saja melangkah ke dapur. “Kau bangun lebih pagi hari ini.” Lucia menuangkan air dari teko dan menyesapnya hingga habis. “Duduklah, aku ingin bicara.” Anna terus menjaga nada bicaranya agar tidak meninggi. Bagaimanapun ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukannya. Tapi ia tahu kalau ini yang terbaik untuk ibunya. “Tadi pagi aku menghubungi bibi Arlene. Dan berpikir bahwa kau lebih baik tinggal di sana.” Raut wajah Lucia langsung berubah. Tidak menyangka kalau anaknya akan membicarakan hal ini. “Desa bibi aku pikir cocok untukmu. Kau bisa tenang di sana. Kemungkinan kau kembali ke kebiasaan burukmu sangat sedikit.” “Apakah kau ingin membuangku sayang.” Lucia menutup wajahnya sedih. “Oohh tidak mom.” Anna mendekati ibunya lalu memeluknya. “Aku ingin yang terbaik untukmu. Aku ingin kau hidup tenang. Biar aku yang mengurus utang-utangmu.” Lucia mengangkat wajahnya dan menatap putri tunggalnya. Menyadari ada kebenaran dalam ucapannya. “Terima kasih sayang. Sekali lagi aku minta maaf karena aku selalu menyusahkanmu.” “Sebaiknya kau siap-siap. Paman akan menjemputmu dua jam lagi.” Suara bel mengalihkan perhatian mereka berdua. “Itu mungkin paman? Tapi bukankah dia bilang dua jam lagi?” Anna menatap ibunya. “Mungkin bukan pamanmu. Biar aku yang buka.” Lucia beranjak dari kursi menuju ruangan depan lalu membuka pintu. “Selamat siang.” Pria di depannya tersenyum. Menampakkan deretan giginya yang putih. Sedangkan Lucia masih bergeming di tempatnya. Tidak menjawab salam yang diucapkan pria di depannya seakan terpesona oleh ciptaan tuhan yang kini berdiri hanya beberapa senti meter dari dirinya. “Kau baik-baik saja?” Jullian menggerakkan telapak tangannya di depan Lucia, membuat Lucia tersadar seketika. “Aahh yaa... ada yang bisa saya bantu?” tanyanya berusaha tidak terdengar kaku. “Saya Jullian, saya ingin bertemu dengan Anna.” “Jullian? Anaknya dr. Steve?” tanyanya lagi dan pria itu mengangguk. “Saya Lucia, Lucia Carter, ibunya Anna.” Mereka berjabat lalu mempersilahkan Jullian masuk. “Terima kasih, senang berkenalan dengan anda Mrs. Carter.” Sedetik setelah Jullian mendudukkan diri di sofa berwarna cokelat muda di ruang tamu itu. Lucia memanggil Anaknya yang masih berada di dapur atau lebih tepatnya berteriak dengan nada kencang. “Apa kau tidak bisa mengecilkan suaramu mom?” Anna menoleh dan melihat ibunya berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. “Seseorang mencarimu di depan.” Melihat anaknya hanya mengangkat alis ia melanjutkan. “Jullian.” kalau Anna sedang minum mungkin ia sudah menyemburkan isinya. Jullian? Sedang apa di sini? Bukankah ia sudah bilang kalau hari ini harus sampai di klinik sebelum jam sepuluh malam. Aku tidak pernah menyangka kalau ia setampan itu?” “Jangan memujinya di depanku. Membuatku muak.” Anna beranjak meninggalkan tanda tanya dalam benak ibunya yang masih berada di meja makan. “Apa yang membuatmu ke sini? Bukankah aku sudah memberitahukan jadwal praktikmu kemarin.” Anna duduk di depan Jullian. Menatap mata biru Jullian yang seakan tersenyum padanya. “Apa kau tidak pernah kedatangan tamu? Itu bukan cara yang bagus untuk menyambut tamu.” Anna menyilangkan kakinya dan menatap Jullian lekat-lekat. “Aku tidak pernah mengharapkan dikunjungi oleh tamu sepertimu.” jawabnya dengan nada sinis. Jullian tersenyum dan berkata. “Cepat ganti pakaianmu dan ikut aku.” Anna mencibir dan menunjuk ke jam dinding yang bertengger di dinding ruang tamunya. “Kau lihat? Ini bukan jam kerjaku. Aku tidak punya kewajiban untuk mengikuti aturanmu.” “Bukankah sudah kubilang bahwa aku tidak pernah peduli pada jam kerjamu. Selama dompetku ada padamu, kau terikat denganku setiap waktu.” “Kau pikir kau bisa berbuat semaumu hah? Dengar Jullian, kalau kau tahu bahwa dompetmu ada padaku, kenapa kau tidak menghabiskan waktumu di rumah.” Napas Anna memburu karena emosi yang mulai menguasainya. “Jangan pernah menasehatiku nona, kalau kau tidak mau kehilangan pekerjaanmu.” Skak mat. Jullian menang. Anna tidak bisa berbuat apa-apa. Yang mereka lakukan selanjutnya hanya berdiam selama beberapa menit. Wajah gadis itu pucat seketika. Tidak menyangka kalau Jullian akan mengucapkan ancaman murahan itu. Tapi bukankah Jullian tidak bisa dipandang sebelah mata. Dilihat dari sifatnya, Jullian tidak segan menendang siapapun yang menghalangi jalannya. Apalagi sekarang ia mempunyai utang yang jumlahnya tidak sedikit. Ia seharusnya berpikir untuk mendapatkan uang, bukan malah kehilangan pekerjaannya. “Bagaimana? Kau tahu bahwa aku tidak pernah main-main bukan?” Suara bariton Jullian memecah keheningan. “Aku akan kembali dalam sepuluh menit.” Anna berdiri lalu beralih menuju kamarnya. To Be Continue LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD