"Meski sakit mengungkapkan kebenaran, tetapi untuk akhir menyenangkan. Mengapa tidak?" Entah untuk ke berapa kalinya di bulan awal Januari ini. Hujan terus saja datang, ketakutan datangnya banjir membuat semua penghuni Ibu Kota bersiap siaga. Untung saja, perumahan yang ditinggali Bram sangat jauh dari bencana alam itu. Sekarang, ia sudah bersiap menuju Institut Kesenian Jakarta. Di mana Devid dan Devita menyibukkan diri demi masa depan di sana. Lahan parkirannya cukup lapang. Jadi, Bram bisa leluasa melihat Devid dari dalam mobilnya. Waktu bubar tidak lama datang, satu per satu mulai membawa kendaraannya keluar dari parkiran, sedangkan Bram sudah mengenali mobil abu milik Devid. Ternyata lelaki dengan kaus oblong putih berjalan mendekat, tanpa Devita. Bram mulai bersiap mencegat Devid n

