Bab 76

1200 Words

Di luar ruangan Kia, Marco terduduk di lantai. Rasanya sangat sulit untuk hanya berjalan untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Badan Marco tiba-tiba seakan sulit untuk ia gerakkan. Semua ini membuat Marco pusing, bukankan ucapan suster itu mengatakan bahwa jantung Kia tidak berdetak lagi, jadi wanita itu sudah meninggal? Semua yang menimpa Kia adalah kesalahan Marco, perasaan yang kacau membuat kepala Marco pusing. Seharusnya Marco sekarang tertawa karena wanita itu meninggal, tapi kenapa bukan rasa bahagia yang ia dapatkan? Melainkan rasa rasa sesak yang menghinggapinya. Air mata tanpa malu keluar dari matanya, Marco mengusapnya dengan kasar. Air mata yang sangat jarang ia keluarkan kini meluncur dengan deras. "Akhhh," teriak Marco, sudah berapa kali Marco menekankan pada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD