"Bu, kumohon, Ibu tidak mengerti. Aku tidak bisa tinggal bersama Kester. Aku tidak mau," pintaku kepada ibuku yang kurang memperhatikan perkataanku karena ia memerintahkan para pelayan untuk memastikan semua barang yang dibutuhkan untuk tiga bulan kedepan sudah dikemas.
Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga agar sekolah menempatkanku di tempat pilihanku sendiri. Tetapi mereka mengatakan tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Sebenarnya sudah bisa ditebak, jika semua ini pasti ulah Kaster sendiri! Dia pasti melakukan segala cara agar aku berada di bawah pantauannya.
Zamford Tech berjarak tiga jam dari rumah, dan orang tuaku memutuskan bahwa akan lebih baik jika aku tinggal bersama Kester selama program magang berjalan. Karena kami hanya perlu melapor ke sekolah sekali seminggu - pada hari Jumat.
Jadi, aku harus tinggal di rumah Kester dari hari Minggu sampai Kamis. Aku harus menanggungnya selama itu?!!
Aku bahkan belum bisa melupakan kenyataan bahwa dia membunuh seseorang karena aku. Sudah hampir dua minggu sekarang, dan kami belum pernah membicarakannya lagi setelah malam itu. Aku bahkan tidak berani menceritakannya kepada siapa pun.
Apa yang akan terjadi pada Jake? Aku tidak bisa menelepon, mengirim pesan, atau menghubunginya tanpa sepengetahuan Kester. Dan sekarang, situasinya hanya akan semakin memburuk!
Sialan... Aku benar-benar merasa Frustasi memikirkan hal ini!
Meskipun aku diam-diam sudah mendapatkan ponsel lain, yang ku gunakan untuk berkomunikasi dengan Jake, tapi... Bagaimana jika Kester mengetahuinya?
"Bu?" panggilku pelan, dan akhirnya ibuku memperhatikanku.
"Sayang," gumamnya lembut, menatapku dengan penuh kasih sayang di mata hijaunya, "Kau akan mengunjungi kami setiap akhir pekan. Sebelum kau berkedip dua kali, program magang mu akan berakhir, dan kau akan kembali ke pelukan hangat ibumu lagi!" katanya dengan penuh semangat.
Apa ini? Jadi ibu pikir, ini tentang dirinya?
Bahkan saat aku meminta untuk berangkat lusa — Minggu pagi, Ibu dan Ayah tetap bersikeras agar aku berangkat hari ini juga!
Ya Tuhan! Alam semesta membuat hidupku sengsara.
***
Yah... Akhirnya aku tetap ada di bawah kekangan Kaster.
Aku sangat gugup, dan aku tidak tahu apa alasannya. Padahal aku hanya mengunjungi Kester dua kali, dan itu karena dia selalu pulang setiap akhir pekan.
Rumahnya sangat besar, hanya dijaga oleh beberapa orang. Dia selalu menyebutkan bahwa dia tidak memiliki pembantu rumah tangga yang tinggal bersamanya. Mereka semua datang di pagi hari, mengerjakan tugas-tugas mereka, dan langsung pergi. Jadi, aku hanya sendirian di rumah besar itu.
Aku membawa barang-barangku ke atas, ke kamar yang dia sebut sebagai kamarku melalui pesan teks.
Tentu saja... Kamar itu bersebelahan!
Sebenarnya rumahku sudah sangat besar dan mewah. Tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah Kaster.
Perabotan, interior, semuanya begitu luar biasa.
Aku mengirim pesan singkat kepada Jake untuk memberitahunya bahwa aku sudah sampai, dan dia membalas pesanku. Meskipun dia sedih dan kecewa karena jarak yang memisahkan kami, kami berjanji untuk tetap berhubungan dan bertemu sekali setiap minggu di sekolah.
Aku harus mencari kesempatan lain agar aku bisa bertemu dengan Jake, bahkan di sini... Mungkin setiap kali Kester tidak ada. Aku yakin dia tidak akan selalu ada di rumah. Dia mungkin mengadakan pesta, melakukan perjalanan bisnis, mengunjungi dan menghabiskan waktu bersama Deline, dan sebagainya.
"Baik... Ayo kita beberes dan mandi," Aku merentangkan tangan dan mulai membuka koper, menyusun semuanya.
Tubuh yang terasa lelah membuatku tidak tahu kapan aku tertidur. Saat aku terbangun Aku cepat-cepat mengenakan celana pendek dan atasan crop top casual lalu bergegas ke dapur.
Waktu sudah lewat pukul enam malam, dan aku tahu Kester akan pulang sebentar lagi. Aku tidak berniat menemuinya saat dia pulang.
Oke. Oke. Mungkin aku hanya akan menyapanya sebentar sebagai bentuk kesopanan karena aku baru saja tiba di rumahnya, tapi hanya itu saja. Dan aku akan menyapanya dari kamarku sebelum dia masuk ke kamarnya.
Sempurna.
'Cepat! Cepat!' gumamku dalam hati sambil menyiapkan makanan tercepat yang bisa kudapatkan—omelet dan roti panggang. Aku tidak ingin ketahuan oleh nya.
Saat aku selesai menata makanan diatas nampan, aku bergegas ke lemari es untuk mengambil jus ketika pintu dapur terbuka, menampakkan sosok tinggi, berbadan tegap, bermata hijau tua yang belum ingin kulihat...
Kester.
Aku tersentak kaget, "A...!" menyebabkan jus yang telah dituangkan ke dalam gelas jatuh dari genggaman tanganku.
Prang...!
Jantungku berdebar kencang tak terkendali saat tatapan kami bertemu. Tenggorokanku langsung terasa kering.
Bagaimana bisa aku berubah dari menyayangi saudara tiriku menjadi membencinya? Dulu kami sangat dekat, tetapi sekarang... Semua tak lagi sama.
"Hai... Kester?"
***
SUDUT PANDANG KESTER.
Aku sudah mencoba. Aku bersumpah, aku sudah mencoba.
Aku mencoba menahan godaan untuk mendekatinya, tapi, seperti biasa aku... aku
Aku tidak bisa. Aku tahu dia akan kecewa, tapi aku tetap melakukannya.
Sekarang, membayangkan dia tinggal bersamaku selama tiga bulan ke depan membuatku senang sekaligus takut.
Aku tak ingin ada bahaya yang mendekatinya. Itulah mengapa aku melakukan semua hal gila ini untuknya.
Tapi dia tak akan pernah mengerti!
Dia mungkin menganggap ku terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadinya, tapi aku tidak peduli. Aku hanya bisa melakukan apa saja untuk memastikan dia aman.
Sial, aku bahkan telah merenggut nyawa seseorang karena dia. Sejauh itulah aku bisa bertindak untuk memastikan dia aman.
Dia mulai tidak menyukaiku, tapi tidak apa-apa. Selama dia tetap menjadi anak yang baik dan selalu menuruti perintahku, semuanya akan baik-baik saja.
Aku melangkah masuk ke rumah, berharap melihatnya di suatu tempat di ruang tamu, mungkin sedang menonton salah satu filmnya yang membosankan, tetapi dia tidak ada di sana.
Dia sudah terbiasa salah menaruh remote TV dan meninggalkan gelas jus yang hampir kosong di meja setelah menonton film. Melihat betapa rapi seluruh tempat itu, itu hanya berarti dia telah berada di kamarnya sepanjang hari.
Aroma omelet yang baru dibuat menarik perhatianku, dan aku menelusurinya hingga ke dapur. Begitu aku membuka pintu, setiap saraf di tubuhku langsung bereaksi.
Di sana dia berdiri, dengan pakaian minimnya yang biasa... Jenis pakaian yang selalu diperingatkan agar tidak pernah dikenakan di luar kamar tidurnya sendiri karena aku tidak ingin siapapun, bahkan para pelayan sekalipun, melirik kulitnya yang kencang sempurna, yang selalu membuatku tergoda untuk menyentuhnya seandainya saja dia bukan adikku.
Mata hijaunya yang besar melebar karena terkejut saat melihatku berdiri di dekat pintu. Melihat reaksinya yang tersentak, pandanganku tak bisa lepas dari lekukan dadanya—tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar... Ukurannya pas sekali, seukuran telapak tanganku... Tapi sial. Aku seharusnya tidak memikirkan hal seperti itu tentang adikku, kan? Itu perbuatan yang buruk.
Putingnya menegang di balik atasan crop top hitam yang dikenakannya, memperlihatkan perut ratanya kepada pandanganku yang tak terkendali. Aku harus menahan diri. Aku tidak ingin melihat sesuatu yang lebih 'mengganggu'.
Namun sulit untuk menahan pandangan mataku yang nakal ini agar tidak terus menjelajah lebih jauh, dan pandanganku tertuju pada celana pendek tipis yang dikenakannya... yang, jika
aku membalikkan badannya, aku yakin itu tidak akan menutupi seluruh bokongnya.
Persetan. Apa yang salah denganku?
"Hati-hati. Cepat menjauh dari pecahan gelas ity," aku menelan semua pikiran m***m yang berkecamuk di benakku.
Inilah dilema yang aku hadapi selama tiga tahun terakhir. Aku telah berjuang keras untuk mengendalikan perasaan ini...
Tapi jujur saja aku pun tidak tahu berapa lama lagi aku mampu menahannya.
Tidak, terutama saat dia telah menggerogoti diriku dengan cara yang tak pernah bisa ku gambarkan. "Hai... Kester?" Dia memanggil namaku dengan begitu polos sehingga aku mengepalkan tinju, menahan diri untuk tidak mendekat dan melakukan sesuatu yang mungkin akan ku sesali.
Apapun yang terjadi, aku harus mendapatkan kembali kendali. Aku tidak ingin dia melihatku sebagai...
monster. Dia selalu menganggapku sebagai kakak laki-lakinya... Tapi seandainya saja dia tahu
aku sudah berhenti menganggapnya sebagai saudara perempuan sejak dia berusia enam belas tahun.
Benar, dia sudah berhenti menjadi saudara perempuanku.
Dia sekarang menjadi obsesiku.
Dan yang membuatku penasaran, apa yang akan dilakukannya jika tahu semua rahasia ini?
----