Aku memutuskan untuk menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Ini akhir pekan, dan Kester bilang dia akan di rumah sepanjang hari. Kupikir tidak ada salahnya mencoba—mungkin dengan memasak makanan favoritnya, aku bisa sedikit mencairkan suasana canggung yang masih mengganjal di antara kami.
"Sarapan sudah siap!" sapaku ceria saat dia menuruni tangga.
Senyumku sedikit membeku begitu melihatnya.
Dia berpakaian santai. Sangat santai. Hal yang sudah lama tidak pernah kulihat darinya. Setiap kali pulang, dia selalu tampil formal, setelan rapi, kemeja licin, semua yang diharapkan dari seorang Alpha. Tapi sekarang? Celana training abu-abu yang melorot pas di pinggulnya, kaos tanpa lengan hitam yang memperlihatkan lengannya yang kekar dengan otot-otot yang menonjol setiap kali dia bergerak.
Ya Tuhan...
Melihatnya seperti ini mengingatkanku pada masa kecil dulu, saat dia masih tinggal bersama kami di rumah. Saat dia masih menjadi kakak laki-laki yang selalu melindungiku, bukan sosok dingin yang membuatku takut sekaligus... deg!
Harus kuakui, dia terlihat sangat tampan... Terlalu tampan.
Rambut pendek hitamnya disisir rapi, hanya beberapa helai yang jatuh sedikit di atas alisnya. Jakunnya bergerak-gerak saat bibirnya melengkung membentuk senyum yang tipis.
"Milikku," panggilnya, dan aku tak bisa menahan kehangatan yang menjalar di pipiku.
"Kau tau, kau harus berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Ayolah aku bukan anak kecil, Kester," godaku, berusaha meredakan debar aneh yang ada di salam d**a.
"Alasannya?" jawabnya dingin.
"Kau akan segera menikah. Menurutmu bagaimana perasaan June kalau kau memanggilku begitu?" Aku menyajikan makanan dan duduk di hadapannya.
Wajahnya berubah. Masam.
Aku melihatnya. Raut itu— sulit dijelaskan. Dia bersandar di kursi, jari-jarinya memainkan garpu. Namun... Genggamannya terlalu kuat. Sampai garpu itu hampir bengkok di tangannya.
"Ada apa Kester, kau sakit?" tanyaku hati-hati.
Tatapannya kosong lurus kedepan. Bibirnya tetap terkatup rapat.
"Kes?" panggilku lagi kali ini lebih keras.
Kester selalu punya riwayat mudah marah. Dulu, saat masih remaja, dia sering meledak tiba-tiba. Ayahnya—ayah tiriku—membantunya dengan terapi dan dukungan. Tapi itu tidak berarti dia sepenuhnya sembuh. Hanya... dia lebih pandai menyembunyikannya.
"Kes!" panggilku kali kali ini lebih mirip sebuah teriakan.
Dia mengalihkan pandangan ke arahku. Matanya... kosong. Tapi kemudian, dalam sekejap, semuanya kembali normal.
"Tidak apa-apa, Mine. Ayo makan." jawabnya tenang, terlalu tenang.
Aku menggigit bibir bawahku. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku tahu itu. Tapi aku terlalu takut untuk bertanya. Demi kedamaian dan kewarasanku sendiri, aku memilih diam.
Setiap kali aku mulai mempercayainya lagi, dia selalu... melakukan sesuatu yang membuatku takut.
---
Sekarang, aku duduk di ruang tamu bersamanya, menonton film yang entah apa judulnya. Dia tidak mengizinkanku kembali ke kamar setelah sarapan. Bersikeras kami menonton film yang sudah lama ingin dia tonton bersama.
Tolong...
Film itu hanya menarik setengah perhatianku. Pikiranku terus berputar—tentang pria di sampingku, tentang kejadian tadi pagi, tentang tatapan kosong yang membuat bulu kuduk berdiri.
Dia duduk di sofa, meletakkan kedua kakiku di atas pahanya. Tangannya membelai dan memijat kakiku tanpa ragu. Dulu, ini terasa normal. Dulu, aku bahkan menyukainya. Tapi sekarang?
Aku merasa sangat tidak nyaman.
Dia tampak asyik menonton. Matanya fokus ke layar, sesekali berkedip lambat. Tapi aku tahu—aku tahu—dia sadar betul akan keberadaanku. Tangannya terlalu sengaja, terlalu lama berhenti di titik-titik tertentu.
Aku bergeser sedikit. Kakiku masih terentang di pangkuannya. Aku ingin pergi. Ingin berada di mana saja selain di sini, terjebak dalam ketegangan panas yang tidak seharusnya ada di antara kakak dan adik.
Apalagi sekarang sudah pukul 11:00 pagi. Aku berjanji akan menelepon Jake. Dia pasti sudah menunggu.
Aku tersenyum kecil mengingat percakapan semalam. Jake... dia pria yang baik. Segala yang aku butuhkan dari seorang pria—perhatian, pengertian. Aku tak sabar menunggu hari di mana dia resmi memintaku menjadi pacarnya.
Aku akan bilang ya... Pasti!
Namun senyumku hilang seketika saat tiba-tiba
adegan di TV berubah.
Sepasang kekasih yang sedang berciuman penuh gairah. Kamar tidur remang-remang, dan aku tahu—aku tahu—adegan apa yang akan muncul berikutnya.
Nafasku tercekat.
Semua pikiran manis tentang Jake lenyap dalam sekejap. Pipiku memanas. Aku melirik Kester, berharap dia tidak memperhatikan.
Sialnya, Kester justru tampak sangat menikmati adegan itu! Perhatiannya pada layar begitu intens hingga membuat jantungku berdebar lebih kencang.
Pria di TV merobek gaun wanita itu. Mengangkatnya dengan sangat mudah, lalu membawanya ke tempat tidur.
Tidak. Aku tidak bisa menonton ini...Tidak dengan Kester!
Aku mengalihkan pandangan, mencoba menarik kakiku dari pangkuannya.
Alih-alih melepaskan ku, justru tangannya terasa mengencang tepat di pergelangan kakiku.
"Tenanglah," bisiknya. Suaranya lembut, tapi ada yang aneh... "Ini hanya film, Mine." Lanjutnya.
Aku tertawa gugup. "Aku tahu. Hanya saja... ehm... aku perlu ke kamar mandi."
Dia tersenyum. "Bohong."
Mata hijaunya yang seperti hutan berubah gelap. Lebih gelap dari biasanya. Aku bisa melihat ketegangan di rahangnya, bahunya yang kaku. Dia menyembunyikan sesuatu.
Jari-jarinya kembali bergerak. Membuat lingkaran-lingkaran kecil di kulit kakiku. Lambat, sangat pelan.
A~~! Ini sangat menyiksaku!
"Kau terlalu tegang," ucap Kester lagi dengan senyum lebih lebar. Tapi sungguh senyum nya kali ini membuat seluruh tubuhku meremang.
Panas menjalar dari pipiku ke seluruh tubuh. Aku menatap ke arah lain, tidak berani menatap langsung matanya.
Di TV, adegan semakin intim. Suara napas tersengal. Erangan tertahan. Desahan dua orang dewasa memenuhi ruangan.
Tidak. Tidak. Tidak...!
Aku mencoba bergeser lagi. Bertekad menarik kakiku. Tapi dalam gerakan gugup itu, tumit kakiku menyentuh sesuatu.
Sesuatu yang keras di balik celana training nya.
Aku membeku.
Apa— itu?? ?
Jantungku berhenti berdetak sedetik, lalu berdebar kencang tak terkendali.
Dia ereksi?
Tubuhnya menegang seketika di bawah sentuhan tidak sengaja itu. Genggamannya di kakiku semakin mengeras.
Pandanganku terangkat, dan aku menatapnya dengan ngeri.
Matanya... Ya Tuhan.
Tatapan penuh nafsu. Ini mengerikan! Aku harus kabur sejarang juga.
"Kasmine..." geramnya.
Matanya berubah. Hijau gelap itu memudar, berganti dengan merah menyala.
Serigalanya!
"KESTER!" teriakku, menggunakan seluruh kekuatan untuk menarik kakiku. Aku bangkit, hampir jatuh karena terburu-buru, dan berlari menaiki tangga secepat yang aku bisa. Seolah nyawaku bergantung padanya.
Mungkin memang begitu.
Aku membanting pintu kamar, menguncinya, dan bersandar di sana dengan nafas memburu. Jantungku berdebar begitu kencang hingga sakit. Air mata menggenang di mataku—campuran ketakutan, kebingungan, dan sesuatu yang tidak ingin aku akui.
Kenapa? Kenapa dia... kenapa aku...
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Tidak berani.
Di balik pintu, aku mendengar langkah kaki berat mendekat. Berhenti tepat di depan kamarku.
Diam.
Lalu—bam! Bam! Bam!
"Aku tahu kau di sana, Milikku." Suaranya kembali normal. Tenang. Terlalu tenang. "Buka pintunya."
Aku menggigit bibir, menahan isak tangis.
"Aku minta maaf," lanjutnya. "Itu... tidak seharusnya terjadi. Aku hanya—"
Hanya apa, Kester? Hanya secara tidak sengaja ereksi saat menonton film m***m dengan adik tiri sendiri?
"Buka pintunya, Kasmine. Kita perlu bicara."
Aku menggeleng, meski dia tidak bisa melihat. "Pergi, Kes. Aku... aku tidak ingin bicara."
Hening.
Lama.
Aku hampir berpikir dia pergi, ketika suaranya kembali—lebih pelan dari pada sebelumnya.
"Baiklah. Tapi ini belum selesai, Milikku. Kau dan aku... kita perlu menyelesaikan ini."
Langkah kaki terdengar menjauh.
Aku langsung merosot ke lantai, memeluk kedua lututku, dan menangis dalam diam.
Ada apa dengan kita? Ada apa denganku?
Karena bagian terburuknya—bagian yang paling aku benci untuk diakui—adalah ketika tumitku menyentuhnya, ketika matanya berubah merah karena hasrat...
Aku tidak hanya takut.
Aku juga... bergetar.
---
SUDUT PANDANG KESTER
Aku bersandar di dinding lorong, menutup mata, mencoba mengendalikan nafas yang memburu. Di dalam celanaku, hasratku masih menegang, berdenyut dengan kebutuhan yang tak terpuaskan.
Sialan!
Aku sudah berusaha. Aku bersumpah, aku sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi melihatnya di sana, dengan kaki mulus itu di pangkuanku, suara erangan dari TV memenuhi ruangan...
Aku kehilangan kendali.
Bukan hanya tubuhku yang bereaksi. Itu urusan kecil. Yang lebih parah—lebih memalukan—adalah saat dia menyebut nama June. Gadis yang akan seharusnya aku nikahi beberapa bulan lagi.
Aku tidak peduli pada June.
Aku tidak pernah peduli. Dia hanya bagian dari rencana—aliansi antar pack, sesuatu yang harus kulakukan demi posisiku. Tapi mendengar nama itu dari mulut Kasmine, melihat matanya yang polos bertanya tentang perasaanku...
Aku hampir menghancurkan garpu di tanganku.
Dia tidak tahu. Tidak tahu bahwa satu-satunya wanita yang pernah kuinginkan, satu-satunya yang membuat darahku mendidih, adalah dia.
Adikku sendiri!
Aku sudah berhenti menganggapnya sebagai saudara sejak dia berusia enam belas tahun. Tiga tahun lalu. Saat itu aku tahu, aku tahu—bahwa aku tidak akan pernah bisa melihatnya seperti kakak laki-laki yang seharusnya.
Tapi aku mencoba. Demi dia, aku terus mencoba.
Lalu insiden tadi... sentuhan tidak sengaja itu... hampir menghancurkanku!
Aku berdiri di depan pintunya sekarang, mengepalkan tinju. Bukan karena marah. Tapi karena menahan diri untuk tidak menerobos masuk dan melakukan hal-hal yang akan membuatnya membenciku selamanya.
"Aku tahu kau di sana, Milikku. Buka pintunya."
Tidak ada jawaban. Tapi aku bisa mendengar isak tangisnya yang begitu pelan.
Lihat apa yang kau lakukan padanya, Kester. Lihat bagaimana kau membuatnya menangis.
Tapi bagian lain dari diriku— bagian gelap, bagian Alpha hanya berpikir: Dia menangis untukmu. Tangisannya milikmu.
"Aku minta maaf," kataku, dan itu jujur. "Itu... tidak seharusnya terjadi. Aku hanya—"
Hanya apa? Hanya tidak bisa mengendalikan diri di dekatmu? Hanya memikirkanmu setiap detik setiap hari?
"Buka pintunya, Kasmine. Kita perlu bicara."
"Pergi, Kes. Aku... aku tidak ingin bicara."
Suaranya pecah. Dan hatiku ikut pecah.
Aku berdiri diam beberapa saat, membiarkan keheningan menganga di antara kami. Lalu, pelan, aku berkata, "Baiklah. Tapi ini belum selesai, Milikku. Kau dan aku... kita perlu menyelesaikan ini."
Aku pergi. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Di kamarku, aku duduk di tepi tempat tidur, menatap potret di dinding. Potret yang dia lihat tadi malam—wanita telanjang dengan wajahnya. Dengan tubuhnya.
Dia... Milikku.
Aku menyentuh kanvas itu, mengikuti lekuk pinggangnya dengan ujung jari.
"Dia milikku," bisikku pada diri sendiri. Pada serigala di dalam yang meraung-raung. "Dia selalu milikku."
Dan aku tidak peduli apa pun yang terjadi.
Bahkan jika itu berarti menghancurkan kita berdua.
Hanya saja, apakah dia merasakan hal yang sama?
---