old friend

1928 Words
Aku berulang kali melihat jam tanganku. Sudah sekitar satu jam aku duduk di resto ini. Kemarin, tiba-tiba teman lamaku saat SMA menelepon. Mengajakku bertemu. jadi, di sinilah aku sekarang terperangkap dalam aktivitas yang membosankan. Menunggu. Dari dulu temanku itu terkenal dengan jam karet nya, dan sampai sekarang kebiasaan buruk itu tampaknya belum berubah. Sudah terlambat satu jam lebih dari waktu yang ia janjikan. Dari jauh kulihat seorang perempuan cantik berbusana kerja yang cukup modis berjalan menghampiri mejaku. Aku mengamatinya dengan seksama. Ya, itu memang Ermina, teman SMA-ku. 'Akhirnya si tukang ngaret ini datang juga.' Pikirku. "Hai, Rei, belum lama, khan?" Dan langsung duduk dihadapanku. aku hanya mampu mengangguk dan tersenyum pasrah. "Kamu sudah banyak berubah ya?! sampai-sampai aku hampir tidak mengenalimu tadi." Pujiku. "sekarang aku kerja di salah satu bank, hahaha..." Tampak sekali ada kebanggaan yang keluar dari nada bicara Ermina. Kami memang tidak berhubungan lagi sejak lulus SMA. Sebenarnya, kami juga bukan teman akrab, bahkan dulu kami hanya saling berbicara kalau ada perlu saja. Jadi, aku sedikit kaget saat dia meneleponku kamarin. Seharusnya ada sesuatu hal yang sangat penting sampai-sampai ia menghubungiku dan menjadwalkan pertemuan. Dia memandangiku, lalu dalam beberapa saat matanya beralih memandangi kakiku yang terbungkus sepatu khusus untuk penyandang cacat. "Kakiku masih seperti dulu." Ujarku sambil tersenyum. aku rasa spontanitasku membuat Ermina salah tingkah. Seolah pikirannya baru saja k****a. "Maaf... bukan begitu maksudku," ujarnya terbata-bata. "jadi,... apa kegiatanmu sekarang?" "aku kerja di salah satu perkantoran perusahaan garment milik Aoyama jepang." "wahhhh... keren dong. Dari dulu kamu tanggap di ekskul tata busana dan sekarang kamu bisa ada di dunia itu." "Ya, walaupun agak stress, aku bisa menikmatinya. Aku merasa passion aku disitu. Oiya, ada keperluan apa kita bertemu?" Aku mulai capai dengan basa-basi ini. "Ya ya ya... hampir lupa. Aku dapat undangan pernikahan dari zhu jin, ia akan menikah minggu depan. Tapi yang membuatku bingung nama mempelai wanitanya kenapa bukan namamu? Apa kalian berpisah? sejak kapan?" Selidik Ermina. Aku benar-benar kaget mendengar perkataan Ermina barusan. 'Zhu Jin akhirnya menikah? Dengan gadis itu?' kataku dalam hati. Aku hanya menerawang jauh, berita dari Ermina tidak dapat membuatku berkata-kata. "Rei... Rei..., kamu kenapa?" Paggilan Ermina membuyarkan lamunanku. "Ah... gak..., aku gak pa-pa koq. Ya, kami memang sudah berpisah. Sekitar satu tahun lalu." Aku berusaha memulihkan kesadaranku, berusaha mengembalikan sebagian nyawaku yang sedetik tadi hampir terlepas. "oiya, kau ingat nama mempelai wanitanya?" Tanyaku padanya. Kulihat ia nampak berpikir, mengingat-ingat. "Kalau tidak salah namanya Putria. Tapi Putria siapa aku gak ingat." 'Ya Tuhan. Ternyata benar gadis itu. Gadis yang membuat hubungan kami hancur! Putria Vita. Ya Tuhan, aku harus kuat. jangan biarkan aku meneteskan airmata untuk lali-laki itu. Terlebih disini, dihadapan Ermina.' "Lahh... memangnya kamu gak dapat undangan, Rei?" Aku menggeleng. "huft... sayang sekali ya kalian berpisah. padahal, kalian sudah sangat berusaha agar hubungan kalian tetap lancar. Walaupun sebenarnya aku merasa kalian tidak cocok. sangat sulit pastinya bagi Zhu Jin mempertahankan hubungan kalian. ya, dia sangat populer dulu. sedangkan, kau berbeda. jadi, apa sebenarnya yang membuat kalian pisah?" Aku hanya diam. Aku tidak bisa dan tidak ingin menjawab pertanyaannya. Aku tidak ingin Ermina mengetahui masalah yang sebenarnya. Sudah pasti dia akan menertawakanku. Sejak dulu, Ermina selalu menginginkan Aku dan Zhu Jin berpisah. Karena sebenarnya Ermina menyukai Zhu Jin. Tapi karena Zhu Jin tak pernah menyukainya, akhirnya Ermina tahu diri. Tapi tetap saja Ermina tidak rela menerima fakta bahwa akhirnya Zhu Jin malah memilihku, gadis biasa- biasa saja dan pincang. "Sudahlah, gak pa-pa kalau gak mau cerita. Tapi aku yakin penyebabnya adalah orang ketiga." Ermina mengambil kesimpulan sendiri 'Terserah, aku tidak peduli.' pikirku. Aku tidak mau ambil pusing dengan pemikirannya. Berita ini pasti akan membuatnya bahagia. Ermina selalu berpikir bahwa aku bukanlah gadis yang cocok untuk Zhu Jin. Baginya, Zhu Jin pantas mendapatkan gadis yang lebih dari aku. Yang lebih cantik, populer, bertubuh indah, dan yang pasti normal tidak cacat. "Rei, sebenarnya aku ingin minta maaf padamu." "Buat?" tanyaku heran tanpa ekspresi. "Kau tahu, sebenarnya dulu aku juga menyukai Zhu Jin. sebelum akhirnya dia lebih memilihmu daripada aku, daripada gadis-gadis yang lainnya juga. Aku merasa kecewa saat itu. Tapi sekarang saat aku menerima undangan darinya dan ternyata kalian sudah berpisah, aku merasa kamu tanpa Dia bukanlah Anggreini Lumintang yang seutuhnya. Aku merasa itu sukar diterima. Untuk itu aku minta maaf padamu, tentang kejadian yang dulu." Beber Ermina padaku. Ya, akhirnya Aku memaafkannya sebagai bentuk formalitas. Walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu di maafkan. Selain karena sebenarnya Ermina tidak bersalah, tapi juga semua itu tak akan mengubah keadaan. Lamunanku berputar kembali ke masa lalu. Saat Aku dan Zhu Jin saling mencintai. Saat itu Zhu Jin mengadakan acara, lebih tepatnya pesta di cafe milik salah satu temannya. Tamu yang hadir adalah teman-teman baik zhu Jin, dan tentu saja Aku. Ada orang tua Zhujin, yang juga sedang bersama rekan-rekannya. Bisa jadi mereka rekan bisnis. Ditengah pesta hadir gadis yang Aku kurang familiar. Kulihat gadis itu langsung mendekati Zhu Jin dan mengucapkan selamat. Lalu mereka berbincang akrab. saat akhirnya Aku punya kesempatan bicara berdua, Aku mulai bertanya tentang gadis itu. "Zhu... Perempuan yang tadi,... Siapa?" "Kenapa?" "Cantik banget." Sindirku. "cemburu ya...." Aku yang digoda pura-pura tidak peduli. "Putria Vita, ia anak teman orang tuaku. Kau lihat, mereka yang sedang mengobrol disana." Kata Zhu Jin sambil menunjuk meja paling ujung. Tampak olehku kedua orang tua Zhu Jin bersama beberapa orang. "ehhh... tapi tampaknya orang tuaku berniat menjodohkan kami, lho..." Tambahnya. "Lalu, kalau memang begitu, apa kamu mau menerimanya?" Aku mulai panik. "Yaaaa... mau gimana lagi? Putria cantik. Jadi sulit bagiku untuk menolaknya." Zhu Jin sok serius. Ia suka sekali membuatku kesal. Ia bilang katanya Aku lebih manis saat kesal. Aku merengut. "Aduh manisnya... Anggrekku sayang paling manis saat cemberut gitu." Rayunya. Dan ya, cuma Zhu Jin yang memanggilku anggrek. Sejujurnya agak aneh, tapi entah kenapa aku suka. Dia bilang, itu panggilan sayangnya buatku. "jangan marah ya, cuma bercanda koq. Lagian gimana bisa aku menerimanya. Aku cuma mau hidup bersamamu." Sambil zhu Jin meraih tanganku "Aku gak percaya." Tolakku. Tiba-tiba ia bangkit dari duduknya dan memelukku dari belakang kursiku sambil ciumannya mendarat di pipiku. Diikuti sorakan dari teman-temannya yang hadir. Sungguh Aku benar-benar tersipu saat itu. Jauh didalam hatiku, Aku percaya pada Zhu Jin. Dia tidak pernah mengecewakan aku. Sikapnya selalu manis dan dipenuhi rasa sayang padaku. Tapi sekarang, janji-janji Zhu Jin tidak pernah terbukti. Semuanya menjadi kenangan. Akhirnya Zhu jin memilih Putria sebagai teman hidupnya. kisah kami telah berakhir. *** Setelah pertemuanku dengan Ermina, Aku benar-benar kacau. Aku benar-benar tidak ingin mengingat masa lalu dengan Zhu Jin. setelah saat perpisahan kami dulu, aku benar-benar terpuruk. Aku benar-benar mencintainya, Aku mempercayainya. Tapi aku kecewa, Aku terluka. Aku berusaha mengubur kenangan-kenangan itu dengan menyibukkan diri untuk bekerja. Aku selalu berusaha yang terbaik dalam pekerjaanku, walaupun luka yang ditinggalkan Zhu Jin tetap berdarah-darah. Hal tersebut membuatku semakin trauma, dan lebih memilih tidak mencintai pria lain. Selepas Aku bertemu dengan Ermina, Aku memilih tidak langsung pulang ke rumah. Aku memesan sebuah angkutan online untuk ke suatu tempat. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri. lima belas menit berlalu, akhirnya ada mobil berhenti di depanku. "Dengan mbak Anggreini Lumintang?" Sapa driver itu. aku masuk, 'hmmm... wangi' kuhirup dalam-dalam pewangi mobil itu. membuatku sedikit relaks. "Ya, pak. Saya anggreini. Kita berangkat sekarang, pak." jawabku. "Alamat tujuan sesuai aplikasi ya, mbak?!" "baik pak" *** Setelah mengucapkan salam, Aku langsung masuk ke rumah itu tanpa di persilakan. Aku menuju ke kamar yang tidak begitu luas, berdiri diambang pintu menyandarkan tubuhku. kamar yang ditata begitu apik, hingga tampak ringkas, kasur, lemari, meja, semuanya diatur dengan rapi, ditambah beberapa poster kartun lucu-lucu yg melekat manis di dinding berwarna biru muda. Aku hafal betul tiap detail kamar ini. selama lebih dari lima belas tahun setiap aku merasa sedih atau kesepian, aku selalu datang kekamar ini. Kecuali saat Aku masih kuliah di jogja dulu, aku tidak bisa datang ke kamar ini selain saat kembali ke kota ini, Semarang. Hahaha... sebenarnya bukan kamarnya yang membuatku nyaman. Tapi Rahel, pemilik kamar ini. seorang gadis yang sedang duduk membelakangiku. Gadis ter amazing yang benar-benar kukagumi. Gadis yang apabila sudah berhadapan dengan komputer tidak akan peduli sekelilingnya. seperti saat ini, sudah dua puluh menit namun ia masih belum beranjak. "Rahel..." Panggilku. "Rei..." Ujarnya masih memunggungiku. "Biasanya bilang dulu kalau mau kesini. Ada apa?" "Masih menulis, ya, belum selesai?" Tanyaku sambil melihat komputernya. "Belum, ini baru kulanjutin lagi. baru dapet sedikit juga. Akhir-akhir ini aku cepat lelah, sih. gak bisa duduk terlalu lama. Yang penting, targetku novel ini harus selesai sebelum aku mati." ucapnya sambil mengangkat sebelah alis. Rahel tertawa, aku tertawa. Bagiku tawa Rahel sungguh-sungguh manis. "Why, kau tampak sedih?" Tebak Rahel. aku memutar kursinya, lalu duduk di ranjang Rahel. Kami duduk berhadapan, kupegang jemari tangannya yang putih, lebih tepatnya pucat. Aku diam sebentar, saat di perjalanan tadi Aku begitu menggebu ingin bercerita pada Rahel. Tapi begitu melihatnya, kesedihanku langsung berkurang. Aku menarik napas panjang, mulai kuceritakan apa yang kualami hari ini. Tentang pertemuanku dengan Ermina. Rahel terkejut mendengarnya. "Jadi, Zhu Jin menikah dengan Putria? Jadi, ia meninggalkanmu karena harus menikah dengan Putria? Bukan karena gak cocok lagi seperti yang ia katakan?" Rahel mencoba menganalisa keadaan yang aku ceritakan. Aku mengangguk. "Tampaknya mereka sudah berhubungan lama. Mungkin sebelum kami benar-benar putus. Ia lebih memilih gadis itu dibanding aku. Tapi, keputusannya sudah benar, sih. Semua orang juga akan berpendapat begitu." "Tapi, kupikir ini adalah sebuah kabar yang bagus." "Bagus? Kenapa bisa?" Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya. "Dengan begitu, kau jadi tahu seberapa buruknya Zhu Jin. Bahwa ia tidak setulus yang selama ini kau pikir. Sekarang, kamu gak bisa terjebak lagi didalam masa lalu. Sekarang saatnya kamu harus move on, saatnya kamu harus bangkit. Lupakan Zhu Jin." Jelas Rahel. "Yaa... Aku memang akan lupakan Zhu Jin dan move on. Tapi... semua kejadian ini membuatku yakin bahwa gak ada cinta yang tulus untukku" "Ayolah, Rei.... jangan pesimis gitu dong..." Ponsel Rahel bergetar, sebuah pesan masuk. Senyuman tipis tersunggimg di sudut bibirnya. "Siapa? Senyum-senyum gitu. Hmm... dari Gery ya?" Rahel tersipu malu. "Gimana kalian berdua? Kapan jadian? Jangan lama-lama. Memangnya sampai kapan kalian mau malu-malu kucing?" "Aku? Dan Gery jadian? Gak Mung Kin...!" Bantah Rahel. "Yaa... dia memang baik sih. Tapi ya sekadar baik aja, mungkin lebih ke empati sih. Ia gak mungkin menyukaiku, Rei. Aku tahu diri koq." Aku terdiam. Ya, bukan sekali ini saja Rahel dekat dengan laki-laki. Tapi tidak ada yang pernah berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Tidak ada yang pernah berani membuat komitmen antara mereka. Tampaknya Rahel mulai lelah jika harus berharap lebih. "Hel... apa benar ya, gak akan ada seseorang pun untuk kita?" Aku bertanya tentang apa yang menjadi perenunganku selama ini. "Aaaaku gak tahu..."jawabnya sambil tertawa. Sejenak ia berhenti bicara. "Tapi kalau memang bener-bener gak ada... Aku berharap Tuhan akan melapangkan hatiku agar aku bisa ikhlas menjalani takdir dari-Nya untukku." "Kenapa ya, Hel. Kenapa harus ada orang seperti kita?" Rahel tersenyum, "Aku juga gak tahu juga. Tapi aku yakin Tuhan menciptakan makhluknya ada tujuan masing-masing. Aku merasa jadi 'wakil Tuhan', yang seolah-olah agar orang lain yang lebih sempurna dari kita bisa merasa bersyukur. So, keep calm dan terus bergerak kedepan." "Nyontek dari mana ini, woiii..." Aku nyengir meledek. Rahel melotot lalu memukuliku. Aku menyerah dan mengangkat dua jariku tanda damai. Kami tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD