Rasa Penasaran Yura

1561 Words
Hari seninnya, Bhanu dikagetkan dengan Cecil sudah duduk dibangkunya. Dia sedang mengobrol bersama Dharma sambil menunduk dalam dan terlihat raut sesalnya. Bhanu mengurungkan diri untuk mendekat dan berbalik. Pikirannya tertuju pada kantin, ingin membeli sekantung kresek penuh gorengan di sana sebelum ia kembali menyentuh catatan rumus-rumus fisika untuk UTS di jam pelajaran ke 4 nanti. Ketika dia berbalik, ada Yura berjalan mendekatinya. “Hai.” Sapa cewek yang mengenakan jaket denimnya hari ini. “Hai, keren nih pakai denim. Biasanya pakai cardigan.” Sebab itulah yang selalu Bhanu amati dari Yura. Cewek itu lebih suka tampil nampak manis dan lembut ketimbang tomboy. Meskipun tutur katanya jauh dari kata lembut, namun jaket denim itu justru lebih cocok dengan kontur wajah Yura yang tajam dan cenderung bersikap misterius. “Ah, cardigan lagi di cuci. Ini aja minjem.” “Punya siapa?” “Kakak.” “Lo ada kakak? Cewek apa cowok?” “Abang sih.” “Sama dong.” Sahut Bhanu ceria. “Ikut yuk ke kantin. Mau beli gorengan. Sama sekalian, lo mau denger cerita kita nggak?” Yura langsung paham, “Oh iya, lo ketahuan gimana kemarin?” serunya dan mengajak Bhanu berjalan. “Cecil tiba-tiba aja noleh, terus ketahuan deh. Haha. Kelarnya itu dia maksa Ben untuk pulang soalnya udah ngebosenin banget buat dia?” Yura mengernyit tak paham. “Wow, Taurus beneran nggak cocok sama Gemini ya? Padahal katanya mereka ada punya spark gitu, tapi yah balik lagi. Ini Gemini.” Bhanu melirik seraya mengambil kantung plastic dan mulai memasukkan gorengan. Yura masih setia di sebelahnya juga ikut menarik kantung plastic. Matanya bergerak mencari pisang goreng. “Lo kayak ngomongin diri lo sendiri, Ra.” “Ya karna gue Gemini, makanya gue tahu, Nu.” Ada benarnya, dia paling tahu zodiak itu dan pasti yang paling memahami bagaimana perilakunya. “Emangnya apa yang bikin Cecil bosen? Kalopun mereka punya spark lain di bagian kecocokan Libra dan Leo, mungkin?” “Cecil bilang dia envy sama Ben.” Sahut Bhanu. “Nggak tahu, masa envy karena kepribadian Ben. Katanya, Ben itu asyik, romantis, perhatian tapi kebaikan Ben itu bikin Cecil malah nggak nyaman.” “Aneh.” Yura dengan alisnya hampir menempel itu. “Yah, faktanya begitu. Apa ada hubungan sama zodiak lainnya, Ra?” Bhanu memancing supaya perbincangan ini bertahan lebih lama. Meskipun Bhanu yang hanya mendengar cewek itu mengoceh ke mana-mana tentang zodiak, Bhanu akan senantiasa mendengar informasi seru ini. Sebab, cara Yura bercerita itu begitu ekspresif ketika moodnya sedang bagus. “Bisa jadi, tapi tergantung apa yang bikin Cecil nggak nyaman. Apakah Ben terlalu banyak bicara dan memperlakukan Cecil secara berlebihan? Atau Ben yang benar-benar kelihatan caring sama Cecil yang mana nggak semua orang suka dikasih perhatian lebih, bukan? Kadang, leo itu nggak mesti suka jadi pusat perhatian. Mereka hanya mau perhatian secukupnya saja, ya yang sesuai kadar mereka.” Katanya. “Ah, atau karena Cecil punya Taurus makanya dia males diajakin keluar sama Gemini? Gemini kan sukanya kemana-mana.” “Lo suka kemana-mana dong?” celetuk Bhanu. Yura malah menunjuk Bhanu dengan capitan gorengan di tangannya. “Ini kita lagi ngomongin Ben dan Cecil ya? Jangan merembet ke gue.” Katanya galak. “Fokus, Nu.” Bhanu menghela napasnya, sepertinya sisi misterius Yura itu memang belum bisa didobrak bahkan dengan pertanyaan-pertanyaan random. “Tanya doang, tapi lo ada benarnya. Cecil lebih suka main sama kita-kita aja sih. Yah, mainnya nggak tiap hari juga. Tiap weekend dan kalopun saat-saat tertentu. Nggak tahu, pokoknya Cecil nggak mau aja diajakin jalan tiap hari.” “Ben itu kenapa sih kok kayak kejar target banget, kayak seminggu itu harus dapet pacar. Lo nggak tahu kelakuan dia selama ini?” “Dih, boro-boro. Mending gue main-belajar sama temen-temen gue ketimbang ngawasin perilaku jatuh cinta orang-orang famous.” “Tapi, lo juga suka liatin orang pas diem di pohon mangga, kan?” Bhanu menyudahi memilih-milih gorengan dan berbalik untuk duduk setelah membayar gorengannya tadi diikuti dengan Yura. “Yura, gue diem dan merekam semua itu karena gue suka menyendiri di tengah keramaian aja. Nggak perlu gue tahu kelakuan orang satu persatu. Gue bukan orang sensus ya?” “Tapi, lo aware sama kondisi sekitar lo. Kayak misalnya perbincangan kita soal ekonomi lingkungan—yang belum lo lanjutin,” Bhanu tertawa mendengar Yura nampak kesal karena keduanya tidak sempat mengobrol banyak soal ini. Ah, Bhanu bisa meminta waktu sehariannya Yura untuk berbincang-bincang dengan cewek ini. “tandanya, lo pasti tahu dong perilaku orang-orang itu. Masa lo nggak cari tahu sih? Yah, gue tahu lo ada kendala untuk membaca buku, dan lo nggak asal ngomong juga, kan? Lo keliatan kayak udah baca buku banyak karena banyak tahu juga tentang ini.” “Kenapa lo sangat tertarik dengan manusia? Maksudnya, kehidupan manusia? Seperti sifat-sifat dan perilakunya? Lo kenapa masuk IPA? Kenapa nggak IPS?” “Soalnya kalo masuk IPS cuma bisa masuk jurusan IPS, sedangkan IPA, gue bisa masuk kemana aja semau dan serandom gue nanti.” Bhanu terkekeh, “Gue nggak baca banyak buku, gue hanya dibacakan banyak buku. Kadang mama, kadang abang gue. Jadi, kalo menurut lo itu gue pinter, percayalah itu berkat mereka berdua.” Yura terdiam. “Lo lagi suka apa akhir-akhir ini, Nu?” Bhanu terjingkat. Matanya mendelik. Bibirnya kelu menjawabnya. Entah mengapa, ada sesuatu yang menjalar aneh. Rasanya hangat dan menyenangkan. Dia ingin melompat sekarang namun jangan, akan terlihat aneh jika dia lakukan sekarang. Lagi suka apa akhir-akhir ini? Jawabannya tidak tahu. Tapi, ketika satu pertanyaan itu ditujukan memang hanya untuknya, bukan sebuah pertanyaan dari topik-topik biasa mereka itu, mampu membuat Bhanu merasa seperti tengah mendapat perhatian dan rasa ingin tahu Yura. Kali ini keingintahuan Yura tentang dirinya sendiri. “Um, nggak tahu. Gue bingung sih lagi suka apa.” katanya agak tersipu, namun berusaha keras dia tahan-tahan. “Oh, kirain lagi baca buku apa gitu. Siapa tahu, lo mau gue buat bacain jadinya kita bisa cari tahu bareng.” Yura terkekeh dengan manisnya. Bhanu menggigit bibirnya, merasa malu karena halusinasinya sendiri. “Buku-buku itu nggak akan habis kita bahas ketika jam istirahat sekolah, Ra.” Sahut Bhanu. “Lagian itu bacaan di luar pelajaran sekolah. Nggak terlalu penting dan butuh waktu luang yang benar-benar luang untuk dibahas.” Ia agaknya kecewa sebab Yura lebih suka berbicara mengenai topic mereka ketimbang dirinya. Atau, kalau berbicara tentang Bhanu pun pasti soal zodiak-zodiak. Apa jadinya jika tidak ada zodiak-zodiak itu? Akankah perbincangan mereka tidak akan seseru itu? “Tapi, itu penting banget, Nu. Kita bisa memahami itu dan selangkah lebih maju dari orang-orang seusia kita. Lo tahu nggak, kadang gue berpikir kalau sekolah itu sangat-sangat membosankan. Karena yang kita pelajari sudah ditakar dengan standar dan waktu. Waktu itu yang nggak bisa membuat kita eksplor lebih tentang materi karena ada tenggat waktu ujian. Ada batasan-batasan materi juga.” “Yah, namanya juga mata pelajaran sekolah. Beda nanti kalo lo kuliah. Bisa ada, biofisika, biokimia, dan banyak gabungan 2-3 mata pelajaran sekolah dan aspek kehidupan ini. Yang bikin segalanya terasa lebih rumit kalau di jurusan saintek maupun humaniora. Gue melakukan ini supaya besok pas kuliah nggak kaget aja sama culturenya yang bakalan bedaaaa banget sama sekolah.” “Yah, itu ada benarnya juga, Nu. Makanya gue bilang, sekolah itu udah membosankan untuk gue. Belajarnya gitu-gitu aja.” “Lo ikut olim aja dah mending.” “Dih, ogah gue.” “Loh, kenapa? Lo kan pinter baca semua hal, Ra. Apa salahnya ikut olim? Siapa tahu potensi keingintahuan dan kepintaran lo itu bisa tersalurkan, jadi bikin sekolah nggak membosankan karena lo harus menerima materi yang ditakar sama kurikulum.” “Ih, bukan harus lomba juga kali, Nu. Nggak bisa gue tuh kalo ikutan lomba. Haha.” Katanya cengengesan. “Gue itu belajar karena ingin tahu aja, bukan buat berkompetisi.” “Yah, sayang banget.” “Nggak semuanya harus dijadikan kompetisi. Gue cuma mau tahu aja. Kayak gue tahu tentang zodiak-zodiak bukan berarti gue mau jadi astrolog atau peramal atau penulis rubik astrologi di portal-portal berita dan majalah. Gue mengenal zodiak untuk memahami diri sendiri dan sedikit memahami orang-orang di sekitar supaya gue bisa filter dengan siapa gue bisa berteman. Gue suka melihat pergerakan dan perilaku orang-orang itu sekedar ingin memastikan bahwa realita di masyarakat itu apakah sama persis dengan yang di buku—yah meskipun belum banyak buku yang gue baca—tapi tetep aja, gue suka aja mengamati orang-orang.” Bhanu mengangguk diam, mendengarkan dan memahami keinginan menggebu Yura yang tak kurang lebih sama dengan dirinya, “Dan, gue juga penasaran bagaimana dunia spiritualitas manusia. Nggak hanya bagaimana hubungan mereka dengan manusia lain, tapi juga alam dan Tuhan.” Bhanu tertegun mendengarnya. “Makanya, lo cerita dong, ekonomi lingkungan kemarin.” Bhanu tertawa terbahak-bahak, sebab dia kira Yura itu sudah mencari tahu banyak. Nyatanya belum. “Ya udah, besok deh.” “Besok mulu.” “Pulang sekolah.” “Nggak bisa.” “Ya udah kalo nggak mau.” Yura hanya merengut lalu raut wajahnya nampak merayu, “Istirahat aja kali.” “Lo pulang sekolah ada les, kah? Sibuk bener perasaan nggak mau diajak main. Padahal cuma ngobrol di bawah pohon mangga aja kok, Ra. Nggak bakalan kemana-mana.” Yura hanya diam seribu bahasa, entah apa yang gadis itu sembunyikan hingga ajakan Bhanu belum juga mendapat jawaban. “Sampai jam 4 aja ya? Masih minggu UTS nih.” “Ok.” Sama saja hanya mengobrol satu jam.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD